Candi Kadisoka
Kamis, 05-Mar-2009, 07:37
[ 2 Komentar ]
Dari sekian banyak artikelku mengenai candi, hanya ada dua artikel yang meraih posisi teratas di hasil pencarian situs via Google (internasional) yaitu
Candi Merak dan
Candi Karangnongko. Oleh karena itu aku berambisi untuk membuat artikel candi lain yang bisa meraih posisi teratas seperti itu, alhasil candi-candi yang kuliput harus candi yang tidak pernah diketahui orang sebelumnya. Dan aku yakin, seyakin-yakinnya kalau suatu saat nanti artikel mengenai candi ini juga akan bertengger di posisi puncak hasil pencarian situs via Google. Huehehehe.
Hanya di Kalasan kok
Suatu hari ketika lagi buka-buka situs internet, secara nggak sengaja aku menemukan
foto yang obyeknya candi. Candi yang dimaksud berlokasi tidak jauh dari kota Jogja, cuma di Kec. Kalasan kok. Penasaran dan ditambah pingin tantangan, hari Senin sore (02/03/2009) aku nyepeda menyusuri selokan mataram dari UGM hingga sampai di Kec. Kalasan. Letak candi ini sebenarnya nggak jauh-jauh amat dari
Candi Sambisari, kalau menggunakan kendaraan bermotor, aku berikan panduannya deh:
Tetangga candi ini empang pemancingan.
Suasananya sudah asri, baru jadi Desember 2008.
Bahkan, papan nama candi belum ada tulisannya!
-
Dari kota Jogja, ikuti saja Jl. Solo hingga menjumpai Akademi Angkatan Udara Yogyakarta. Selanjutnya, ikuti saja panduan dari papan petunjuk hijau yang menunjukkan arah ke Candi Sambisari. Pokoknya dari kota Jogja, pergilah ke Candi Sambisari. He3.
-
Di Candi Sambisari, silakan liat-liat kalau belum pernah kesana. Kalau sudah jenuh, ikuti jalan mengelilingi Kompleks Candi Sambisari yang nanti mengarah ke selatan. Jalan itu akan mengarah ke dusun Kadisoka. Kalau bingung tanya saja warga sekitar, petugas candi, atau pak angkringan deket candi. Tanyanya, "Pak, jalan ke dusun Kadisoka, yang banyak pemancingannya itu, ke arah mana ya ?".
-
Di dusun Kadisoka, tepatnya di Jl. Kadisoka, anda akan menjumpai pemancingan di sisi kiri (arah selatan) jalan. Disana kalau anda bertanya ke orang-orang, "Pak/Bu, Candi Kadisoka ke arah mana ya ?", hampir semua akan menjawab "Wah ndak tau ya" atau "Ikuti saja jalan tanah ke selatan di pemancingan ini, lurus saja, nanti ketemu candinya".
-
Jadi, kalau mengikuti jawaban yang terakhir bagi anda yang mengendarai roda empat harap parkir di pemancingan itu, tarifnya Rp 2.000. Soalnya, jalan menuju candi adalah jalan tanah, becek, dan sempit. Candi Kadisoka secara administratif berlokasi di Dusun Kadisoka, Desa Purwomartani, Kec. Kalasan, Kab. Sleman, Yogyakarta.
Hanya Hobi atau Ambisi?
Nasibku sial, penjaga candi sudah pulang dan lokasi candinya dikunci (walau pintu pagarnya cuma dililit kawat sih), karena nggak enak kalau nerobos masuk begitu saja aku memutuskan untuk kemari kesana esok hari. Hari Selasa pagi (03/03/2009) aku kesana lagi dan lagi-lagi nggak ada penjaga candinya! Wah, masak besok mesti kemari lagi? Capek sekali nyepedanya!
Kalau aku ngoyak cewek aja bisa, kenapa ngoyak batu tua yang diem-ditempat-nggak-gerak aja nggak bisa?
Pak Pardal dan putra beliau.
Lokasi dipenuhi dengan lubang-lubang galian.
Kaki Timur Candi Kadisoka.
(Klik Untuk Memperbesar)
Maka, dengan ambisi meliput Candi Kadisoka aku bertanya ke warga sekitar mengenai penjaga candi dan aku disarankan untuk pergi ke Candi Sambisari. Eh, ndilalah anak dari penjaga Candi Kadisoka bekerja disana dan dengan demikian aku bisa mewawancari penjaga Candi Kadisoka tentang seluk-beluk candi ini. Nama beliau
Pak Pardal, usinya mungkin 70-an. Sebelum bertugas di Candi Kadisoka beliau pernah ditempatkan di
Candi Kedulan dan
Candi Banyunibo. Mungkin karena faktor usia, beliau dipindah-tugaskan kemari karena dekat dengan kediamannya di dusun Sidokerto. Menurut Pak Pardal, candi ini ditemukan secara tidak sengaja oleh penambang pasir di akhir tahun 1999. Semenjak tahun 2000, Pak Pardal ditugaskan disini. Pemugaran candi ini terkendala masalah (biasalah) dana. Selain itu candi ini baru dipagari dan dibangun bilik untuk penjaga pada bulan Desember 2008.
Hanya ada Kaki Candi
Candi inipun belum sepenuhnya terpugar. Yang kelihatan baru sisi timur kaki candi. Aku menduga dulu pihak BP3 mencoba menggali sisi timur untuk menemukan pintu masuk candi, karena Candi Sambisari yang terdekat juga menghadap timur. Tapi ternyata di sisi timur tidak ditemukan apa-apa, tapi apa lantas candi ini menghadap ke barat? Melihat luas kaki candi yang cukup kecil, kemungkinan bentuk utuh candi ini tidak jauh berbeda dari
Candi Gebang. Kedalaman tanah kaki candi ini tertimbun hanya sekitar 1 meter, dan itu berarti batu-batu candi lain sulit untuk terkubur lebih dalam. Selain kehilangan batu-batu utama, di sekitar candi ini juga tidak ditemukan arca ataupun batu berelief. Singkat kata yang ada disini hanya kaki candi saja. Tapi kalau melihat daerah sekitar candi yaitu pemancingan yang pasti ada aliran sungainya, candi ini menurutku adalah candi Hindu.
Candi ini sepi pengunjung, menurut beliau hanya mahasiswa UGM yang belajar struktur tanah saja yang sering kemari. Tapi, kata beliau Pak Sultan Hamengkubuwono X juga pernah kemari. Karena sepinya pengunjung, beliau menyambi kerja sebagai buruh tani selepas bersih-bersih area candi di pagi hari. Pihak BP3 sendiri datang hanya sebulan sekali, itupun karena memberi gaji Pak Pardal. Karena itu dengan aku menulis artikel ini, aku berharap keberadaan candi ini terkuak lebih dakan ke masyarakat umum. Yah, karena candi ini berjarak hanya sekitar 1 kilometer dari Candi Sambisari.