Si Kuncup (Ipin) Menggapai Mimpi
Sesuai balas-budi dariku yang kujanjikan kepada
Ipin, karena aku
selalu-senantiasa-setiap saat mengganggu dia selama kuliah empat setengah tahun di UGM, maka aku mempersembahkan dirinya sebuah artikel tentang pendadarannya. Aku beri Ipin kebebasan untuk menentukan judul artikel itu, tapi
manusia tak tahu diuntung itu memilih judul yang panjaaang,
Si Kuncup yang Berusaha Menggapai Mimpi. Karena terbatasnya jumlah karakter untuk judul artikel dan yang paling utama adalah emosiku yang sangat-amat terbatas, maka aku singkat saja judulnya jadi seperti yang bisa anda lihat.
Sudah Lama
Bisa tertawa juga dia pas dieksekusi.Mendengar Ipin akan pendadaran, aku berharap semoga urusanku dengan tugas akhir Ipin yang berjudul
Modul Perkalian bisa cepat selesai. Kenapa bisa begitu? Karena dengan posisiku sebagai
mahasiswa-maniak-aljabar yang tersisa di Prodi Matematika, Ipin bergantung kepadaku untuk membantu mengerjakan tugas akhirnya. Apalagi dosen pembimbing Ipin,
Bu Indah, adalah juga dosen pembimbing tugas akhirku. Aku sudah tidak bisa menghitung berapa banyak ia meminta bantuanku, dari mulai memberiku pe-er sampai bermalam di rumahku, semuanya ia lakukan untuk menghasilkan karya sempurna sebuah tugas akhir miliknya. Jujur, tidak setiap saat aku bisa membantu Ipin dan tidak setiap saat emosiku siap menghadapi lontaran kata-kata yang terciprat dari mulutnya. Tapi aku berusaha membantu, walau terbatas, untuk itu aku meminta maaf Pin apabila saat aku membantumu ada sikapku yang tidak berkenan bagimu.
Di minggu ke-2 Desember tahun 2008, Ipin dengan menggebu-gebu menyatakan akan mengajukan pendadaran ke tata usaha jurusan matematika. Aku penasaran sehingga suatu saat aku menyempatkan untuk melihat tugas akhirnya.
Ipin belum siap untuk pendadaran
Hal itu bukan tanpa alasan karena ada banyak celah di tugas akhirnya. Ada banyak kalimat-kalimat yang tidak jelas. Saat aku bertanya kepadanya, ia banyak menjawab tidak tahu. Wah, bagaimana bisa Ipin pendadaran dengan kondisi tugas akhirnya yang seperti ini. Waktu itu aku agak marah-marah dengan Ipin, tapi setelahnya aku mendengar kabar bahwa Bu Indah juga ikut marah-marah, yah...setidaknya di urusan marah-marah aku tidak sendiri. Hehehe.
Padahal Ipin kalau di kelas
nggak pernah mau nulis di whiteboard.Aku terakhir kali mengkoreksi tugas akhir Ipin pada tanggal 19 Desember dengan mengirimkan koreksi via e-mail. Tidak semua tulisannya bisa kukoreksi memang, tapi aku berharap Ipin bisa mengoreksinya sendiri dengan kemampuannya sendiri. Tanggal 29 Desember
aku berkunjung ke kosnya Ipin, niatnya sih mau ngangguin tapi malah disodorin file presentasi pendadarannya. Aku dengarkan saja ia berkicau mempresentasikan tugas akhirnya di depanku. Dari apa yang ia sajikan di presentasinya...yah...akhirnya kamu siap untuk pendadaran Pin.
Penguji dan Penonton
Ki-Ka: Pak Atok, Pak Ari, Pak Budi.Hari itu hari Rabu (31/12/2008), hari terakhir di bulan terakhir di tahun 2008, semoga hari itu bukan terakhir kalinya aku menyaksikan Ipin. Semoga ia tidak tewas terbantai oleh trio dosen penguji,
Pak Budi,
Pak Ari, dan Pak Atok. Plus dua dosen pembimbing tugas akhir, Bu Indah dan
Pak Sutopo. Di samping para dosen penguji, ruang sidang juga dipenuhi oleh mahasiswa matematika, yaitu Mas Tetet, Mas Indra, Mas Zaki, Joko, Abi, Fitri, Willy, Ervan, Adif, dan seorang wanita...entah...mungkin mahasiswi S2 bimbingannya Bu Indah. Jam 12.00, eksekusi dimulai.
Skor Buat Ipin
Secara garis besar, kalau ada pendadaran Ipin diberi skor dari 0 sampai 100, aku memberi nilai
85 untuk Ipin. Tidak mengecewakan, malah lebih bagus dari saat
pendadarannya Gunawan. Kenapa aku bisa bilang begitu, ini alasan utamanya:
-
Ipin terlihat cukup lancar saat mempresentasikan tugas akhirnya. Walau tidak jarang ia kehilangan kata-kata, tapi ia bisa segera kembali ke alur presentasinya.
-
Ipin memberikan perlawan yang cukup berarti untuk pertanyaan dari tim dosen penguji. Aku tidak mendengar kata ”tidak tahu” terlontar dari mulutnya. Tapi menurut Joko, ia mendegar kata itu terucap satu kali. Yah, tak apalah.
-
Pendadaran Ipin tidak membosankan! Padahal aku paling tidak betah lihat pendadaran. Makanya aku sudah membawa bekal novel dari rumah. Tapi saat sesi tanya-jawab, perhatianku teralihkan kepada aksi Ipin di panggung pendadaran. Ini diluar dugaanku.
Joko! Abi! Jangan mesum di ruang sidang deh!Akan tetapi karena Ipin kuberi skor 85 dan bukan 100, maka ini alasannya mengapa Ipin kehilangan poin 15.
-
Ipin hobi menyingkat kalimat di tugas akhirnya. Yaitu, Ipin menggunakan satu kalimat untuk menyatakan lebih dari satu maksud. Hal ini membingungkan dosen penguji terutama Pak Atok.
-
Ipin kurang menguasai bidang matematika di luar bidang yang ia gunakan di tugas akhirnya, padahal beberapa pernyataan di tugas akhirnya bersumber dari bidang tersebut. Saat ditanya mengenai bidang tersebut, Ipin kebingungan.
-
Apa yang Ipin tulis di tugas akhirnya, terutama pada pembuktian pernyataan, tidak betul-betul dikuasainya karena Ipin hanya menjiplak dari literatur tanpa memahami. Jadi kalau ada bukti yang salah, ia tidak tahu dimana salahnya.
Perlawananmu
Tapi bagaimanapun Ipin, kamu tetap kuberi skor 85 karena bagi kami, para penonton, hanya menginginkan pendadaran yang tanpa kebosanan ketika menyaksikannya. Walau ada banyak koreksi untuk tugas akhirmu, tapi perlawanan yang kamu berikan selama
lebih kurang 2,5 jam cukup membuat senang hatiku. Bukan karena kamu kebingungan, tetapi karena kamu berusaha keras mempertahankan tugas akhirmu, mengeluarkan semua ilmumu, dan membuktikan kalau dirimu pantas disebut sebagai mahasiswa Prodi Matematika UGM. Satu hal yang baru kali ini kusaksikan darimu di hari terakhir di bulan terakhir di tahun 2008.
Selamat Ipin, kelak kemudian hari kamu bisa mencapai cita-citamu, jangan pesimis, asalkan kamu mengeluarkan semua yang terbaik dari dirimu. Amien.
---karena aku selalu-senantiasa-setiap saat mengganggu dia selama kuliah empat setengah tahun di UGM,---komentar : untung aku orangnya sabar...hemmm :P
---Apalagi dosen pembimbing Ipin, Bu Indah, adalah juga dosen pembimbing tugas akhirku.---komentar : dosen pembimbing kita sama...oh. eh, fotoku yang atas sendiri kok menakutkan ya?
---Aku dengarkan saja ia berkicau mempresentasikan tugas akhirnya di depanku. ---komentar : sial, aku cuma berkicau saat itu. btw fotoku kok keren banget yang ini ya? cool banget deh.
---Tapi menurut Joko, ia mendegar kata itu terucap satu kali. Yah, tak apalah.---komentar : Joko hanya mengigau itu, Wisna. dia terlalu lelah, soalnya baru datang dari semarang, trus langsung datang ke ruang sidang menonton aku.
---Makanya aku sudah membawa bekal novel dari rumah. ---komentar : keterlaluan !!! untung penampilanku cukup memukau. amiin. semoga aku bisa memenuhi harapan-harapanmu itu bro...
yah begitulah Pin...terima kasih sudah mau memberi komentar. Kalau mau pendadaran lagi bilang-bilang ya, hehehe.
ipinRabu, 31-Desember-2008, 22:13
akhirnya...
bertambah juga yang selesai didadar...
pendadaran itu buat semua mahasiswa adalah kejadian yang pasti, kalo menurutku sama seperti ajal yang datang menjemput. Bedanya "ajal" yg satu ini menjemput kita dari bangku kuliah. Semuanya hanya tinggal menunggu waktu saja toh?
ekaSabtu, 03-Januari-2009, 13:55
kayaknya temen mas wijna tuh lucu dan aneh ya ;D.
kapan mas wijna sidangnya?
Jangan salah! Anak-anak matematika 2004 tu hampir semuanya aneh-aneh. Hehehe. Sidangku tu pas aku ulang tahun. Coba aja deh liat artikel yang judulnya Ulang Tahun Berdarah.
tiaSelasa, 17-Maret-2009, 14:30
Iiiih, aku dibilang lucu dan aneh ya?
padahal aku kan cute n cakep!
Udah Pin jangan ge-er gitu dunk...