Arsene Wenger, Cinta, dan XY
Arsene Wenger yang mewakili kubu sepak bola dan XY yang mewakili kubu cinta, sebetulnya adalah dua hal yang bertolak belakang. Yakni, Jaka Sembung naik ojek, nggak nyambung jek!
Walau begitu, kalau mau dirunut-runut, bakal ada saja hubungan yang bisa disangkut-pautkan antara Arsene Wenger dan cinta. Mungkin inilah akibat dari falsafah “othak-athik-gathuk” yang membuat nalar dan logika mampu menembus batas kemustahilan.
Jadi, apa hubungannya manajer klub sepak bola Arsenal itu dengan cinta?
Blas ora ono hubungane!
Ada kabar, Arsene Wenger diganjar predikat manajer klub terbaik selama bulan Februari 2012 di Liga Premier Inggris. Walau begitu, publik tak serta-merta setuju.
Pasalnya, Arsenal harus menelan kekalahan telak 4-0 melawan AC Milan pada per delapan final Liga Champion. Arsenal pun juga harus tersingkir dari Piala FA, kalah 0-2 atas Sunderland.
Satu-satunya klaim bahwa Arsene Wenger berhak menyandang predikat manajer klub terbaik adalah kemenangan Arsenal 7-1 melawan Blackburn Rovers dan 5-2 melawan Totenham Hotspur.
Dari kabar yang beredar ini, ada beberapa kesimpulan yang bisa ditarik.
Satu, setiap manusia itu pasti tidak ada yang sempurna.
Dua, gelar yang disandang oleh seseorang itu tidak ada hubungan dengan kesempurnaan dirinya.
Lantas, apa hubungannya dengan cinta? Juga dengan X dan Y?
Begini.
Bilamana X cinta pada Y dan Y juga cinta pada X itu suatu hal yang sangat mungkin terjadi, sebab cinta dari dulu memang sukar dinalar logika.
Yang dicermati adalah, jika X (dalam hal ini pria) yang punya rekam jejak pernah menjalin hubungan dengan beragam wanita, ingin menemukan Y (dalam hal ini wanita) yang sesuai. Syukur-syukur jika lantas diganjar predikat terbaik misalnya, seperti yang diterima Arsene Wenger. Sementara itu, mayoritas publik bila menilik rekam jejak X, mungkin tak serta-merta setuju.
Sementara itu, mayoritas publik menaruh iba terhadap Y. Berharap bahwa Y akan menjadi tempat berlabuhnya cinta X untuk yang terakhir kali. Hingga, cukup sampai di sini saja prahara cinta X.
Jadi, benar kan tak ada hubungannya antara Arsene Wenger dan cinta?
Ini hanya masalah ketidaksempurnaan saja, sebagai seorang manusia.
Bagaimana dalam ketidaksempurnaan itu seorang manusia berjuang dalam karirnya sebagai manajer dan juga seorang manusia dalam hidupnya untuk mencari cinta. Sementara itu pun publik juga tak luput dari ketidaksempurnaan. Di mana anugrah predikat terbaik, pastilah tak sepenuhnya didasari oleh pertimbangan yang sempurna.
Satu yang pasti adalah rekam jejak.
Sebuah catatan ketidaksempurnaan yang semestinya dapat dipergunakan untuk mengoreksi diri menjadi pribadi yang menuju sempurna.
Dan apa itu koreksi? Yang jelas bukan berpindah klub atau berpindah cinta ke hati yang lain.