Diterbitkan:
Kamis, 23-Februari-2012, 19:31 WIB

Dilihat:
132 kali

Jakarta Kota Terpaksa

Dari atas jalan layang, dalam sebuah bus yang membawaku dari Kalideres menuju Harmoni, aku menatap pemandangan yang terhampar di luar jendela.

Tak ada satu pun gedung yang menjulang tinggi. Yang ada hanya rumah-rumah yang saling berdempetan satu sama lain.

Lantas di mana gedung-gedung nan megah itu berada? Sudah tentu, di Sudirman atau Kuningan. Yang mana, dua kawasan itu kerap dijadikan contoh kepada para pendatang mengenai kemahsyuran Ibukota negara kita ini.

Selebihnya?

Kampung

Hampir setiap kali yang melintasi Jakarta berpenampilan serupa: hitam, kotor, busuk! Adapun perumahan-perumahan masih didominasi oleh rumah-rumah kampung yang letaknya di gang, ukurannya kecil, dan mayoritas dihuni oleh warga berpenghasilan rendah.

Jadi, sepertinya amat susah untuk menyebut Jakarta sebagai kota metropolitan, kota termahsyur di negara kita.

Aku bertanya dalam hati. Apa gerangan yang mengakibatkan ini semua? Dan jawaban yang dibisikkan di telingaku adalah, bahwa segala sesuatu yang ada di Jakarta itu serba terpaksa.

Mungkin, mungkin, dan mungkin, Jakarta itu sebenarnya kampung. Kampung itu mirip desa, tapi tanpa sawah. Warganya masih memiliki mental hidup dalam rimba, yakni punya prinsip segala sesuatunya boleh dilakukan asalkan ... (silakan isi sendiri).

Jadi, oleh karena Jakarta itu adalah ibukota (yang mana "Ibu" selalu dicari oleh "anak-anaknya"), maka Jakarta dipaksa untuk menjadi kota metropolitan.

Karena adanya paksaan itulah, terjadi ketidaksiapan di segala bidang. Ketidaksiapan itu mewujud menjadi kesemerawutan yang cukup mudah kita temui. Sebagai contoh, ketidakpedulian pada lingkungan, hunian horizontal yang kian terbatas, transportasi yang tidak nyaman, dan lain sebagainya.

Lucunya, banyak warga di Jakarta yang tahu itu, akan tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti yang terucap oleh penumpang di dalam bus yang aku tumpangi itu,

"Kalau saja ada kota di Indonesia, yang menawarkan kenyamanan yang lebih baik dari Jakarta, dari sisi lingkungan, transportasi, hunian, dan pekerjaan. Saya yakin, banyak orang memilih untuk pindah ke kota itu dibandingkan harus di Jakarta.”

Yang mungkin ini semua menjadi refleksi pada kita, tentang mengapa beberapa di antara kita masih membutuhkan Jakarta. Mungkin, jawaban yang akan terucap adalah,

"Habis mau bagaimana lagi? Karena ... (silakan isi sendiri)"