Nikmatnya Angkringan
Konsumsi yang serba terbatas di kehidupan KKN, memaksaku untuk mencari alternatif lain dalam hal penyediaan camilan. Karena aku kurang begitu suka dengan camilan-camilan produksi pabrik, bila aku pergi ke pasar aku selalu menyempatkan diri untuk membeli gethuk atau jajanan pasar lainnya. Akan tetapi camilan-camilan tersebut hanya bisa diperoleh di pagi hari. Selepas sore, angkringan-angkringan yang ada di Desa Kebondalem Kidul menjadi pelampiasan tempat aku mencari cemilan. Sebenarnya, hanya ada dua angkringan di Desa Kebondalem Kidul dan kedua-duanya sudah tabah dengan kelakukan personil-personil KKN yang selalu putus urat malunya ketika sedang ngangkring.
Angkringan Pak Kidi
Angkringan ini terletak di perempatan RW III (Banjarsari) dekat SDN 1 Kebondalem Kidul. Jarak angkringan ini ke Rumah Banjarsari tergolong dekat, sekitar 20 meter. Karena itu tidak jarang angkringan ini dipakai sebagai tempat ngumpulnya perjaka-perjaka yang tinggal di Rumah Banjarsari. Pemilik angkringan ini adalah Pak Kidi yang bukan merupakan warga asli Desa Kebondalem Kidul. Kadangkala Pak Kidi juga digantikan oleh anak lelakinya. Angkringan ini buka dari jam 16.00 sampai jam 23.00 atau jika seluruh dagangan sudah ludes terjual.
Menu di angkringan ini ada nasi kucing (lauk sambal atau tempe), tempe goreng, tahu goreng, bakwan, kepala ayam, sate usus, dan kadang kala juga ada nasi kucing goreng. Oh ya, angkringan ini dikenal juga di kalangan personil KKN sebagai angkringan 3 juta. Begini ceritanya, suatu malam Gunawan, Catur, dan aku menghabiskan malam di angkringan ini.
Gunawan : Pak udah. Tadi es teh, nasi kucing, terus tempe goreng.
Catur : Mas Gun, tadi gorengannya cuma segitu?
Gunawan : Iya, emang kenapa?
Aku : Eh tadi kan lu ngambil bakwan, Gun
Gunawan : Eh, itu kan gw kasih ke elu! Elu yang minta tolong gw ngambilin.
Aku : Tapi ngambil kan?
Gunawan : Eh, gw cuma makan tempe satu!
Aku : Nah kan, jadi berantakan...jadi berapa gorengan yang lu makan?
Gunawan : Cuma satu! Tempe doang! Jadi berapa Pak?
Pak Kidi : Tiga juta...
(Gunawan bengong, Catur tersedak minuman, Aku diam aja. Terus habis itu ya ketawa semua.)
Catur : Bapaknya mabuk...
Gunawan : Nih pak saya bayar pakai 5 juta...
(ngeluarin uang 5 ribu)
Angkringan Bu Ranto
Angkringan Bu Ranto.Angkringan ini terletak di RW VI (Dukuh Mbero), letaknya persis di dekat pintu masuk ke Candi Sojiwan. Angkringan ini adalah angkringan yang paling sering kukunjungi, karena jaraknya lebih dekat dari Rumah Sentul. Angkringan ini dikelola oleh Bu Ranto, yang rumahnya di dekat Mushalla Al-Mubarok. Di RW VI, Bu Ranto dikenal sebagai tukang masak yang piawai, sehingga tidak jarang angkringan ini kerap libur karena Bu Ranto diminta bantuannya untuk menangani konsumsi di tempat lain. Akan tetapi makanan di angkringan ini kebanyakan dimasak oleh Diah, putri Bu Ranto.
Karena hampir setiap hari aku lewat dan mampir kemari, aku lumayan dekat dengan Bu Ranto (tetapi sampai sekarang belum kesampaian main ke rumahnya). Bu Ranto paham menu favoritku disana adalah wedang jahenya. Dari sekian banyak perbicangan ngalor-ngidul, aku tahu kalau sebenarnya Bu Ranto orangnya penakut. Walau posisi angkringan ini di depan Candi Sojiwan yang katanya kalau malam suka banyak penghuninya yang keliaran, Bu Ranto mengaku tidak pernah diganggu. Akan tetapi pernah suatu hari aku dan pak penjaga candi berbicang-bincang horor, dan setelah kami selesai ngangkring Bu Ranto langsung bergegas menutup angkringannya karena ketakukan. Hehehe.
Daftar Menu
Sebenarnya menu di tiap angkringan, entah apakah itu di Jogja atau di Prambanan, hampir serupa. Harga yang dikenakan juga serupa di kedua kota tersebut. Beberapa menu beserta harga di kedua angkringan tersebut, aku paparkan dibawah ini.
Gorengan (Tempe, Bakwan, Tahu Goreng) : Rp. 500,-
Nasi Kucing (Sambal, Kering Tempe, Goreng) : Rp. 1.000,-
Ceker, Kepala Ayam : Rp. 1.000,-
Kerupuk Rambak : Rp. 500,-
Kacang Goreng : Rp. 500,-
Es Teh : Rp.1000,-
Teh Panas : Rp. 1000,-
Wedang Jahe : Rp. 1000,-
Kopi : Rp. 2000,-
Jahe Susu : Rp. 1500,-
Air Putih : Gratis
Hikmah Ngangkring
- Membagi rezeki. Ya seenggak-enggaknya, jangan hanya numpang duduk aja. Beli gorenan satu kek!
- Sosialisasi. Dari pemilik angkringan, kita bisa tahu info-info terkini seputar Desa Kebondalem Kidul. Terlebih lagi kita bisa tahu pendapat warga tentang KKN.
- Tempat Curhat. Aku sering menghabiskan waktu dengan Gunawan atau Catur untuk ngangkring sembari ngobrol ngalor-ngidul tentang gejolak KKN. Masa bodo lah kalau Pak Kidi atau Bu Ranto juga ikutan nguping.
- Tempat Rapat. Khususnya bagi penghuni rumah Banjarsari, angkringan Pak Kidi sering digunakan sebagai tempat rapat dadakan. Karena kesibukan KKN, mereka tidak bisa berkumpul di siang hari dan “tanpa sengaja” mereka sering bertemu di angkringan malam harinya.
- Pelarian Makan. Kalau seumpamanya Ayu mogok masak karena aku sindir masakannya di hari itu.
- 3 Ceret. Angkringan identik dengan 3 ceret, karena itu tidak jarang angkringan dijuluki kafe telu ceret. Dari Bu Ranto aku akhirnya tahu kenapa ada tiga ceret. Ceret pertama, isinya air panas. Ceret kedua isinya juga air panas sebagai cadangan ceret pertama. Ceret ketiga, isinya adalah air jahe panas. Cukup masuk akal, mengingat konsumen angkringan biasanya memesan minuman hangat untuk mengusir dinginnya malam. Terus, kenapa jumlah ceretnya hanya tiga? Karena anglo untuk mendidihkan ceret-ceret itu hanya pas untuk tiga ceret. Hehehe.
enak bangatzzzzzzzz
enak dan murah-meriah :)
sarahJum'at, 21-Agustus-2009, 15:24
mari kira galang persatuan dngan baik
mari...
rinoMinggu, 25-April-2010, 01:19