Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Kirab Budaya Klaten 2008
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!
Diterbitkan:
Senin, 06-Oktober-2008, 16:57

Diperbarui:
Selasa, 05-Mei-2009, 18:35

Dilihat:
677 kali

Ada 1 komentar:


[kotak komentar]

Candi Lumbung


Selasa (30/09/2008), seiring dengan napas dan tenaga kami yang terkuras karena menjelajah Candi Sewu dan Candi Bubrah, kami memutuskan mengakhiri ekspedisi kami di hari itu dengan berkunjung ke Candi Lumbung. Candi ini terletak sekitar 300 meter di selatan Candi Bubrah, dan masih berada di kompleks Taman Wisata Candi Prambanan. Secara administratif candi ini berada di Dukuh Tlogo, Desa Tlogo, Kec. Prambanan, Kab. Klaten, Jawa Tengah.


Batu-batu candi induk yang dipindahkan.


Pondasi candi induk yang sudah dibeton.
Candi Lumbung adalah candi yang berlatar belakang agama Buddha. Candi Lumbung memiliki satu buah candi induk yang menghadap ke arah timur dan 16 candi perwara dengan masing-masing 4 buah di setiap penjuru mata angin mengelilingi candi induk. Saat kami disana, candi induk sedang mengalami pemugaran berat. Kenapa aku menyebutnya sebagai berat, karena pada saat itu candi induk sedang tidak berada di tempatnya! Ya, di lokasi dimana semestinya berdiri candi induk, tidak terdapat apa-apa. Tenang saja, candi induk tersebut tidak rubuh ataupun dicuri batu-batunya, melainkan sedang dibongkar karena sedang dilaksanakan proses pemugaran yaitu pengecoran dasar candi induk dengan beton untuk memperkokoh pondasi. Cukup kaget juga, mengingat di tahun 2006 ada seorang fotografer yang mengabadikan rupa candi induk. Akan tetapi kami menyambut positif langkah yang dilakukan oleh BP3 Jawa Tengah, mengingat kerusakan yang diderita oleh candi induk pasca gempa bumi 27 Mei 2006 silam sudah cukup parah. Semoga proses pemugaran candi induk dapat berlangsung tanpa kendala. Kapan ya? Kami bisa menyaksikan bangunan candi induk berdiri utuh kembali?

Update! Ikut Meneliti Batu

Tanah yang ada di celah batu candi.


Tanah-tanah itu dikumpulkan di satu tempat.


Ukuran nat yang relatif sempit.


Batu yang kemasukan air berpotensi jadi
habitat tumbuhan dan akibatnya
batu jadi keropos.



Candi Lumbung.
(Klik untuk memperbesar).
Ternyata perjumpaanku dengan Candi Lumbung nggak terhenti sampai disini aja. Pada bulan Maret – April 2009, salah satu sohib karibku, Irsyad "Upil" Ardhi, ngajak aku buat membantu tugas akhirnya yang berjudul..."Karakteristik Tanah Pengisi Susunan Batu Candi Lumbung Dalam Tinjauan Fisik, Mekanik, dan Kandungan Mineral"...wew panjangnya! Awal mulanya begini, saat pembongkaran candi induk di Candi Lumbung untuk dipugar, di sela-sela bebatuannya ternyata ditemukan tanah. Penasaran, tim BP3 Jawa Tengah meminta bantuan Fakultas Teknik untuk meneliti tanah tersebut dan penelitian tersebut diampu oleh temanku Upil itu sebagai tugas akhirnya, he3.

Ini jadi topik menarik karena ada dugaan tanah tersebut merupakan tanah masa lampau yang digunakan ketika membangun candi. Dugaan tersebut mengarah ke fungsi tanah itu sebagai isian antar celah bebatuan (nat) candi, untuk meminimalkan pergeseran batuan. Sebagai langkah awal, kami menyambangi Pak Timbul Haryono selaku dosen Arkeologi UGM di kediamannya, desa Kebondalem Kidul. Pak Timbul menyangkal bahwa tanah itu berasal dari masa lampau. Karena secara logis nggak mungkin tanah digunakan sebagai isian nat, karena ukuran nat relatif sempit dan tanah lempung nggak punya kekuatan untuk menahan gesekan antar batu yang beratnya beratus-ratus kilogram. Selain itu, bisa jadi tanah itu adalah tanah endapan yang terbawa angin dan mengendap di bebatuan candi selama beratus-ratus tahun.

Nggak puas dengan jawaban Pak Timbul, kami langsung menyambangi TKP dengan ditemani oleh petugas BP3 yang cantik-cantik, mbak Tika dan mbak Wiwied. Dari penjelasan mbak-mbak itu diketahui bahwa tanah itu kemungkinan dipergunakan di bebatuan luar untuk menahan air memasuki bagian dalam candi. Karena kalau air masuk ke bagian dalam candi, batu-batunya bisa lapuk. Tim BP3 Jawa Tengah sendiri berencana untuk menggunakan tanah lempung menggantikan tanah pasir untuk isian Candi Lumbung kelak. Karena tanah lempung lebih kedap air. Nah, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Upil, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

  1. Tanah itu tidak bersifat kembang-susut.
  2. Tanah itu kurang kedap air.
  3. Tanah itu memiliki kuat geser yang cukup.

Jadi, kalau tanah itu berasal dari masa lampau kayaknya nggak gitu deh, dan fungsinya memang bukan untuk menahan air masuk ke bagian dalam batu candi. Anyway, terima kasih deh buat Upil yang udah memberi kesempatan buatku merasakan gimana jadi peneliti batu (keluar-masuk Taman Wisata Candi Prambanan gratis bo!). Karena ilmu yang dipakai lebih banyak ke ilmu fisika, aku jadi agak canggung karena aku nggak begitu menguasai fisika...hiks. Selamat yah Pil, buat pendadarannya 28-April-2009 lalu!
  • Wah selamat ya blognya di update terus, sampe namanya aja brubah. He...he. Artikelnya yg niy berwawasan bgt Mas. Emang setauku, pembangun candi masa silam gag perlu tanah untuk merekatkan, memperkokoh, dsb coz itu justru bisa merusak batu itu sendiri lama-kelamaan, blm kenal semen sih. So, mereka pake teknik mirip puzzle gitu biar klop dan kokoh satu batu dengan yg lain. Bahkan kl perlu jg dipake teknik menambahkan key stone (spt di Candi Borobudur n Sewu).
    Saya nggak tau pasti apa orang jaman dulu udah tau klo tanah itu bakal ngerusak batu, dan apakah batu candi yang kini tertimbun tanah itu rusak. Kalau sambungan seperti ekor burung itu memang ada banyak di candi-candi yang pernah kutemui.
    Ekarici DittaSelasa, 12-Mei-2009, 12:44

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi