Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Candi Donotirto
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

Shooting the Moon


Malam itu aku sengaja rehat sejenak dari kepenatan mengutak-atik pembuktian suatu teorema dengan memandang langit. Tak disangka malam itu bulan berwujud purnama. Tetapi yang membuatku lebih terpana adalah adanya lingkaran cahaya (halo) disekitar bulan.

Langit dan bulan.
Ini momen yang langka karena itu dengan penuh kerusuhan aku mengambil kamera yang tersimpan di kotak penyimpan, tripod yang mendekam di bagasi mobil, dan mengambil kunci dari laci yang berantakan. Setelah membuat rumah penuh dengan huru-hara akhirnya aku berhasil keluar menuju halaman depan dan ternyata...bulannya menghilang tertutup awan. Sial!

Untung sampai tengah malam aku belum menewaskan diri di kasur. Saat aku kembali melihat langit untuk yang kedua kalinya, tak disangka bulan purnama kembali muncul menghiasi langit. Karena posisi bulan sudah tinggi, aku bisa mendapat sudut pandang yang lebih luas walau hanya di halaman belakang. Jepret sana jepret sini, namun kok hasilnya kurang memuaskan ya? Tapi beberapa saat kemudian aku menemukan kunci untuk memotret bulan:

1.
Gunakan panjang fokal terpanjang yaitu zoom paling panjang. Zoom terpanjang di lensa yang kugunakan adalah 135mm pada DSLR yang setara dengan 200mm di format film. Aku pernah mendengar bahwa untuk memoret bulan dengan jelas memerlukan panjang fokal minimal 300mm di format film. Karena itu aku sangsi apabila kamera digital biasa dengan zoom maksimal 3x mampu untuk memotret bulan. :p

2.

Bulan dengan kecepatan rana 1/250 detik, diafragma f/5.6,
panjang lensa 135mm, dan kamera 10 MP.
Arahkan fokus ke bulan. Tidak terlalu sulit bagi yang menggunakan sistem autofokus. Karena bulan terang benderang maka sistem autofokus tidak kesulitan untuk mengunci fokus.

3.
Nah ini triknya, gunakan mode Shutter priority atau Manual dan tentukan kecepatan rana sekitar 1/60-1/250 detik. Sebisa mungkin gunakan ISO rendah misalnya 100 atau 200. Dengan menggunakan pengaturan tersebut dijamin foto bulan yang tercipta akan menjadi seperti gambar yang ada di halaman ini. Karena jika menggunakan kecepatan rana yang lambat sekitar 1/2-1 detik maka tekstur bulan tidak akan terlihat.

Mudah bukan untuk memotret bulan? Lebih bagus lagi jika memiliki lensa zoom panjang dan memposisikan diri di tempat yang paling tinggi, semisal di atap atau di pegunungan. Dijamin foto bulan yang diperoleh akan lebih besar dan jelas. Selamat bereksperimen!
  • subhanallah. keren banget fotonya wisna. semoga bukan hanya karena alat yang kau gunakan yang bagus, tetapi objeknya juga bagus.
    Terima kasih. Sebenarnya masih banyak keindahan alam yang luput dari penglihatan kita. Adalah suatu keharusan bagi kita untuk menjaga dan merawatnya agar kelak generasi setelah kita masih dapat menyaksikannya.
    ipin maripinKamis, 24-April-2008, 18:08
  • Mawi.. aku berkunjung ni..
    wow.. keren banget eh Subhanallah ding :p
    aku juga suka liat bulan, tp blm pernah moto secara langsung, boleh minta orinya ngga? (hasil fotomu maksdnya) kirim ke mailku, kl boleh harus boleh!! Maksa :p
    Terima kasih sudah berkunjung Istea. Foto bulan close-up itu adalah foto aslinya. Karena jarak bulan sangat jauh jadinya dengan perlengkapan kameraku yang terbatas hanya bisa menampilkan gambar seukuran itu saja.
    iesSelasa, 29-April-2008, 09:24

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi