
Dari namanya saja, Gunung Kidul berarti gunung di arah selatan. Ya, dahulu kala, berjuta-juta tahun yang lampau daerah ini adalah pegunungan. Salah satu fakta yang masih bisa disaksikan hingga saat ini adalah keberadaan sebuah gunung api purba bernama Nglanggeran.
Adanya kata purba, mendadakan bahwa gunung berapi ini telah lama tak aktif. Dan tenang saja, disini tak ada dinosaurus yang sedang kejar-kejaran. Yang ada cuma sejumlah pesepeda yang berambisi menaklukkan gunung api purba. :D
Itulah aktivitasku pada hari Sabtu pagi (09/01/2010) bersama ke-18 rekan SPSS (Sabtu Pagi Sepeda Santai). Diantaranya, Mas Aan, Mba Indomie, Mba Uun, Pipink, Tiwi, Mas Anggi, Mas Tanto, Mas Arief, Mas Dhani, Mas Yudhi, Mas Yohan, Mas Anwar, Mas Aris, Mas Danang, Om Bayu, Pak Rudi, Wafa, dan Mas Haryanto. Komposisi peserta, 15 pria dan 4 wanita.
Titik Awal:
Simpang Ringroad Jl. Wonosari
Titik Tujuan:
Gunung Api Purba Nglanggeran, Kec. Pathuk, Kab. Gunung Kidul, DI Yogyakarta
Jarak Tempuh (Waktu Tempuh):
45 km (3 jam)
Rute Perjalanan:
Pergi: Simpang Ringroad Jl. Wonosari – Pathuk – Desa Ngoro-Oro – Nglanggeran
Pulang: Nglanggeran – Lemah Abang (Gayamharjo) – Berbah – Kota Jogja
Medan:
Mayoritas perjalanan pada jalan aspal. Namun karena ini Gunung Kidul, maka jalan penuh dengan tanjakan berat.

Inilah etape pertama yang harus kami lalui. Kebanyakan orang menghindari pergi ke Gunung Kidul, adalah sebab harus melewati Pathuk yang terkenal dengan tanjakannya yang ganas. Padahal, panjang tanjakannya hanya 1,5 km. Namun untuk menaklukkannya dengan sepeda perlu waktu 1 jam! Banyak peserta wanita yang tak kuat; Mba Uun yang perlu ditandem dan Tiwi yang harus isi bensin dulu pakai Indomie rebus. :D

Setelah rehat sejenak di Pathuk, saatnya melanjutkan etape kedua. Adalah Ngoro-Oro sebuah desa di Kec. Pathuk. Jalannya adalah jalan aspal, namun konturnya naik-turun. Namun yang menyenangkan, ada kalanya mata dihibur oleh panorama persawahan yang berbukit-bukit. Tak heran kalau banyak pasangan yang menyempatkan foto pra-nikah disini. Oh ya, desa Ngoro-Oro juga dikenal sebagai desa pemancar televisi. Itu karena pemancar stasiun televisi untuk propinsi DI Yogyakarta berada di desa ini.


Sampailah kami di Gunung Purba Nglanggeran. Retribusinya murah, hanya Rp 1.000 per orang. Berhubung sudah sampai disini, ndak afdol kalau tidak naik gunungnya. Jadilah kami semua ngangkut sepeda sembari mendaki gunung. Itupun pada akhirnya kami harus memarkir sepeda sebab jalan menuju puncak tak bisa dilalui sepeda. Kami memang tak sampai puncak, namun sudah cukup puas karena bisa menyaksikan panorama dari gunung api purba. Sayang cuacanya mendung, jadi aku tidak motret pas diatas sana. Hehehe.
Etape terakhir ini mesti dilampaui untuk bisa kembali ke kota Jogja. Sebenarnya bisa sih kembalinya lewat Pathuk, namun Om Bayu menganjurkan lewat Lemah Abang. Sebab Pathuk kalau siang ramai kendaraan bermotor. Sebetulnya Lemah Abang adalah nama sebuah jembatan gantung. Cukup seru melintasi jembatan ini, sebab bisa bergoyang kesana-kemari, hehehe. Yang perlu diperhatikan adalah kontur jalan sepanjang perjalanan adalah turunan ekstrim! Wajar toh? Kan ceritanya kita lagi turun gunung.
Nah, apa pembaca berminat untuk berkunjung ke Gunung Api Purba Nglanggeran? Masih minim pengunjung lho.








