Kecewa? Bukan. Tidak semestinya aku berucap demikian. Mungkin lebih tepatnya disebut, “diluar ekspektasi”. Sebab perjalanan yang kami lakukan pada hari Minggu (27/12/2009) itu sepertinya tak sebanding dengan apa yang ingin kami saksikan.
Biar aku jelaskan dulu tentang kecamatan Samigaluh di kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Samigaluh itu letaknya di atas bukit, tepatnya perbukitan Menoreh. Kontur jalannya menanjak yang bikin sepeda motor sampai batuk-batuk. Kadang malah curam sekali. Intinya perjalanan kesana penuh perjuangan. Terbayang?
Tujuannya jelas ke sebuah desa bernama Pringtali. Tujuannya jelas cuma untuk mencari candi. Jaraknya jelas hanya sekitar 40 km atau 1,5 jam perjalanan.
Namun yang terjadi adalah kami hanya menemukan benda seperti foto dibawah ini. Yang penduduk sekitar menyebutnya sebagai candi. Namun aku lebih setuju menyebut ini situs. Mudahnya karena ini bukan bangunan besar. Katanya berasal dari abad ke-7 Masehi. Oh ya yang saya sebut kami itu adalah aku, Andreas, Mas Ipuk, dan Agatha.

Candi ini pernah disinggung di harian Kompas pada bulan Januari 2009. Tapi dasar akunya yang ndak teliti. Soalnya disana tertulis kalau candi ini terpagari seluas 5 meter persegi dan itu bukan berati sisi-sisinya panjangnya 5 meter. Ya ndak enak juga sama Mas Ipuk, soalnya aku sudah lama pingin ngajak dirinya jalan-jalan dan hari itu dia membawa serta anak bungsunya.

Terlepas dari itu semua, tidak semua orang mau menilik benda purbakala ini. Tidak ada daya tariknya sebagai obyek wisata sejarah. Lagipula jaraknya jauh dan medannya lumayan berat. Alhasil benda-benda purbakala seperti ini menjadi terpinggirkan. Untung saja PemDa Kulon Progo masih mencantumkan Candi Pringtali ini sebagai peninggalan arkeologi di situs mereka.
Pembaca punya ide untuk benda semacam ini? Warga masih menggap benda ini keramat, setidaknya suci. Juga seperti pada foto, Candi Pringtali ini terletak dekat tebing yang rawan tanah longsor. Belum lagi ada aturan pemerintah kalau benda purbakala tak boleh dipindah tempat. Nah lho!






