
Di penghujung tahun 2009 ini, hujan kembali membasahi Jogja dan sepertinya akan berlangsung lama. Namun hal itu tak menyurutkan semangat sejumlah pesepeda yang kerap bersepeda setiap Sabtu pagi. Jadilah pada hari Sabtu (26/12/2009) itu, kami berkumpul di monumen Tugu Jogja. Apalagi kalau bukan untuk bersepeda dan Alhamdulillah pagi itu hanya mendung.
Bersama keenam rekan; Mas Aan, Mas Tanto, Mas Koyim, Ari, Mba Dani, dan Pipink kami bersepeda menuju ke barat kota Jogja. Ada apa di barat? Mencari kitab sucikah? Hahaha, sayangnya kami bukan Biksu Tong dan murid-muridnya itu. :D

Tujuan utama kami pada pagi hari itu adalah menyusuri Selokan Mataram ke arah barat hingga ke Bendungan Karang Talun. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku kesana, sebab aku sudah pernah nggowes kesana pada acara nggowes ke Borobudur bulan Juni silam. Adapun rincian perjalanan kami adalah sebagai berikut:
Titik Awal:
Monumen Tugu Jogja
Titik Tujuan:
Bendungan Karang Talun, Kec. Kalibawang, Kab. Kulon Progo, Di Yogyakarta
Jarak Tempuh (Waktu Tempuh):
40 km (2 jam)
Rute Perjalanan:
Kota Jogja – Jl. Godean – RingRoad Barat ke Barat – Selokan Mataram – (jalan desa kampung dll) – Bendungan Karang Talun
Medan:
Ringan. Sepanjang selokan Mataram didominasi jalan aspal. Tidak ada tanjakan.
Untuk sebagian orang yang tak akrab dengan Jogja, nama selokan Mataram mungkin terdengar janggal. Sebab selokan kerap dipadankan dengan saluran air pembuangan yang kecil dan berbau tak sedap. Namun selokan Mataram yang menjadi ikon Jogja ini berbeda.
Selokan mataram adalah saluran air sepanjang kurang-lebih 70 km yang membentang dari timur hingga ke barat propinsi DI Yogyakarta. Saluran air ini menghubungkan Kali Opak di sisi timur dan Kali Progo di sisi barat. Fungsi utama saluran air ini adalah untuk irigasi–oleh sebab itu disisi-sisi selokan Mataram banyak terdapat sawah. Gunanya apa? Agar setiap saat sawah tetap terairi, padi bisa tumbuh dan dipanen, sehingga rakyat Jogja tidak akan pernah kekurangan pangan. Keren toh?
Di sisi barat, selokan Mataram menyatu dengan selokan Van der Wicjk. Yang disebut terakhir ini adalah saluran yang dibangun tahun 1909 untuk mengairi perkebunan tebu milik pemerintah Belanda. Selokan Mataram sendiri dibangun pada masa penjajahan Jepang. Pemrakarsanya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, agar rakyat Jogja terhindar dari Romusha.

Bersepeda menyusuri selokan mataram ke arah barat sungguh mengasyikkan. Pikir saja, di kota besar macam Jakarta, apa bisa nggowes di pinggir sungai. Kalau capek tinggal parkir sepeda dan nyemplung ke sungai. Tidak toh?
Aku juga sempat menyaksikan ada dua orang ibu yang tengah memunguti sampah di pintu air selokan Mataram. Terlepas dari apakah mereka hendak memulung atau tidak, yang jelas mereka telah membantu membuat selokan Mataram menjadi bersih. Dan juga bukti bahwa selokan Mataram belum terbebas dari pencemaran (walau tak seburuk sungai Ciliwung).
Selokan Mataram, menurutku adalah berkah Jogja yang harus kita rawat dan jaga baik-baik. Mudahnya, adalah tak membuang sampah ke selokan Mataram. Aku juga berandai-andai apabila di sepanjang selokan Mataram ini kita bisa berwisata pakai perahu. Ih! Romantis pasti. :D
Wahai pembaca nan budiman, kapan terakhir kali main air di kali/sungai?




