Ekspedisi Semarang
Dari sekian banyak mahasiswa prodi matematika angkatan 2004, 4 orang diantaranya dikenal sebagai orang-orang yang gemar berpetualang. Mereka yang bernama Joko, Winky, Radit dan Wisna telah berpetualang ke berbagai kota di Jawa Tengah semata-mata hanya untuk memenuhi sebuah impian yang terbesit dalam celetukan singkat. Seperti saat seusai mengerjakan soal-soal ujian yang rata-rata membuat kepala kami stress, muncul impian untuk melakukan wisata kuliner. Dengan demikian diputuskan bahwa kami akan berwisata kuliner di Semarang, aneh bukan?
Tim Petualang. Orang-orang yang gemar berpetualang berpose di Lawang Sewu,
dari kiri-kanan: Joko, Winky, Pak Totok (guide Lawang Sewu), Aku, Radit.Pada ekspedisi ini kami menggunakan motor sebagai alat transportasi. Jogja-Semarang ditempuh dalam waktu kurang lebih 2,5 jam. Beberapa kota di Jawa Tengah sempat kami singgahi, seperti Magelang, Ambarawa, dan Ungaran. Selain Magelang, baru sekali itu aku mengunjungi kota yang hanya kukenal namanya sewaktu masih duduk di bangku sekolah. Kami hanya mempunyai waktu 1 hari 1 malam untuk berpetualang di Semarang, karena itu kami menyusun rencana lokasi di Semarang yang akan kami kunjungi.
Memburu HantuJoko terobsesi dengan bangunan Lawang Sewu. Bagi yang belum tahu, bangunan Lawang Sewu adalah gedung tua bekas kantor kereta api Belanda. Bangunan ini terletak di dekat Bundaran Tugu Muda, dekat Simpang Lima. Yang membuat bangunan ini terkenal tidak lain adalah suasana mistisnya. Terbukti pada sesi uji nyali pada acara Dunia Lain yang pernah ditayangkan Trans Tv, muncul sesosok penampakan di ruang bawah tanah Lawang Sewu.
Lawang Sewu. Bangunan tua yang melegenda berkat kemistisannya.Kami memasuki Lawang Sewu pada pukul 10 malam dengan ditemani seorang guide bernama Pak Totok. Sekedar informasi Lawang Sewu dapat dikunjungi kapan saja asalkan masih ada guidenya, biaya per orang 5000 rupiah. Suasana di dalam bangunan Lawang Sewu gelap gulita sehingga aku harus mengaktifkan Flash setiap saat. Sayangnya aku lupa telah mematikan lampu AF-Assist untuk membantu autofokus, namun ketika kuaktifkan ternyata gelapnya Lawang Sewu tidak bisa memaksa autofokus Nikon D80 untuk bekerja maksimal. Terus terang banyak sudut di Lawang Sewu yang menarik untuk difoto terutama jendela gelas patrinya. Sayang karena malam dan suasana yang membuat bulu kuduk merinding aku tidak bisa melakukan hunting. Apakah ada penampakan pada fotoku? Sayang sekali tidak ada, walaupun Pak Totok pernah mewanti-wanti diriku bahwa ada sosok wanita yang mengikutiku...hiii...Sayang ambisi Joko untuk masuk ruang bawah tanah pun tidak terpenuhi karena pada saat itu ruang bawah tanahnya sedang banjir.
Light TrailPuas dengan Lawang Sewu, kami pun menghabiskan waktu dengan
kongkow-kongkow di bundaran Tugu Muda. Karena Joko, Winky, dan Radit meminta untuk difoto maka aku menghabiskan malam itu dengan sesi pemotretan. Banyaknya kendaraan yang hilir-mudik pada malam hari membuatku berinisiatif untuk mencoba teknik
Long Exposure, untuk menimbulkan efek jejak lampu kendaraan (
Light Trail). Mulanya aku menggunakan mode S namun aku kesulitan untuk menentukan kecepatannya rananya alhasil aku menggukan mode A dan mengatur bukaan ke nilai f paling tinggi sehingga otomatis kecepatan rana yang dibutuhkan akan semakin lama. Sayangnya aku tidak membawa tripod sehingga agar foto tidak blur aku mengakalinya dengan menumpukan kamera pada pagar taman.
Long Exposure. Foto Joko yang dibuat dengan teknik Long Exposure. Religious PlacesHari terakhir di Semarang kami habiskan untuk berkeliling di seputar kota Semarang. Beruntung karena pada hari itu Semarang terbebas dari hujan dan seperti biasa bahwa cuaca panas terik. Tujuan pertama adalah Sam Poo Kong atau Gedung Batu. Sam Poo Kong adalah klenteng yang dibangun untuk mengenang Laksamana Cheng Ho. Begitu memasuki area klenteng nuansa budaya tionghoa mulai terasa, mulai dari bangunan klenteng yang menyerupai istana raja Cina sampai bau hio yang menyebar kemana-mana. Bagi Joko, Winky, dan Radit kesempatan ini mereka gunakan untuk berfoto layaknya sedang bertamasya ke Cina. Sedangkan aku sibuk mengatur parameter kamera agar langit pada foto tidak
over exposure.
Tujuan berikutnya adalah Kota Lama yang didamba-dambakan Radit. Kota Lama dijuluki demikian karena sebagian besar bangunan yang ada di kota ini berasal dari era penjajahan Belanda. Bahkan di beberapa tempat terpasang plakat untuk melestarikan Kota Lama sebagai cagar budaya. Kota Lama juga terkenal sebagai kawasan banjir rob namun tidak pada hari itu. Salah satu objek yang menarik di Kota Lama adalah Gereja Immanuel yang dikenal juga dengan nama Gereja Bleduk.

Ã?
Ikon Semarang.Tempat peribadatan yang menjadi ikon kota Semarang. Tidak lengkap rasanya sudah mengunjungi tempat peribadatan agama lain tetapi belum mengunjungi tempat peribadatan agama sendiri. Karena itu kami singgah di Masjid Agung Semarang untuk istirahat dan melaksanakan shalat Dzuhur. Mengingat tujuan awal kami untuk berwisata kuliner maka kami tidak lupa mencicipi jajanan di kota Semarang. Sayang kami hanya sekali menyantap makanan Semarang yang menurut kami khas yaitu Tahu Gimbal. Dalam perjalanan pulang ke Jogja kami singgah di Magelang dan menyantap makanan Tahu Pojok. Mungkin wisata kuliner yang kami rencanakan lebih tepat disebut dengan perbandingan masakan olahan tahu. Hehehe.
PenutupEkspedisi Semarang sungguh menyenangkan, apalagi aku bisa mendatangi tempat-tempat yang dahulu hanya kukenal namanya atau melihat fotonya saja. Namun pada perjalanan kali ini aku tidak bisa sepenuhnya bebas untuk hunting foto karena teman-teman yang lain juga ingin untuk diabadikan fotonya. Toh, terlepas dari itu semua sudah menjadi keharusan bagi seorang fotografer untuk menghasilkan karya yang terbaik apapun obyeknya. Foto-foto ini mungkin tidak bisa mencitrakan kesan seni yang mendalam namun foto-foto itu seolah berkata,
“Saya pernah kemari sebelumnya, bagaimana dengan anda ?”.