Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Nggowes Bareng JFB ke Borobudur
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

Dari Atas Tanggul Lumpur


Dari atas tanggul itu aku bisa menyaksikan pemandangan yang selama ini menghias layar kaca. Tidak sulit bertandang kemari. Dari Surabaya naiklah kereta komuter jurusan Surabaya–Porong dengan tiket Rp 2.000 per orang. Serta turunlah di stasiun Tanggulangin atau Porong.

 

Dari atas tanggul itu aku melihat geliat rakyat. Hanya bisa pasrah, mau apalagi? Sudah hampir empat tahun dan tak pernah berhenti. Mereka tetap berusaha bertahan hidup. Ada yang menjajakan VCD lumpur. Adapula yang menawarkan jasa ojek keliling tanggul. Kini, mereka bertahan hidup mengandalkan musibah yang menimpa mereka.

 

Dari atas tanggul itu aku melihat sisa-sisa peradaban yang musnah ditelan alam. Andaikata dahulu tidak pernah ada rencana kilang gas disini.

 

Ketahuilah, gas ini dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia.

 

Sebab itu manusia mengeksploitasi alam hanya untuk bertahan hidup. Sebab itu kiranya manusia sudah mulai berlebihan. Namun manusia tak sekalipun berhak menyalahkan alam.

 

Dari atas tanggul itu aroma lumpur terbang membonceng angin. Untung saja bukan aroma mayat manusia. Hanya aroma penderitaan rakyat kecil. Uang Rp 3.000 sebagai bea masuk tak pernah cukup untuk menghilangkan bau itu.

 

Dari atas tanggul itu aku hanya bisa terdiam. Tak mampu berbuat apa-apa. Selain berbalik dan pergi dari sana. Aku tak sudi berwisata dengan penderitaan rakyat.

  • Sebentar dulu cek pertamanya
    udienroySelasa, 08-Desember-2009, 11:54
  • Wah aku sampai sekarang malah cuma bisa liat di tipi. Memang lumpur itu sangat dahsyat ya. Benar2 bencana tak berkesudahan. Ikut prihatin nih
    Kalau melihat langsung rasanya beda dari lihat di televisi.
    udienroySelasa, 08-Desember-2009, 11:58
  • Berat sekali cobaan warga yg tinggal di dekat tanggul. Kehilangan rumah, tanah, harta... melihat sendiri bagaimana lumpur itu menelan semua. Wuih, gak kebayang deh klo tiba2 lumpur keluar dari tanah Jakarta dan menenggelamkan pulau ini. Hmm?
    Saya justru penasaran gimana kalau lumpur itu muncul di Jakarta. Apa lantas semua jadi menjauhi Jakarta ya? Wah, lumpur di Jakarta saya pikir bisa jadi pemicu pemerataan pembangunan. :p
    zeeRabu, 09-Desember-2009, 07:12
  • aku juga tak sudi berwisata ke daerah itu, sebagaimana dulu juga aku marah ketika orang-orang datang ke bantul, melihat korban gempa, seolah itu adalah ajang wisata...

    doa tulusku untuk kebahagiaan para korban itu
    semoga mereka tetap sabar ya Uda, ndak neko-neko dalam menyambung hidup, entah kapan bakal berhenti semburan lumpur itu.
    vizonRabu, 09-Desember-2009, 09:12
  • eh udah berpa taun sih musibah ini? 3 taun ada ga?
    Sejak tahun 2006, ya hampir 3 tahun.
    maryamRabu, 09-Desember-2009, 12:08
  • udah kayak danau aja
    danau keserakahan manusia :p
    the riza de kaselaRabu, 09-Desember-2009, 12:51
  • Saya ke sana delapan bulan lalu. Dalam rangka singgah doang. Saya foto-foto juga, berusaha nggak tersenyum atau bergaya "piss".

    Semua profesor geologi seluruh dunia sudah sepakat bahwa lumpur Porong itu sama sekali bukan bencana alam.
    Ini fenomena akibat ketamakan manusia mbak menurut saya...
    VickyKamis, 10-Desember-2009, 16:23
  • Kasus yang tak pernah selesai dan seperti tanpa akhir..........

    2km dari tanggul itu ada 2 candi lho, ga ke sana ?
    wah ndak sempet, kejauhan dan waktu itu dah sore.
    PeinSabtu, 12-Desember-2009, 16:01
  • ngak dibuat sekalian madi lumpur bos?
    wah ndak berani saya mbah mandi disana :p
    suwungSelasa, 15-Desember-2009, 17:12
  • Sependapat dengan mas Wisna, dari televisi kita (belum) dapat membaui sepanjang jalan Porong - Sidoarjo, tahun 2009 sudah hampir menggulung, opini publik mulai melupakan 300 penduduk sidoarjo, mudah - mudahan lebih banyak human storyteller seperti mas Wisna yang tidak bosan mengingatkan
    Hohoho terima kasih mas, saya pikir berita ini sudah banyak disinggung tapi saya tetap berniat menyinggungnya lagi, udah dua kali lho.
    Kautsar WidiMinggu, 27-Desember-2009, 07:24
  • jadi inget Bakri yang turun tangan waktu mau rebutan kursi ketum golkar, pemilihan waktu yang agak berbau nyinyir.

    terlepas dari faktor alam atau manusia penyebabnya, yang jelas ini musibah. tragedi yang terlupakan, kecuali bagi yang mengalami.
    Sebenernya Bakrie ndak bisa 100% disalahkan juga, yang semestinya dimintai pertanggung-jawabannya itu ya pekerja di lapangannya.
    mas steinSelasa, 29-Desember-2009, 16:11

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi