Pagi hari berlangit biru di Idul Adha 1430 H ini aku sempatkan untuk shalat Ied di Alun-Alun Utara. Walau ndak seramai Idul Fitri kemarin, tapi toh Alun-Alun Utara tetap padet-jipet. Penuh dengan kendaraan bermotor dan manusia-manusia berbusana muslim.
Tentu saja, perlengkapan yang tak boleh tertinggal kalau shalat di lapangan itu adalah kertas koran dan sajadah. Kenapa? Karena lapangannya ndak dilapisi karpet beludru, alias bertanah-berpasir, apalagi kalau musim hujan begini bisa-bisa jadi becek.
Shalat berjalan tertib dan lancar. Ndak ada makmum yang mendahului gerakan Imam. Mungkin karena Imam ndak pakai baca Surat Yasin. Tapi eh tapi, setelah shalat usai barulah makmum punya hak kuasa mendahului Imam.

Mungkin dikiranya khutbah Imam ndak gaul alias bikin bosen dan mati gaya. Maka dari itu sebagian (besar) makmum langsung balik arah meninggalkan alun-alun. Yang bertahan cuma beberapa, termasuk diriku yang sibuk mengagumi dua gunung di arah utara.
Tapi toh semua makmum itu baik kok. Mau yang langsung pergi atau bertahan mendengarkan khutbah. Toh, mereka sama-sama meninggalkan cindera mata untuk Alun-Alun Utara. Kertas Koran!

Katanya semboyan, kebersihan itu sebagian dari iman. Artinya kalau kita ndak bersih, berarti kita kehilangan sebagian iman kita. Secara logis lah, manusia saja suka dengan yang bersih-bersih. Masak ya Tuhan malah suka dengan yang kotor-kotor? Tul ndak?
Ironisnya, kertas koran yang ditinggalkan itu malah jadi sumber pendapatan buat para pemulung kertas. Lumayan kan bisa dikilokan? Apa ya kita perlu berterima kasih kepada mereka, karena mereka itulah yang telah mengopeni cindera mata kita. Sehingga Alun-alun terbebas dari predikat lapangan koran.
Tapi...bukannya itu malah jadi dilematis ya? Di satu sisi kalau kita mentaati semboyan nanti para pemulung itu ndak beroleh penghasilan dunk? Tapi kalau kita tinggalkan itu koran sama artinya kita buang sampah sembarangan dunk?
Bertele-tele nggak sih? Tapi toh ya ndak ada tuh makmum yang dengan sukarela menghampiri pemulung dan berkata ”Pak/Bu/Mas/Mbak ini ada kertas koran bekas, silakan dipergunakan.” Yang ada malah langsung saja makmum ngacir pergi.

Namun itulah berkah Idul Adha. Pemulung dapat koran. Kaum miskin dapat daging. Yang kelaperan dapat sate kambing. Nah, gimana dengan aku sendiri. Itu koran kubawa pulang lagi. Kok? Lumayan tuh buat bungkus ikan asin kucingku :D.
Nah pembaca, berapa lembar kertas koran yang anda sia-siakan?

