Bukan sebab cuaca panas yang menerjang kami di kota Mojokerto. Bukan pula karena kelakuan kami yang berjalan kaki dari Terminal Kertajaya menuju Stasiun. Hanya saja kami ini punya ritual yang harus dilaksanakan seusai berburu candi. Janganlah berpikir yang macam-macam. Sebab ritualnya cuma menyantap semangkuk es campur saja.
Perlu ditegaskan definisi es campur. Yang kami maksud disini jelas adalah komposisi pernak-pernik makanan di dalam sebuah mangkuk. Yang kemudian diguyur kuah santan dan diberi es. Rasanya manis dan tentu saja, segaaaaar!
Hanya masalahnya dimana kami bisa menemukan sajian itu di kota Mojokerto ini? Pucuk dicinta es pun tiba. Kami menemukan jawabannya di depan Kantor SAMSAT Mojokerto.

Namanya Es Oyen. Ada embel-embelnya; Asli Bandung. Lha? Seperti Kentang Arab di Bandung sana. Kenapa pula sajian bumi Pasundan bisa nyasar di Mojokerto? Belum sempat kami menemukan jawabannya, di meja sudah terhidang Lumpia asli Semarang. Hwarakadah! Dimana sesungguhnya kami berada ini? Bandung? Semarang? Atau Mojokerto?
Kami tak ambil pusing. Sebab kami tak sabar ’tuk meneguk kesegaran Es Oyen. Campuran alpukat, kelapa muda, pacar cina, dan kolang-kalingnya sungguh menggoda selera. Dinggin dan manisnya es mengusir segala penat dan dahaga kami. Harganya pun amat bersahabat. Es Oyen Rp 3.000 dan Lumpia Rp 1.000.
Bhinneka Tunggal Ika. Kuliner kita memang beragam dan entah kenapa jadi cocok ketika dipandankan satu dengan yang lain. Esok hari mungkin tak lagi Es Oyen dengan Lumpia. Bisa saja Es Doger dengan Coto Makassar atau Es Teler dengan Sate Padang. Akur toh?
Wahai pembaca tersayang, ada kombinasi es dengan makanan apa di kota pembaca?
