Tersisa dari Trowulan
Candi-candi di Trowulan tidak semuanya berada dalam keadaan utuh. Beberapa diantaranya masih terpendam dalam tanah. Bukan karena tiada upaya untuk merestorasi. Melainkan karena situs candi tersebut masih dalam tahap penggalian ataupun penelitian. Sehingga yang tersaji ke hadapan pengunjung adalah kesan dari suatu bangunan kuno nan misterius yang menanti untuk disingkap. Bukti bahwa beratus-ratus tahun yang lalu ada suatu peradaban disini.
Candi Gentong
Patok batas area Candi Gentong.
Candi Gentong
(Klik untuk memperbesar).
Candi ini terletak berdekatan dengan Candi Brahu. Dari penginapan Maha Vihara Mojopahit dapat ditempuh sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Ada yang berpendapat bahwa penamaan gentong ini berasal dari kata gedong yang berarti bangunan.
Candi gentong terdiri dari dua buah bangunan. Kedua bangunan tersebut berorientasi ke arah barat. Candi ini pertama kali diungkap oleh Verbeek pada tahun 1889. Pada penggalian di sekitar candi, dilaporkan ditemukan arca-arca Buddha. Jadi, besar kemungkinan candi ini berlatar belakang agama Buddha. Selain itu Candi Gentong memiliki struktur bangunan yang unik. Yaitu terdiri dari tiga bangunan bujur sangkar yang memusat. Adapun penyusun dari Candi Gentong ini adalah batu bata.
Candi Kedaton
Pendopo yang struktur bangunannya unik.
Candi ini terletak di Desa Sentonorejo. Dari sekian banyak situs yang belum terungkap, Candi Kedaton bisa dibilang unik. Pertama, tepat di muka situs berdiri sebuah bangunan dari batu bata. Kalau diperhatikan bangunan tersebut merupakan struktur dari sebuah pendopo. Hal yang unik adalah konstruksi dari bangunan tersebut, yaitu dibangun dengan meletakkan batu-batu bata secara melingkar menuju pusat. Lebih jelasnya bisa dilihat di bagan dibawah ini.
Penampang samping pendopo (gambar kanan), ada kecenderungan susunan batu bata meninggi secara melandai.
Penampang atas pendopo (gambar kiri), batu-batu bata tersebut disusun melingkar memusat layaknya spiral.
Sumur Upas yang dikeramatkan.
Candi Kedaton
(Klik untuk memperbesar).
Kedua, situs ini mungkin tidak tepat jika disebut candi. Sebab situs Candi Kedaton ini merupakan sisa-sisa pemukiman penduduk pada masa lampau. Memasuki Candi Kedaton, kita serasa dibawa ke suasana kampung beratus-ratus tahun yang lalu. Memang tidak ada sisa-sisa barang rumah-tangga disini, namun kita masih bisa menyaksikan bahwa dulunya disitu ada rumah, ada pintu, ada jalan, ada tangga, dan lain sebaginya.
Disini juga ada sebuah sumur yang oleh penduduk dikeramatkan. Namanya Sumur Upas dan penduduk yakin bahwa di dalam sumur itu memuat gas belerang yang beracun. Sumur itu kini ditutup dengan batu dan diatasnya ditempatkan sesaji. Dekat dengan kantor juru pelihara juga terdapat sebuah sumur tua. Berbeda dengan Sumur Upas, sumur tua ini masih mengeluarkan air hingga saat ini dan tak pernah surut di musim kemarau. Adanya sumur tua ini makin menguatkan dugaan bahwa disini dulunya adalah pemukiman penduduk. Namun jika menilik Sumur Upas yang beracun, kok malah jadi berkebalikan?
Situs Sentonorejo
Sumur masa lampau yang masih berfungsi.
Candi Kedaton rupanya juga dikelilingi oleh beberapa situs purbakala lain. Yang pertama adalah sisa-sisa umpak batu. Umpak-umpak tersebut terbuat dari batu andesit dan memiliki lubang kotak di tengahnya. Para peneliti meyakini bahwa umpak-umpak tersebut merupakan pondasi dari sebuah balai yang berpenyangga tiang kayu dan beratapkan genting. Sepintas mirip dengan Dharmasala yang pernah kujumpai di Dieng.
Lantai segienam mirip konblok ya?
Tidak jauh dari umpak-umpak batu tersebut, sekitar 50 meter terdapat situs purbakala lain. Situs tersebut cukup luas dan dilindungi dengan atap. Sepintas juga tampak seperti bekas penggalian yang menampilkan sisa-sisa bangunan masa lampau. Aku hampir saja tidak tertarik kalau saja Andreas tidak nyeletuk, “Wis, ternyata orang jaman dulu lantainya pakai konblok juga ya ?”. Memang apa yang bisa disaksikan di situs itu adalah susunan rapi konblok segi enam seperti yang ada di masa kini. Kalau jaman dulu sudah ada konblok, apa mungkin jaman dulu orang juga punya handphone ya?
Candi Menakjinggo
Disini banyak relief yang menggambarkan
suasana kehidupan di masa lampau.
Candi ini tergolong unik sebab menurut pak juru pelihara yang bernama Pak Jujur, struktur candi ini menggunakan batu andesit dan batu bata merah. Uniknya lagi, batu bata merah adalah sebagai pondasi candi, sedangkan bagian atasnya menggunakan batu andesit. Diriku tidak habis pikir, kenapa pola susunannya seperti itu. Kenapa batu yang berat justru berada diatas batu yang ringan? Ah ya, kita serahkan saja kepada para arkeolog yang tengah mendalami candi ini.
Candi ini masih dalam tahap penggalian.
Candi ini dinamai Menakjinggo sebab terdapat arca yang diyakini masyarakat sebagai arca Menakjinggo. Padahal sesungguhnya arca tersebut adalah arca Garuda dan saat ini berada di Pusat Informasi Majapahit. Sesungguhnya siapa sih Menakjinggo itu? Dia diyakini sebagai personifikasi dari Bhre Wirabumi yang berniat menguasai Majapahit pada masa kepemimpinan Ratu Ayu Kencana Wungu. Ratu kemudian membuat sayembara untuk mengalahkan Menakjinggo. Sayembara itu diikuti oleh seorang ksatria bernama Damarwulan yang kemudian sukses membunuh Menakjinggo dengan perantara kedua selir Menakjinggo. Lantas kepala Menakjinggo dipenggal dan dikuburkan di candi ini. Ah, namanya juga cerita.
wajarlah terbawa suasana beratus2 tahun lalu, benar2 keliatan tua :)
saya malah merasa tambah muda disana :)
zulhaqSabtu, 14-November-2009, 08:12
itu coneblock beneran hasil penggalian?
W-O-W
bukti kalau orang jaman dulu sudah mengenal konblok.
Kekekeke..........
kok artikelnya simpel2 ya ?
Nice Inpohh
karena jumlahnya banyak makanya dibuat singkat :)
PeinSabtu, 14-November-2009, 17:41
Hooooi... wij dah lama ndak mampir sini :p
Lek aku masih gak ngerti lo wij, kenapa dirimu trus jeng vinna juga, seneng banget sama candi ya?
Masih blom dapet ni apa asyiknya, tapi kalo foto-fotonya sih aku suka.. suka difoto :lol:
Membayangkan kehidupan masa lampau itu yang menurut saya mengasyikkan mas :)
makin banyak bukti bahwa orang dulu itu keren-keren!
Jelas!
zamMinggu, 15-November-2009, 11:48
kerennn!! lanjutkan, wij.. blm baca artikelnya, baru liat gbrnya
Ya dibaca dulu dunk...
vinnaSenin, 16-November-2009, 08:14
mas.........
kok komennya dikit? mesti karena aku gak ikutan komen ya, he3 :p
mas, ada kabar bagus,
aku sekarang dah bisa megang DSLR dengan benar, hee..
komennya dikit ya? Baguslah dirimu sudah bisa pegang DSLR yang baik :)
ranystarrySenin, 16-November-2009, 08:15
betul....
makin tambah bukti kalo dulu juga ada tekhnologi...
teknologi itu udah ada sejak jaman dahulu kala, tapi perkembangannya aja yang beda.
comenxSelasa, 17-November-2009, 06:08
orang jaman dulu selain sudah pakai lantai segi enam, di halaman depan rumah juga menggunakan kerikil batu yang disekat batu bata plus ada saluran air, mirip orang jaman sekarang supaya tidak berdebu, maklum di trowulan panassss...begitu
Wah wah wah mas Andreas ini seperti pernah tinggal di jaman lampau saja :D
andreasSelasa, 17-November-2009, 18:01
wah lengkap banget ulasannya
pengen maen kesana tapi kapan ya
kalau sudah selesai skripsinya :D
Wij, kepanjangan tulisanmu, lbh enak gaya yg biasane, di bagi-bagi gitu :D
dibagi-bagi ntar malah tambah sedikit dunk isinya :D
eMSelasa, 17-November-2009, 19:46
dulunya buat apa ya bos?
dulunya ya tempat manusia beraktivitas mbah :)
suwungSelasa, 17-November-2009, 23:09
orang dulu itu emang sbnrnya lebih pinter dari orang sekarang ya kl dipikir2.. :D
ada peradaban yang hilang jadi kita bisa berpikir seperti itu :)
Untuk yang masih utuh misalnya candi tikus ,canDI PARI dll apakah sudah dikunjungi juga ?mungkin perlu cuti ya untuk tuntaskan perjalanan di trowulan.he..he..
Nantikan artikel berikutnya Bu :D
MurwaniJum'at, 20-November-2009, 07:43
Waaww...saya jadi pengen jelajah candi :D
Bener2 penasaran ingin tau komplek candi yang utuh di masa lalu itu seperti apa. Sayang sekarang hanya tersisa reruntuhannya saja..
Justru malah aneh bin ajaib mba kalau ada candi yang masih utuh sampai sekarang. :D
Malah makin seru kalau kita bisa merekonstruksi candi seperti sedia kala.
orang zaman dulu [para leluhur kita] itu waktu membuat candi kontraktornya dari mana ya? ampuh banget..
ada yang bilang kontraktornya dari India tapi kulinya warga kita sendiri :p
Pernah baca Negara Krtagama mas? Apa bener letak2nya sama ama yang diceritain prapanca?
Kalo gak salah, badan arkeologi yogya udah pernah bikin Video penilitian tentang majapahit.. udah punya cd-nya mas? share dong.. Kayaknya saya pernah minta tolong kayak gini deh.
Belum baca NegaraKertagama diriku ini. Ah ya, belum ada waktu ke Balai Purbakala mas, jadi belum dapet info tntang VCD nya itu.
dah dibaca..
iya, kedaton lbh cocok disebut situs.. mantab bgt tnyata si situs kedaton itu ya.. pas km ksana msh ada pekerja ekskavasinya ga?
Disana ndak ada pekerja ekskavasi, biasanya mahasiswa arkeologi yang meneliti disana.
vinnaSelasa, 01-Desember-2009, 20:11
candi getong letaknya sebelom candi brahu.....klo jalan kaki mantab..lbh seneng klo jalan kaki......minggu depannya lage ke situs candi kedaton dengan jalan kaki lage...heheheh.....sekalian muter2 liat wilayah yang di anggap sebagai letak kraton majapahit......
Kuat ya sampeyan jalan kaki jauh banget? Waktu itu kita cuma punya waktu satu hari sih, jadinya ya pegel kalau mesti jalan jauh.
amirKamis, 10-Desember-2009, 20:08
Lho arek iki wes tekan kene tibakno. He...he. Dua susunan jenis batu yg beda di Candi Menakjinggo mgkn krn sdh pernah direstorasi oleh pihak Majapahit setelah candi itu dibangun. Spt Candi Jawi di Pandaan yg juga punya dua jenis batu yg beda di badan candinya krn sdh prnh dipugar oleh Hayam Wuruk. Legenda Damarwulan-Menakjinggo itu mmg sindiran pujangga thd kisruh kel kerajaan antara Wirabhumi (Menakjinggo) vs Wikramawardhana n Kusumawardhani (Damarwulan n Ratu Kencana Wungu). Kalo ke Jatim lg jgn lupa candi2 di gunung Penanggungan n sekitarnya mas. Eksotis.
Wekekekeke, Bu Ditta sekarang dah di Jakarta sih. Tapi teorinya boleh juga. Mungkin memang sudah pernah direnovasi. Wah sepertinya hapal skali dengan legenda Darmawulan ini.
DittaSenin, 21-Desember-2009, 12:30
Jakarta kota yg ironis. Sgl hal hidup berdampingan dgn antipode nya dan itu terang2an. Beda dgn jmn nenek moyang klasik kita dulu. Krn gag berani (ato gag boleh) open opinion, rakyat pny cara sndri unt mengungkapkan kritiknya, kekecewaannya ato kekagumannya. Kl km pelajari, byk sastra kuno yg sbnrnya adl satire/sindiran thd keadaan yg sbnrnya. Mis legenda Panji, Damarwulan, Arjunawiwaha, Calon Arang, kesenian Reog, dll. Wah, ndabrus maneh iki aq. Dah lama sih ga main ke blogmu. Jgn bosen2 dgrin aku ndabrus yo. He..he
Hehehe, ndak apa-apa Bu Ditta. Udah tau Jakarta seperti itu kok masih mau hidup disana ya? hehehe. Berati jaman dulu sebenarnya tak ada kebebasan berpendapat dong ya? Namun imbasnya justru bermunculan karya-karya sastra kayak gitu.
DittaSenin, 21-Desember-2009, 13:04