Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Candi Karangnongko
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

Jelajah Trowulan


Nama Trowulan sempat melambung pada awal tahun 2009 ini seiring dengan banyaknya pemberitaan di media massa mengenai kasus pembangunan Pusat Informasi Majapahit yang merusak beberapa situs arkeologis di sekitar lokasi. Apa gerangan yang ada di Trowulan itu?

 

Trowulan sendiri merupakan suatu kecamatan di Kab. Mojokerto, Jawa Timur. Letaknya tepat di tengah-tengah Kab. Mojokerto dan Kab. Jombang. Trowulan dilintasi oleh jalan raya yang menghubungkan kedua kabupaten tersebut. Tak ayal, hidup di Trowulan serasa hidup di pinggir jalan raya. Penuh dengan deru dan bising kendaraan besar, semacam truk dan bus.

 

Namun dibalik itu semua, Trowulan adalah Prambanannya Jawa Timur. Di sini banyak terdapat situs-situs arkeologis peninggalan Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu tidak heran kalau Trowulan menjadi lokasi penelitian bagi para arkeolog. Untuk kelanjutannya, Trowulan sendiri memang tengah dipersiapkan sebagai andalan sektor pariwisata budaya dan sejarah di Jawa Timur.

 

Ala Backpacker


Manusia teman seperjalanan :D

Berbekal gejolak jiwa muda dan rasa penasaran yang sudah lama terpendam (halah!), diriku dan Andreas mencoba untuk menjelajah Trowulan. Tidak lama, cuma 3 hari yaitu hari Sabtu (24/10/2009) hingga Senin (26/10/2009). Ini yang jadi alasan mengapa diriku ndak bisa datang ke acara Pesta Blogger 2009 di Jakarta (meskipun juga karena ndak punya ongkos, he).

 

Artikel ini adalah pembuka dari serangkaian artikel bertemakan Trowulan. Pada kesempatan ini akan dibahas cara untuk bertahan hidup di Trowulan. Semoga artikel ini bisa jadi panduan bagi mereka yang ingin bertualang kesana, khususnya backpacking.

 

 

 

 

Naik Kereta Disusul Naik Bus
Trowulan hanya bisa ditempuh melalui jalur darat. Pilihannya ada dua, naik travel atau naik kereta api yang turun di kota Mojokerto. Kami memilih kereta api (ekonomi) karena lebih bersahabat di kantong. Perjalanan dari Jogja menuju Mojokerto ditempuh kurang-lebih 6 jam. Berikut tersaji jadwal kereta. Info lebih lanjut dapat disimak di situs PT Kereta Api.

 

Nama KeretaBerangkatDatangTarif
Jogja ke Mojokerto
Sri Tanjung 07.30 13.21 Rp 19.500
Mojokerto ke Jogja
Sri Tanjung 15.49 22.16 Rp 19.500
Gaya Baru Malam 14.49 20.35 Rp 26.000

 

Sesampainya di Stasiun Mojokerto kita menuju Terminal Bus Kertajaya Mojokerto. Dari stasiun bisa naik becak dengan tarif Rp 15.000 atau berjalan kaki sekitar 45 menit. Di terminal bus kita naik bus jurusan manapun, terserah. Karena setiap bus pasti melewati Jl. Raya Trowulan. Cukup membayar Rp 2.500 per orang untuk tujuan Trowulan yang ditempuh sekitar 15 menit (12 km dari kota Mojokerto).

 

Bermalam di Vihara


Kamar yang luaaaas ber-AC ini di Vihara lho!

Permasalahan berikutnya adalah, dimana kita menginap? Terus terang di Trowulan ini minim penginapan. Kalau mau penginapan nyaman bisa di kota Mojokerto. Namun berhubung kita ini backpacker, maka dari itu kita berdua menginap di Maha Vihara Mojokerto di dusun Bejijong. Ya betul, Vihara tempatnya para biksu itu. Ndak masalah diriku ini Muslim dan Andreas yang Katolik. Vihara ini terbuka untuk umum dan sebenernya kita ndak ditarik biaya menginap alias gratis. Tapi ya masak diijinkan numpang tidur disini ndak ngasih balas budi sih?

 

 

Ikan Wader


Sambel Wader yang maknyusss tenan!

Selesai urusan akomodasi, kini tinggal menuntaskan urusan perut. Lagi-lagi di Jl. Raya Trowulan ini tempat makannya tidak terlalu banyak. Kita pernah jalan malam-malam sekitar 3 km hanya untuk mencari makan. Disini juga ndak ada supermarket mini, yang ada toko-toko kelontong sederhana milik warga. Kuliner yang khas di Trowulan adalah Sambel Wader, yaitu iwak wader (ikan kecil yang ada di sungai) digoreng dan disajikan bersama sambal dan lalapan. Selain itu tentu juga ada kuliner Jawa Timur lain seperti Soto Dhok dan Rawon. Harganya murah, dalam arti untuk sekali makan bisalah dengan harga kurang dari Rp 10.000.

 

Terima Kasih Pak Yani!


Pak Yani lagi nyeritain Andreas kisah Trowulan.

Terakhir adalah, apa alat transportasi kita? Niatnya sih kita pingin jalan kaki, tapi jarak tempuhnya lumayan jauh, sekitar 4-6 km. Seandainya ada sepeda, enak tuh. Tapi kebetulan disana kita kenalan sama Pak Ahmad Yani, juru kunci Candi Gentong yang kenal dengan semua juru kunci di Trowulan (bahkan sampai Jawa Timur). Berkat kebaikan beliau kita diantar pakai motornya buat keliling Trowulan. Cukup kaget juga, Pak Yani ini ndak mau diberi balas biaya. Katanya rejeki di Majapahit sudah ada yang ngatur. Wah, bener-bener nggak enak kita, udah ngerepotin beliau seharian.

 

 

Setelah dihitung-hitung, total biaya yang kami keluarkan selama perjalanan kurang dari 200 ribu. Kalau mau dihemat-hemat, bisalah dibawah 150 ribu. Murah bukan?

 

Apa pembaca jadi penasaran juga datang ke Trowulan?

  • haha! tempat ibadah adalah akomodasi pilihan terakhir yang murah.

    menginap di masjid udah sering, saya mah. menginap di vihara? keren banget!

    kadang ironis juga. itu rumah ibadah kok malah dipakai utk tidur. e la tapi, itu kan juga rumah Tuhan, masak Tuhan nggak kesian ama hamba sahaya yang malang ini? hihihih..

    kalo aku sih, tempat ibadah adalah pilihan akomodasi terakhir. kalo emang masih ada penginapan, aku lebih memilih penginapan, tapi sesuai dengan budget juga. :D
    Memang disana ndak ada penginapan, kalau mau ya di Mojokerto dan itu ndak fleksibel. Lagipula di Vihara itu ada semacam bangunan yang fungsinya untuk penginapan tamu, nah kita nginap disana.
    zamRabu, 04-November-2009, 14:36
  • Mudah-mudahan ini nggak jadi kebiasaan. Nginep kan juga berarti nambah polusi, ngurangin jatah air, dan sebagainya. Mosok nggak balas budi sih?
    Ya dikasih balas budi lah mbak dokter. Disana paling kita cuma nguras air kamar mandinya aja dan makai sedikit listrik. :D
    VickyRabu, 04-November-2009, 15:08
  • Soto dhok, sampeyan gak keget karo bantingan botol kecap iku ?
    Bantingannya ndak terlalu keras pakde, maklum pas makan disana masih pagi, mungkin penjualnya masih agak ngantuk. :D
    adipati kademanganKamis, 05-November-2009, 11:18
  • mana candi atau situsnya ????
    tunggu di artikel berikutnya Bu, :D
    murwaniKamis, 05-November-2009, 14:55
  • Mantap...........
    murah meriahhhh.......
    bolehlah nampung saya kalau ke Yogyakarta
    kekekeke............
    Yogyakarta ndak tau kalau ada yang semurah itu :D
    PeinSabtu, 07-November-2009, 16:14
  • ASli baru dnger lagi soal ikan wader disini :P
    Yoh saya traktir kapan-kapan :D
    Eka Situmorang-SIrSenin, 09-November-2009, 11:46
  • pengen, kang. kapan2 mblusuk meneh yuk karo aku.
    hehe.. :D
    kowe ng Jogja ora tho?
    morishigeSelasa, 10-November-2009, 00:19
  • Mas, sempat ke Gunung Penanggungan ga ?

    Di jamin bakal mblokek-mblokek ama Candi di sana
    coz tuh gunung full candi sih, siapa tahu nemu candi baru lagi kekekeke..........
    Dimana gunung Penanggungan???
    PeinSelasa, 10-November-2009, 10:30
  • Wah, asyik sampai jawa timur....
    aku juga pengen ke sana...

    lo ke pacitan udah pernah, ke trowulan malah belum....
    Ayo Cob dicoba kapan-kapan :D
    yacob.ivanSelasa, 10-November-2009, 11:12
  • akhirnya dimuat juga berita kegilaan kita.. menginap di kompleks Vihara menyenangkan lho, ada aspek spiritual yang kental menghiasi perjalanan ini.he3..
    untung kita balik dengan selamat :D
    andreasSelasa, 10-November-2009, 15:05
  • ho oh, kang.
    aku cah mipa. geofis.. kerep nongkrong nang pasains.
    :D
    wolaaah...tangga dewe to ternyata :)
    morishigeSabtu, 14-November-2009, 00:04
  • Wah, memang menyenangkan menyimak cerita dari juru
    kunci. Saya juga pernah kesitu mas naik montor,
    berhubung saya berdomisili di surabaya. Silakan
    diteruskan mblusuk di jawa timur, masih banyak tempat
    menarik seperti itu di jatim. Sekarang saya konsen
    mblusuk ke jogja aja deh :P
    Andaikata saya ada motor, juga mblusuk kesana pakai motor :D. Waktunya kapan ya bisa mblusuk sekena hati?
    FaizalJum'at, 20-November-2009, 10:51
  • lbh afdol mblusuknya jalan kaki...bos......kan menyehatkan tho....hehehehehehe....
    Sehat sih sehat, tapi kalau pergi-pulang 20-an km jalan kaki...wuiiih...capek...
    amirKamis, 10-Desember-2009, 20:20
  • Aku ke Trowulan bulan Agustus 2008, dari Surabaya dan nggak nginep. Sempat mengunjungi tempat Patih Gajah Mada, Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, Kolam Segaran, dan makam Putri Cempa. Ohya, ke Museumnya juga, sayang nggak boleh motret di dalam museum ...

    Eh, itu yang nangkring di atas tumpukan kasur itu siapa? Kayaknya di rumah nggak pernah kenal kasur ya ... hihihi ...
    Itu saya Bundaaaa~! Selama nginep di Vihara itu, saya tidur diatas kasur kayak gitu lho. Hehehe, seru tidur di tempat tinggi!
    Tuti NonkaMinggu, 13-Desember-2009, 22:59
  • Waah .... untung waktu tidur nggak ngglundung ke bawah :D

    Ohya, aku sudah posting kisah di Trowulan di sini http://tutinonka.wordpress.com/2009/01/07/majapahit-gajah-mada-siapa-tak-bangga/

    Kayaknya itu satu-satunya postingku tentang candi :D
    Saya tidur sambil pegangan jendela Bunda. :D
    Iya saya sudah baca, ndak apa-apa cuma satu yang penting sudah turut mengangkat pelestarian candi. :)
    Tuti NonkaSelasa, 15-Desember-2009, 04:26
  • Bener kata temenmu Pein mas. Percandian Gunung Penanggungan. Rutenya byk tp yg mudah ke candi2 ya dari Candi Jolotundo. Dari Ry Porong terus ke Selatan lalu ada per3an Japanan ke kanan/Barat (arah Brimob Watukosek). Teruuus aja sampe ada papan petunjuknya Candi Jolotundo/PPLH Seloliman. Nah, di spnjg jalan ini kamu bs tengok kiri kanan coz ada byk papan petunjuk candi/situs, cont Candi Belahan, Situs Raos Pacinan, Candi Jedong, Candi Pasetran. Tp kl mau ke candi gn Penanggungannya ya masih jln trs ke barat. Spnjg prjlnnan ke candi Jolotundo viewnya bgs bgt, gunung2, sawah2, dll. Stlh smp Jolotundo, mulai mendaki unt ke candi2 berikutnya.
    Gunung Penanggungan? Waduh. Kapan ya maen kesana?
    DittaSenin, 21-Desember-2009, 12:47

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi