Aku terdiam di dalam sebuah gerbong kereta api yang membawaku dari Surabaya menuju Jogja. Hari itu adalah hari Senin, namun sepertinya orang-orang tetap saja memadati gerbong kelas ekonomi itu. Dengan tarif tiket yang hanya Rp 26.000 untuk tujuan Surabaya-Jogja-Jakarta, jelas terasa sangat nikmat di kantong masyarakat menengah ke bawah.

Pemandangan di gerbong kereta ekonomi kontras dengan gerbong kereta eksekutif. Disini ada banyak orang yang menggantungkan hidup mereka di atas kereta. Pedagang asongan yang hilir-mudik kesana kemari. Mereka melemparkan barang dagangannya ke penumpang. Sebuah teknik promosi yang unik namun licik. Kalau tak mawas diri bisa-bisa kita disuruh untuk melunasi barang dagangannya itu.
Di gerbong ekonomi inilah contoh potret riil bagaimana masyarakat menengah ke bawah di negeri ini bertahan hidup.
Ada pedagang, pengamen, dan pengemis yang melaju dari gerbong ke gerbong.
Ada para penumpang yang menanti penuh harap untuk sampai di kota besar.
Ada pula para petugas kereta api yang kerap memancing di air keruh.
Diriku menyaksikan mereka semua, sempat berpikir;
Apakah sesulit itukah bertahan hidup hingga mereka kerap mengorbankan segalanya?
Berperilaku tak teratur asalkan mendapat imbalan uang?
Terlalu rumit hingga aku tak mengerti.
Kereta berhenti di Stasiun Lempuyangan. Diriku turun dan meninggalkan mereka yang hendak bertolak ke Jakarta. Tujuh jam lagi. Selama itu mereka akan terus menggeliat berusaha bertahan hidup.










