Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Serangan Sepeda 1 Maret
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

Bertahan Hidup di Atas Kereta


Aku terdiam di dalam sebuah gerbong kereta api yang membawaku dari Surabaya menuju Jogja. Hari itu adalah hari Senin, namun sepertinya orang-orang tetap saja memadati gerbong kelas ekonomi itu. Dengan tarif tiket yang hanya Rp 26.000 untuk tujuan Surabaya-Jogja-Jakarta, jelas terasa sangat nikmat di kantong masyarakat menengah ke bawah.

 

kereta ekonomi
gambar dipinjam dari http://denni-keren.blog.friendster.com/files/ekonomi-1.jpg

 

Pemandangan di gerbong kereta ekonomi kontras dengan gerbong kereta eksekutif. Disini ada banyak orang yang menggantungkan hidup mereka di atas kereta. Pedagang asongan yang hilir-mudik kesana kemari. Mereka melemparkan barang dagangannya ke penumpang. Sebuah teknik promosi yang unik namun licik. Kalau tak mawas diri bisa-bisa kita disuruh untuk melunasi barang dagangannya itu.

 

Di gerbong ekonomi inilah contoh potret riil bagaimana masyarakat menengah ke bawah di negeri ini bertahan hidup.

 

Ada pedagang, pengamen, dan pengemis yang melaju dari gerbong ke gerbong.

Ada para penumpang yang menanti penuh harap untuk sampai di kota besar.

Ada pula para petugas kereta api yang kerap memancing di air keruh.

 

Diriku menyaksikan mereka semua, sempat berpikir;

Apakah sesulit itukah bertahan hidup hingga mereka kerap mengorbankan segalanya?

Berperilaku tak teratur asalkan mendapat imbalan uang?

 

Terlalu rumit hingga aku tak mengerti.

 

Kereta berhenti di Stasiun Lempuyangan. Diriku turun dan meninggalkan mereka yang hendak bertolak ke Jakarta. Tujuh jam lagi. Selama itu mereka akan terus menggeliat berusaha bertahan hidup.

  • Mereka semua adalah korban para koruptor di negeri ini menurutku.
    Lha? bagaimana dgn orang2 macam kamu yang hanya bisa menyalahkan orang lain Pin?
    samsul arifinJum'at, 30-Oktober-2009, 05:14
  • diriku dulu pernah ngalamin yang kayak gitu bos...
    alhamdulillah sekarang kagak
    Semoga mbah rejekinya selalu lancar untuk bisa menghidupi Rangga dan si mboke Rangga...
    suwungJum'at, 30-Oktober-2009, 10:35
  • Untuk bertahan hidup demi menyambung nyawa keluarga
    Demi cinta kepada keluarga, apapun dilakukan ya?
    Potter.Web.IDJum'at, 30-Oktober-2009, 11:42
  • Tahu kenapa kita mengalami hal ini karena kita adalah manusia yang penuh dengan kata NERIMO, TOLERANSI, TENGGANG RASA disegala aspek kehidupan

    kasihan rakyat kita musti berhimpitan dalams ebuah gerbong yang terkadang buat napas aja sesak rasanya
    Apa itu bukan kata lain dari penakut om?
    omiyanJum'at, 30-Oktober-2009, 13:54
  • Pemandangan yang selalu kutemui di perjalanan berkali-kali dengan KA Matarmaja.

    Yang buatku tampak seperti simbiosis mutualisme: aku (sebagai penumpang matar) membutuhkan mereka, mereka membutuhkan orang2 sepertiku. Karena dengan perjalanan 18 jam dan minim fasilitas, kami membutuhkan mereka yang menyediakan makanan, minuman, tempat tidur, hingga membersihkan sampah2 kami.

    Kupikir begitulah cara warga kelas bawah hidup: dengan saling menyokong yang lain.
    Warga kelas bawah memang punya rasa kebersamaan yang tinggi. Mungkin karena mereka kerab diabaikan oleh kaum kelas atas. Tapi tetap tidak membebaskan mereka dari jerat kemiskinan.
    nurJum'at, 30-Oktober-2009, 15:46
  • jadi inget perjalanan ke Surabaya juli kemaren...

    Begitu lah hidup mas, terkadang mereka yg punya kuasa untuk merubah itu semua, gak mengetahui dan gak mau tahu masalah2 yang terjadi. Mereka terlena dengan kereta-kereta eksekutifnya. Gak pernah terjun kelapangan. Dan ini terjadi disemua lini kehidupan...
    Mengentaskan ekonomi kaum bawah ya...hmmm...
    Gandi WibowoSabtu, 31-Oktober-2009, 02:42
  • jadi ingat dulu waktu masih sering naik kereta JKT-Jgja, mulaii dari yg ekonomi sampe yg agak adem. seru banget memang melihat kehidupan yg tanpa henti di atas kereta.
    Paling diingat waktu ada stiker dari PT KAI ditempel di dinding gerbong, tulisannya "dilarang berjualan di atas kereta api"... lha kok malah ada yg iseng ditulisi, "kita jualannya di dalam kereta kok" :)
    Seribu satu alasan bakal mereka keluarkan untuk tetap bertahan hidup diatas kereta mas :D
    zefkaSabtu, 31-Oktober-2009, 15:59
  • Ke...ke...ke...ke...
    Baru tahu ya ?! Namanya juga muraaaaaaaaaahhhh !!
    Saking murahnya sampai kayak gitu
    PeinSabtu, 31-Oktober-2009, 16:58
  • jendela-jendela hidup...mengajarkan kita kepekaan, rasa syukur atas nikmat yang kita dapat, berbagi, dan memahami....
    Yah, semoga saya kelak bisa membawa mereka keluar dari jurang kemiskinan
    fiahSabtu, 31-Oktober-2009, 18:15
  • Lebay pin...
    emang lebay si Ipin ni...
    eemMinggu, 01-November-2009, 06:20
  • KEADAANLAH YANG MEMBUAT MEREKA SADIS MENJADI KANIBAL,NEGARA YANG MAKMUR INI MESTINYA SDH HARUS MENSEJAHTERAHKAN MASYARAKATNYA,BIAR RAKYATNYA TDK LG MENGHALALKAN SEGALA CARA.TKS
    pekerjaan rumah buat para pejabat kita :D
    abdul gani bimaMinggu, 01-November-2009, 10:44
  • di kelas bisnis aja jg masih begitu kok.

    di eksekutif, coba deh tengok ke bagian restorasi. pramugara-nya kalo tengah malam kadang ada yg mabok (tidak semua kereta eksekutif sih, tapi beberapa begitu) dan karaoke dangdutan (dan menjual miras)..

    :)
    Saya ndak berani kluar malam di kereta Eksekutif. Takut ntar barang saya ndak ada yang jaga dari tangan2 maling. Serba salah naik kereta ya?
    zamMinggu, 01-November-2009, 21:08
  • Suwe ra dolan ngeneh...he he he
    Pas mau demo ke Jakarta aku juga merasakan hal yang sama denganmu Wij, merasakan ketidakteraturan. Membuatku g nyaman menaiki kereta ekonomi, tetapi disitu ternyata ada hikmah. Di sepanjang hari, ada orang2 yang mencari nafkah ketika yang lain tertidur pulas di rumah mereka
    Yo suwe ora ketemu karo kowe Bud. Hehehe. Okelah kersanya usaha mereka itu bagus, tapi caranya...duh...ndak banget lah.
    hanifSenin, 02-November-2009, 02:20
  • Memang sepur murah meriah, tetapi bonus itu yang ndak nguwati. Bonus bau oli plus remason, bonus asongan yang tiada henti.
    Mestinya malah konsumen dipuaskan dengan bonus, lha tapi kok ya malah bikin sesek dan minta bonusnya dikembalikan ndak bisa :(
    adipati kademanganSenin, 02-November-2009, 16:17
  • Hidup di zaman sekarang itu sulit, wis. Mereka yang kau sebutkan di atas kereta api ekonomi itu adalah korban keadaan. Pemerintah harus bertanggung jawab untuk ini.
    Saya pikir tidak hanya itu. Jangan serta-merta menyalahkan pemerintah namun kita pribadi tidak bertindak apa-apa.
    Samsul ArifinSelasa, 03-November-2009, 03:51
  • "Pedagang licik melempar dagangannya ke penumpang."

    Saya selalu pura-pura tidur kalau ada pedagang yang gitu. Mereka mau taruh apa di pangkuan saya, saya nggak mau tau. Saya baru melek lagi kalo mereka udah ngambil barangnya dari pangkuan saya.
    Lha nanti kalau barangnya mba dokter ikutan diambil gimana?
    VickySelasa, 03-November-2009, 15:14
  • Barangnya dilempar ke penumpang? licik bener!
    ck..ck.. bener2 potret riil tapi nyebelin juga cara gak jujurnya begitu...
    Boleh dicoba mbak buat artikel SEACHANGE tentang kondisi kereta ekonomi.
    Eka Situmorang-SirJum'at, 06-November-2009, 14:12
  • Justru di kereta ekonomi kita jaya...

    ada pengasong,ada punumpang
    hanya yang bekerja keras,yang mampu hidup
    justru di kereta ekonomi,kita diuji keberanian hidup.
    orang menjadi ulet dan cerdas menyiasati hidup.
    aku suka naik keretta ekonomi,
    karena di sana,aku menemukan pencerahan dalam berbisnis.
    dalam inspirasi.
    kereta ekonomi ibarat hutan rimba yang menantang tiap penghuninya untuk bisa bertahan hidup...
    udi basukiSelasa, 09-Maret-2010, 11:47

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi