Gunung Kidul itu salah satu kabupaten di Yogyakarta, terkenal dengan bukit-bukit kapurnya dan alamnya yang kering-kerontang. Melihat yang seperti itu mungkin kita bakal berpikir, ”Kok bisa ya masyarakat disini hidup? Makan apa mereka?”.
Diriku menjawab, ”Makan belalang!”.

Ini bukan lelucon karena memang benar kalau sebagian warga Gunung Kidul khususnya yang berada di pedesaan kerap mengonsumsi belalang. Buktinya ada banyak warga yang menjajakan belalang di tepi-tepi jalan. Belalang yang diriku maksud itu berasal dari famili Acrididae yang bernama asing Locust.
Nah, hari Sabtu (17/10/2009) sewaktu diriku melintasi Gunung Kidul bersama Yuda, kita sempat membeli belalang. Harganya amit-amit mahalnya! Pertama ditawarkan Rp 20.000 untuk satu renteng yang isinya lebih dari 50 belalang. Untung Yuda mahir menawar, jadilah itu kita dikasih harga Rp 10.000.
Kita berdua emang penasaran; seperti apa sih rasanya belalang? Untuk itu kita mencoba memasak ini serangga. TKP-nya di dapur seorang kawan di Pacitan (jauh kali!) dengan jam beraksi tengah malam (udah kayak maling!). Resep yang paling mudah itu katanya digoreng renyah. Berbekal buku ”Fried Locust for Dummies” seperti inilah langkah-langkahnya:

Selesai deh. Cara menyantapnya gimana? Repot amat! Langsung aja masukin ke mulut. Rasanya? Kalau kata Yuda gosong. Setelah dikunyah lama, rasanya...hmmm...mirip udang! Serius! Ini udang! Eh belalang maksudku! Tapi kalau mata ditutup pasti awalnya nyangka ini udang! Tapi seenak-enak makanan, paling terasa enaknya kalau dimakan dengan bumbu kasih-sayang....(hueks-cuih!)
Kalau ditanya belalang halal atau haram, jelas halal dunk! Aneh ya, ada serangga bisa dimakan. Tapi ya inilah kuliner budaya bangsa kita dan mungkin juga bukti kalau warga Gunung Kidul kesulitan untuk mengonsumsi daging hewan. Ternyata bisa lho hidup makan belalang!

Apa pembaca juga pernah senang menyantap udang belalang goreng?












