
Buat warga Jakarta, siapa sih yang nggak kenal Monas? Bahkan mungkin seluruh penduduk Indonesia tahu monumen yang jadi ikon ibukota negara tercinta kita ini. Tapi apa penduduk dunia juga tahu ya? Khusus kalau pembaca tanya kepada ekspatriat Jepang di Jakarta hari Minggu (11/10/2009), mereka pasti tahu Monas. Itu karena disana sedang digelar acara Jak-Japan Matsuri 2009.
Kalau pembaca sempat datang ke Lapangan Silang Monas mulai pukul 13.00 WIB bakal terkaget-kaget deh, soalnya ada banyak ngumpul orang Jepang. Eits!, ini bukan Jepang pingin menjajah Indonesia lagi atau merebut emasnya Monas. Ini karena di sini sedang diselenggarakan festival kebudayaan Jepang. Kalau dalam bahasa Jepang namanya Matsuri. Galeri hasil jepretanku di acara ini bisa dilihat di akun Flickr-ku ini.
Apa Itu Matsuri?

Di Jepang sendiri perayaan Matsuri itu ada bermacam-macam. Tapi seenggaknya setiap akhir musim panas atau awal musim gugur, pastilah ada daerah di Jepang sana yang menggelar Matsuri. Kalau di Indonesia, yah cocoklah perayaan ini digelar di penghujung musim kemarau. Bagi warga Jepang yang beragama Shinto atau Buddha, mereka beribadah terlebih dahulu di kuil sebelum mengikuti Matsuri. Yang khas dari Matsuri ini adalah Mikoshi, yaitu miniatur kuil yang dipercaya sebagai tunggangan para roh untuk datang ke Matsuri. Mikoshi ini nanti akan diarak mengelilingi area Matsuri, karena benda ini berat banget jadi perlu banyak orang untuk menggotongnya. Di acara Jak-Japan Matsuri 2009, siapapun boleh ikutan mencoba menggotong asalkan mendaftar dulu. Pada penutupan acara di malam hari juga digelar tarian Bon Odori lho.
Mahal Ya?

Tiket masuk ke acara ini Rp 20.000 per orang, kalau untuk anak-anak gratis. Seperti asalnya di Jepang, di acara Matsuri ini juga penuh dengan stan-stan hiburan. Yang cukup menyita perhatian adalah stan-stan kuliner khas Jepang seperti Takoyaki, Mie Ramen, Nasi Kari, atau Es Serut. Cuma yang perlu dipertimbangkan adalah harganya yang lumayan mahal (pengaruh kurs yen apa ya?). Contohnya saja Es Serut dihargai Rp 15.000. Tapi walaupun mahal, antrian calon konsumen bisa menandingi antrian pembagian BLT lho!
Siapa Konsumennya?

Siapa sih konsumen Jak-Japan Matsuri 2009 ini? Tentu warga Jepang di Jakarta yang rindu dengan tradisi negeri mereka itu. Tapi jelas jumlah mereka kalah banyak dibandingkan dengan pecinta khazanah Jepang di Indonesia. Mereka itulah konsumen utamanya dan sebagian diantaranya rela berdandan kimono, bergaya harajuku, dan berseragam tokusatsu. Eh, kebetulan salah satu diantara mereka ada yang aku kenal. Namanya Istikomah alias Nyai Kokom, moderator Forum Lautan Indonesia. Beruntung disana diriku dan dirinya tidak pecah perang sebagai sesama calon penguasa dunia itu.

Untuk kita-kita yang minim dana buat melancong ke Jepang, lumayanlah datang ke acara ini bisa merasakan aura budaya Jepang walaupun cuma di tanah air. Namun buat para pejuang kemerdekaan, kira-kira apa ya yang bakal mereka ungkapkan mengenai acara persahabatan Indonesia-Jepang ini? Toh kan dulu bangsa kita pernah dijajah Jepang? Apa ini juga berarti Jepang masih menjajah pemikiran warga kita terutama generasi muda dengan produk hiburan mereka?
Bagaimana para pembaca yang budiman menyikapi festival budaya asing ini?
Oh ya, hiburan di acara ini tidak menampilkan Miyabi lho. :)












