
Ada suatu cerita di Bumi Mataram. Di suatu masa lampau. Di suatu desa bernama Cebongan Kidul. Di desa itu terdapat suatu rawa yang cukup luas. Rawa itu tak pernah surut di musim kemarau dan menjadi sumber air bagi warga desa. Warga menyebut rawa itu Tuk Parung.
Suatu ketika ada warga yang melihat rawa itu dipenuhi oleh ikan laut (gereh pethek .red). Warga desa jadi khawatir kalau Tuk Parung akan berubah menjadi laut dan menenggelamkan desa mereka. Untuk itu warga melangsungkan upacara dan prosesi untuk menutup rawa tersebut. Setelah rawa ditutup, ternyata di desa tetangga muncul mata air baru. Warga menyebut mata air itu Tuk Umbul.
Di suatu sisi di Tuk Umbul, ada banyak macam ikan hidup disana. Namun warga yang ingin mengail ikan tersebut harus meminta ijin (amit-amit .red) terlebih dahulu. Kalau tidak, ikan itu akan berubah menjadi ular bahkan kepala manusia (yang jelas tidak jadi wanita cantik).
Suatu ketika pernah ada warga yang memandikan kerbaunya di Tuk Umbul. Warga itu juga mengail ikan disana tanpa meminta ijin. Kejadian aneh terjadi, kerbau miliknya tiba-tiba hilang-tenggelam di air yang dangkal dan tak pernah ditemukan. Peristiwa itu oleh warga desa disebut sebagai Bokari, singkatan dari kebo keri (kerbau tertinggal .red).
Warga percaya Tuk Umbul memiliki ”penguasa” yang berdiam diri di gua dekat mata air itu. Gua itu penuh dengan ular dan salah satu ular disana ada yang berukuran besar, ekornya buntung, dan bermahkota. Warga meyakini ular itulah penguasa dari Tuk Umbul dan menyebutnya dengan nama Mbah Bokari. Sejak peristiwa kerbau hilang tersebut, warga desa dan Mbah Bokari membuat perjanjian akan saling hidup bersama, saling menjaga, dan menghormati jika warga Desa Cebongan Kidul tidak menanam kedelai hitam dan ketan hitam.
###

Itulah sekelumit cerita rakyat yang kudengar dari penuturan salah seorang warga Cebongan Kidul dan juga hasil baca di situs http://www.kweehuikian.com/wwwbokarianco/id/ mengenai asal-usul Kirab Mbah Bokari. Kalau ada perbedaan dalam isi cerita, ya mohon dimaklumi lah, toh namanya juga cerita rakyat.
Awal mula aku tahu ada kirab ini berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu aku mau ke Desa Gombang, mblusuk gowes plus kesasar di sekitar selokan mataram barat. Ndilalah, aku malah lewat di Desa Cebongan Kidul dan ternyata disana sedang ada rame-rame pekan budaya. Kirab budaya ini sendiri dilangsungkan pada hari Jum’at (02/10/2009) siang. Ternyata Desa Cebongan Kidul ini baru dua kali melangsungkan kirab budaya, tahun ini dan tahun 2008 silam.
Secara umum pelaksanaan kirab budaya berlangsung meriah. Untuk ukuran desa memang pesertanya tidak terlampau banyak. Tapi ya kebanyakan yang berpartisipasi adalah dari golongan tua. Diriku nyari obyek wanita muda nan manis untuk difoto ndak ketemu-temu. Kalau pembaca ingin melihat foto-foto hasil jepretanku, bisa langsung ke galeri Flickr milikku ini.
Terlepas dari asal-usul kirab yang bagi sebagian orang menyebutnya syirik, namun keberadaan pekan budaya ini mampu meningkatkan potensi desa. Setidaknya dengan banyaknya stan-stan permainan dan makanan yang digelar di lapangan desa berdampak positif pada perekonomian warga. Jelas Mbah Bokari belum setenar (Alm.) Mbah Surip. Namun jika kegiatan budaya semacam ini konsisten dilakukan maka besar kemungkinan Desa Cebongan Kidul akan menjadi ikon pariwisata andalan di Kab. Sleman.
Apa pembaca pernah datang menyaksikan kirab budaya semacam ini?






