Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Sendang Pitu
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

Kain Bermotif yang Ekslusif


Indonesia boleh bangga dan gembira, sebab batik Indonesia secara resmi diakui oleh UNESCO sebagai salah satu dari 76 warisan budaya tak benda (Intangible Cultural Heritage). Kebanggaan dan kegembiraan itu diungkapkan dengan berbagai cara oleh masyarakat kita. Salah satunya adalah munculnya himbauan untuk mengenakan busana batik pada tanggal 1-3 Oktober. Karena itu jangan heran apabila akhir-akhir ini populasi busana batik meningkat di jalan-jalan perkotaan.

 

Sebagai orang yang mengaku warga kota Jogja, tentu diriku tak akan melewati acara Pencanangan Monumen Batik di perempatan nol kilometer pada hari Jum’at pagi (02/10/2009). Acara dimulai pada pukul 07.30 pagi, walau beberapa jam sebelumnya hujan sempat mengguyur kota Jogja. Undangan yang kuterima dari Mas Imam, salah satu personil Bike2Work mewajibkanku untuk mengenakan busana batik. Benar saja, di perempatan nol kilometer penuh dengan orang-orang berbusana batik dan tentu lengkap dengan sepeda mereka masing-masing.

 

 


Ratusan siswa-siswi sekolah Kota Jogja
bersepeda dan berbusana batik.



Siswi SMK 5 Yogyakarta memeragakan membatik tulis.


Kebaya (Keluarga Besar Waria Yogyakarta)
turut memeriahkan perhelatan ini.



Pak Herry Zudianto menerima sambutan
dari Ibu Larasati Suliantoro.


Ada banyak elemen masyarakat dari Kota Jogja yang memeriahkan acara ini. Sebut saja komunitas Podjok (Paguyuban Onthel Kota Jogja), Bike2Work, Kebaya (Keluarga Besar Waria Yogyakarta), Siswa-Siswi Sekolah, dan Keroncong Kecamatan Keraton. Pada kesempatan ini Pak Herry Zudianto membuka selubung papan motif batik Semen Rama sebagai tanda Pencanangan Monumen Batik. Setelah sebelumnya beliau menerima penghargaan dari Ibu Larasati Suliantoro, Ketua Umum Paguyuban Pencinta Batik Indonesia Sekar Jagat. Dengan adanya monumen batik ini diharapkan Kota Jogja dapat menjadi pusat keunggulan dari filosofis batik.

 

 

Kain yang Eksklusif

Selama ini batik terkesan sebagai busana yang ekslusif. Mengapa tidak? Kita jarang menjumpai busana batik di jalan-jalan dibandingkan pada perhelatan resmi. Harga yang harus ditebus untuk selembar kain batik pun cukup menguras kantong. Berkisar ratusan ribu hingga jutaan, tergantung motifnya dan kain yang digunakan. Membeli kain batikpun tidak bisa per meter, harus satu-utuh seperti yang dikerjakan oleh para perajin batik. Tak heran jika pada masa silam, batik adalah busana anggota kerajaan yang tak sembarang orang boleh mengenakannya.

 

Untuk mencoret kesan eksklusif itulah muncul beraneka ragam motif kain yang menyerupai batik. Bolehlah dikata sebagai batik imitasi. Selain itu teknik pengerjaan batik konvensional, yaitu teknik tulis dan teknik cap, menjadi salah satu faktor yang membuat harga batik konvensional tak ramah di dompet. Karena itu muncullah moderinisasi dengan teknik printing (pakai mesin .red) yang bisa menekan ongkos produksi. Namun perlu diperhatikan bahwa batik imitasi maupun batik printing tidak masuk kategori sebagai batik yang diakui oleh UNESCO.

 

Setelah diriku merenung, memang kesan eksklusif akan selalu melekat pada batik. Mengingat teknik pengerjaannya, waktu dikenakanannya, cara perawatannya, hingga harga yang harus ditebus. Mungkinkah batik bisa merakyat layaknya kaus distro? Apakah dengan itu lantas membuat batik menjadi tak eksklusif? Namun ironisnya, kini dengan batik yang masih eksklusif, hidup para pengerajin batik masih jauh dari kata ekslusif.


 


Model cantik pun turut memeragakan busana batik. Ada yang tau nomer hapenya namanya?

 

Apakah pembaca budiman punya busana batik dan sering mengenakannya?


  • wah.... keyeeenn.....
    Mari berbatik Riau... eh,... Mari Berbatik Ria....
    Di Riau juga ada batik po?
    Wisata RiauSenin, 05-Oktober-2009, 14:23
  • punyaaa :p
    batik seragam pertukaran-pelajar sama osn06, dikasih sama pemerintah kota/prop Jogja, he3
    tapi jarang mengenakan, soalnya mengenakan seragam putih-biru jhe
    Seragam Telkom ndak ada yang batik po? :p
    tiaSenin, 05-Oktober-2009, 14:28
  • model yang foto depan sepeda bukan waria kan ??? qiqiqiqiqiqi
    Sepertinya sih bukan mbak, tapi belum tau pasti soalnya ndak saya "inspeksi" lebih mendalam, hehehe
    frozzySenin, 05-Oktober-2009, 15:57
  • punya batik dunbk: daster! enak banget makenya hehehehe
    daster dari batik apa ya dibuat dari kain batik yang harganya ratusan ribu itu yah?
    Eka Situmorang-sirSenin, 05-Oktober-2009, 17:53
  • wuuuiiihh....BATIK....
    di belahan dunia manapun, kain yang bermotif dikenal dengan nama batik...

    batik mang tak ada matinya....

    tak pernah ketinggalan zaman...nggak kenal mo trend warna warni kek..trend hitam putih kek..trend millenium kek..batik tetap yahuiii...

    BATIK...indonesia BGT...!!
    Hohoho, apa dirimu juga sering makai batik mba Fiah?
    fiah zhaphirahSenin, 05-Oktober-2009, 18:50
  • bagus, kang.. modelnya.. ehehehe..
    ntar dulu, itu model kan? Wanita asli kan? hehehe
    morishigeSenin, 05-Oktober-2009, 19:21
  • kalau baju batik yang banyak beredar itu batik cap kan? banyak yang nggak ngerti kalau yang ditetapkan UNESCO itu adalah batik yang ditulis/digambar dengan cairan malam, yang bahan warnanya alami. jadi nggak semua jenis batik juga...

    hwaduh ayu tenan itu model...itu bukannya sinden atau penyanyi campursari terkenal jogja ya, siapa itu namanya lupa saya...yang tinggalnya di mbantul kalo nggak salah.
    Memang baju batik yang ditetaplan oleh UNESCO itu adalah batik tulis. Namun batik cap juga teknik membatik warisan budaya bangsa kita. Beda dengan batik printing yang pakai mesin. Yang beredar di pasaran memang lebih banyak batik cap karena biaya produksinya lebih murah dibandingkan batik tulis sehingga harga jualnya lebih terjangkau.

    Eh, mbaknya itu sinden toh? Ayo mas inget-inget lagi nomer hapenya eh salah namanya maksud saya :D
    geRrilyawanSelasa, 06-Oktober-2009, 13:23
  • batik printing pernah menghajar industri batik tulis dan cap di laweyan. beberapa perusahaan batik di sentra batik solo itu gulung tikar karena harga batik printing yang murah.

    secara kualitas, batik tulis/cap memang layak berharga tinggi. selain mutu kain dan coraknya yang bagus (sangat jauh daripada batik printing) proses pembuatannya yg rumit memang patut dihargai mahal.

    membeli barang produksi sendiri dengan harga mahal kan berarti menghargai budaya kita sendiri, bukan?

    e tapi, batik-batik "murahan" atau "mahal" selalu punya pangsa pasarnya masing-masing.. :)
    Betul, membeli dengan harga "ekslusif" memang salah satu cara untuk mengapresiasi serta menghargai karya budaya bangsa kita. Tapi ya itu susah juga cari pakaian batik tulis dengan harga dibawah seratus ribu. Ada ndak ya?
    zamSelasa, 06-Oktober-2009, 14:11
  • adanya putih biru, bukannya kamu pernah diinspeksi sama mbak2 telkom yah? :p haduh, tapi kok respondennya belum mandi gitu, pake sarung lagi, weleeh.. :p
    Dulu itu emang pakai batik ya? Aku ya belum mandi, wong mbak Telkomnya datang pagi buta gitu...
    tiaSelasa, 06-Oktober-2009, 16:49
  • aku punya aku punya...
    batik jawa, batik kalimantan,...
    ah..pengen rasanya koleksi batik dr seluruh indonesia..

    btw musium batiknya di sebelah mana ya?
    sama istana negara itu mananya?
    Sepertinya masuk ke dalam area Keraton mbak, tapi saya kurang ngerti juga soalnya belum pernah kesana.
    yustha ttSelasa, 06-Oktober-2009, 21:34
  • Punya. Kan tiap jumat mesti pake. PNS gitu... :D

    (wijna bertanya: jadi kalo bukan PNS bakal ga make batik?)

    Kalo ga diwajibin kayane iya, emang, jarang beli baju jg soale. Batik tu buat di rumah aja, kan adem... (nah, bukan batik yg sebenarnya pastinya)
    Itu yang di rumah jelas daster batik atau seprei batik yang dihargai Rp 20.000-30.000 satu potongnya. :p
    nurKamis, 08-Oktober-2009, 15:35
  • Saya Gak punya batik sama sekali... seperti yang dibilang, yang diakui UNESCO itu batik konvensional, jadi saya gak punya satu pun.

    Pernah mo beliin oleh2 buat orang luar negri, dikasih duit 500rb tapi tetep aja gak bisa dapet batik tulis, akhirnya beli batik cetak juga. di pasar Raya Grande jakarta, batik tulis paling murah diatas satu juta loh mas...
    Kasian dirimu mas, nitip lah sama teman yang di Jogja. Di Pasar Batik ada juga yang murah, Rp 20.000-30.000 itu buat seprai kasur atau buat gendongan adik bayi.
    Gandi WibowoKamis, 08-Oktober-2009, 19:51
  • wah..wah... asyik tenan jebule dolan mrene.
    ayo, kapan dolan Solo?
    kapan ya Pakde? Yen aq wis nduwe SepedaLipet lah. Ameh tak tumpaki Prameks tur isa keliling2 Solo.
    blontank poerJum'at, 16-Oktober-2009, 09:33
  • nice!!!
    thanks!
    cha22Rabu, 21-Oktober-2009, 15:40
  • Dan tanggal 1-3 Oktober lalu murid2ku berbatik ria dengan motif yang indah2. Menurut pengamatanku orang berbatik jd keliatan lebih tenang dan kalem. Wah senang batik diakui sebagai warisan budaya dunia
    Lha gimana kalau mau marah-marah, ntar baju batik yang mahal itu jadinya rusak donk :D
    emeritaJum'at, 18-Desember-2009, 21:31

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi