Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Pesta Kopi Darat Edisi Jogja
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

Lupa Jogja Istimewa


Diriku memang lahir di tahun 80-an. Lebih muda dari usia Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Tapi bukan berarti diriku lupa dengan cerita dibalik berdirinya kerajaan Mataram itu. Tentu diriku ingat dengan Pangeran Mangkubumi yang semasa kecilnya bernama Raden Mas Sujana, dan kelak di akhir hayatnya bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana I. Tentu diriku tahu siapa beliau, putra dari Amangkurat IV, raja Kasunanan Kartasura dari seorang selir. Beliau lah putra raja yang memberontak terhadap VOC. Pemberontakan itu berujung kepada Perjanjian Giyanti, dimana beliau memperoleh bagian wilayah Kesultanan Surakarta yang saat ini dikenal sebagai Yogyakarta.

 

Diriku memang bukan asli warga Jogja. KTP pun masih berlabel Ibukota. Di Jogja hanya menumpang hidup sembari merampungkan kuliah. Tapi entah kenapa diriku merasa sebagai warga Jogja. Diriku bukan hanya merasa sebagai warga Jogja, tetapi warga dari propinsi DI Yogyakarta, warga dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Diriku berusaha untuk mengenal lebih jauh, mendatangi berbagai pelosok yang ada di Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunung Kidul. Aku merasa memiliki Yogyakarta.

 

 

 

Diriku memang bukan warga negara yang alim. Masih sering menerobos hukum dan peraturan. Tapi diriku masih tahu RUU Keistimewaan Yogyakarta yang sampai sekarang belum tuntas disahkan. Mungkin kita semua tidak terlalu merasakan Yogyakarta sebagai sebuah kerajaan. Kerajaan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita anggap tanah Jogja ini sama dengan tanah lain di pelosok nusantara. Karenanya kita anggap Jogja tak istimewa. Kita lupa bahwa Sri Sultan Hamengkubuwana IX membuat peran Jogja menjadi teramat penting di era kemerdekaan.

 

Diriku tahu bahwa bagi teman sepantarku, apa yang aku utarakan ini dianggap terlalu melebih-lebihkan. Lebay katanya. Sok tahu katanya. Jogja tak istimewa katanya. Apa mungkin sebab penduduk muda Jogja adalah pelajar singgah? Sebab Jogja tak lebih dari sebuah Universitas Gadjah Mada? Sebab asal-muasal Yogyakarta tak pernah dipelajari? Miris saat diriku mendengar tutur mereka, ”Yogyakarta hanya tempatku meraih gelar. Yang kupedulikan adalah bagaimana aku kan menyambung nyawa. Apa keistimewaan Jogja bisa membuat perutku kenyang dan tidurku pulas?”

 

 

 

Wahai Yogyakarta, dengarkan lisanku ini...

 

Diriku paham mereka yang bertutur seperti itu adalah mereka yang sudah terperangkap dalam lingkaran harta, jabatan, dan nafsu semata. Mereka adalah mereka yang hatinya belum diruwat. Mereka adalah mereka yang tak lagi peduli pada nilai-nilai sosial-budaya dan membuat nilai-nilai luhurmu semakin memudar. Mereka adalah mereka yang tercangkok modernisasi instan, buah simalakama yang juga akan semakin memperkeruh keistimewaanmu.

 

Tapi wahai Yogyakarta yang menjadi alas kakiku berpijak. Kami tetap ingin melestarikan nilai-nilai luhurmu. Kami tetap berupaya membujuk mereka agar turut merasa memiliki Yogyakarta. Kami tetap berupaya mengingatkan mereka hakikat dari sebuah Yogyakarta. Karena kami percaya nilai-nilai luhur dari keistimewaanmu itu adalah suatu pelajaran berharga yang akan terus mengakar dalam sanubari kami. Karena kami adalah warga Yogyakarta, warga Propinsi DI Yogyakarta, warga Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

 

 

 

Dedikasi...
Untuk kembali menyuarakan RUU Keistimewaan Yogyakarta. Sekaligus sebagai refleksi Yogyakarta yang kini makin memudar nilai-nilai luhurnya. Untuk pembaca yang asing dengan Yogyakarta, mohon maaf apabila artikel ini terasa sulit untuk dipahami.
  • Just to be the 1st.

    Kok kesanne lbh ke curhatmu, daripada alasan saat ini pun jogja msh istimewa :D

    Hayo apa isi RUUK jogjakarta?
    wah...mencuri pertamax tenan ki! Aku memang curhat Ma, hehehe. Isi RUUK salah satunya adalah penetapan Gubernur DIY.
    emSabtu, 03-Oktober-2009, 14:37
  • iki kowe ngomong opo to, nak?
    apapun yang kau pikirkan saat ini, wisna, tetap semangat ya. Jogja membutuhkan orang2 sepertimu, kawan.
    Pin, itu kalimat yang dicetak merah khusus buatmu :D
    samsul arifinSabtu, 03-Oktober-2009, 19:37
  • sungguh mulia htimu mas
    kan yang ngajari sampeyan mbah!
    suwungSabtu, 03-Oktober-2009, 20:27
  • dirinya selalu protes kalau aku menyebut aku orang jogja, katanya aku kan orang bantul, he3
    but, I love Jogja, so much so much so much :p
    Jogja, masih seperti dulukah?
    Masih seperti dulu saat kau meninggalkan Jogja, eh salah, Bantul, hehehe
    tiaSabtu, 03-Oktober-2009, 21:21
  • Kalo kuasa sultan hilang, apa yogya tetep istimewa ya mas?
    Ini efek Otonomi daerah kalo gak salah ya?
    Otonomi yang kebablasan menurut saya mas. Seperti efek Keraton bagi masyarakat Jogja udah nggak terasa lagi.
    Gandi WibowoMinggu, 04-Oktober-2009, 03:41
  • aku ngerasa Jogja sekarang udah gak kayak dulu. keistimewaannya? mungkin hanya karena simbolis kraton dan "nuansa nostalgia dan cerita sejarah". selebihnya? sama aja dengan kota lain menurutku.

    soal kesultanan yang jadi pemimpin administratif? ah, Sri Sultan saja udah lelah dengan hal ini. :)

    menurutku memang perlu didefinisikan lagi apa istimewanya Jogja daripada provinsi lain. :)

    ini tentu akan menimbulkan pro dan kontra.. :)

    secara personal, Jogja memang istimewa buatku, kok. terlepas dari status keistimewaannya sekarang. :)
    Memang sepertinya harus ada definisi baru dari keistimewaan Yogyakarta mas. Entah apakah itu terkait dengan kepemimpinan Sultan ataupun hal-hal lain. Tapi kepingin saya, apa yang menjadikan Yogyakarta itu istimewa adalah budayanya. Jangan sampai Yogyakarta luntur budayanya karena itu akan mengubah Yogyakarta seperti kota-kota lain pada umumnya.
    zamSenin, 05-Oktober-2009, 12:17
  • Sebagai warga luar Jogja, saya mandang Jogja nggak lebih dari sekedar tempat keraton dan tempat beli bakpia. Apa saya ketinggalan sesuatu?
    Mbak dokter, sekarang isu RUU Keistimewaan Yogyakarta sedang gencar-gencarnya diangkat lagi.
    VickySenin, 05-Oktober-2009, 15:57
  • meskipun bukan org yogya, gw cinta bgt ma yogya, cinta smua hal ttg yogya & berharap suatu hr nanti bs jd org yogya meskipun cm pendatang.. yogya pastinya akan slalu istimewa..
    Istimewa bukan karena ada banyak batu di Jogja toh? :D
    vinnaSenin, 05-Oktober-2009, 17:28
  • Diruwat???
    aiih tajam bener tulisanmu yang ini...
    Saya pernah nulis artikel berjudul Ruwatan Massal di Kulon Progo toh mbak? Maksud saya diruwat ya diruwat itu.
    Eka Situmorang-sirSenin, 05-Oktober-2009, 22:38
  • artikel yang menarik,..
    nuwun
    ankghaSelasa, 09-Maret-2010, 01:34
  • aiiih...jogja adalah kekayaan budaya bangsa.
    seperti kebun raya bogor: musium hidup.
    naaah ,joga itu budaya hdup.harus dipelihara.
    untuk jogja cocoknya : otsus,otonomi khusus.
    Otonomi khusus seperti apa bentuk nyatanya?
    udi basukiSelasa, 09-Maret-2010, 11:24

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi