Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Pesta Kopi Darat Edisi Jogja
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

Mblusuk Gili Trawangan


Banyak fotografer bilang kalau Lombok itu pantainya bagus pakai banget. Soalnya, pantai-pantai di pulau Lombok itu pasirnya putih, ada bukit hijaunya, dan jarang dijamah manusia. Sebenernya pantai yang bagus itu nggak hanya ada di pulau Lombok aja, tapi juga ada di pulau-pulau kecil sekitar Lombok yang disebut Gili oleh masyarakat setempat. Dari sekian banyak Gili yang mengelilingi pulau Lombok, ada satu Gili yang populer, namanya Gili Trawangan.

Naik Perahu

Berbagai kebutuhan pokok diangkut juga naik kapal.

Gili Trawangan adalah Gili terbesar dan letaknya berdekatan dengan Gili Air dan Gili Meno. Gili ini berlokasi di Kec. Pemenang, Kab. Lombok Barat. Untuk bisa menyebrang ke Gili Trawangan, kita bisa menumpang perahu yang berlabuh di Pelabuhan Bangsal. Jangan heran kalau di perahu itu juga dijejali dengan aneka macam sandang-pangan-papan, karena kebutuhan hidup di Gili dipasok dari Pulau Lombok. Tarif menyebrang ke Gili Trawangan adalah Rp 10.000 per orang, kalau sudah sampai di Pelabuhan Lembar cari dan hampiri saja kapten kapal dan silakan bertransaksi ^^. Perjalanan dari Pelabuhan Lembar ke Gili Trawangan memakan waktu kurang lebih 30 menit.

Populer Bule

Pas malam, turis bule banyak keliaran di jalan-jalan.

Kalau kita nggak melihat bendera merah-putih berkibar-kibar, kita nggak bakal menyangka kalau Gili Trawangan ini masih wilayah Indonesia. Kenapa? Soalnya disana banyak banget turis bulenya! Memang Gili Trawangan ini dikenal sebagai surganya snorkeling, diving, dan surfing. Untuk penginapan, Gili Trawangan menawarkan banyak pilihan. Dari hotel berbintang bertarif jutaan rupiah per malam sampai losmen kecil bertarif ribuan rupiah per malam. Tinggal pilih sesuai kantong selera. Diperhatikan juga bahwa kapal-kapal penyebrangan itu hanya beraktivitas dari pukul 6 pagi hingga 6 sore.


Ayo Berwisata Ekologi!
Sebelumnya aku mau memberi tahu dulu, kalau setiap liburanku itu nggak kugunakan untuk bersenang-senang. Pertama, karena aku ini hobi motret, jadi di setiap liburan aku merasa dapat kewajiban untuk bisa menghasilkan foto bagus. Kedua, karena aku ini hobi mblusuk, jadi di setiap liburan aku berusaha untuk mengenal lebih dekat tempat yang aku singgahi itu. Termasuk diantaranya bercengkrama dengan warga sekitar, syukur-syukur dapat gebetan kenalan baru. Paling tidak aku jadi tahu bagaimana kehidupan disana dan mengenal kebudayaan mereka. Wisata semacam ini yang disebut sebagai Wisata Ekologi dan bisa bikin kita merasakan sensasi Indonesia yang sesungguhnya.


Menghabiskan hari dengan menatap pemandangan indah ditemani pasangan, siapa sih yang ndak mau?


Dilarang Ada Motor

Kapan dan dimanapun, tetep nggowes :)

Kembali ke topik utama ^^, dari apa yang aku sebutkan diatas aku harus mblusuk di Gili Trawangan ini. Kendaraan yang ada di Gili Trawangan ini terbatas, hanya ada CiDoMo bertarif Rp 10.000 – 20.000 (tergatung jarak tempuh) dan sewa sepeda. Aha! Sebagai manusia Bike to Work, jelas aku milih menyewa benda yang bisa digowes itu. Karena tampangku yang rupawan memelas, aku berhasil mendapatkan tarif yang murah buat nyewa sepeda yaitu Rp 15.000 per jam atau Rp 30.000 seharian. Melihat diriku yang gagah kepayahan membawa kamera dan tripod, mbak sewa sepeda menawarkan sepeda jengki yang ada keranjangnya. Duh, serasa naik Sierra DX-nya mbak Indomielezat. Tapi tak apalah, dengan ini mblusuk bisa dimulai!

Konsumen Turis Bule

Es Krim lokal, Gili Gellato, harganya Rp 10.000 per scoop.


Kalau kita melihat sisi selatan Gili Trawangan, kita bakal menemukan surga! Disinilah denyut nadi perekonomian Gili Trawangan. Beragam kafe, restoran, dan pub berjejer di sepanjang pantai. Konsumen utamanya? Jelas turis bule lah! Harga makanan disana sebenernya nggak mahal-mahal amat, Rp 30.000 keatas lah. Minuman alkohol aja dijual mulai harga Rp 10.000. Tapi berhubung diriku ini muslim taat yang berkantong cekak, alhasil selama disana aku cuma makan makanan ndeso. Syukur disana masih ada makanan ngeyangin dengan harga kurang dari Rp 10.000. Jadi terhindar dari makan pasir dan air laut tiap hari deh. Selain itu kebutuhan pokok lain yang dijual di toko-toko kelontong, pada umumnya sedikit lebih mahal. Mungkin jadi mahal di ongkos kirim.

Warga Lokal

Masjid Nurul Istiqomah yang cukup besar.


Siswa-siswi SMP jalan kaki ke sekolah.


Tipikal rumah warga yang ada di pedalaman.

Kalau di sisi selatan surga, bagaimana di sisi utara? Nggak usah jauh-jauh deh, cukup 1-2 km dari bibir pantai selatan ke arah utara, kita bakal menemukan perkampungan warga. Mau cari rumah mewah, kalau nggak untuk penginapan ya disini nggak ada. Rata-rata rumahnya berukuran kecil, berdinding bata, layaknya rumah-rumah kampung di pulau Jawa. Kondisi jalan-jalan kampung ini gelap kalau malam, karena minim lampu penerangan jalan. Apalagi Gili Trawangan ini kerap mengalami padam listrik pas malam hari. Mantap jaya lah hidup di tengah pulau tanpa listrik.

Aku penasaran dengan suara di sore hari yang kudengar saat tiba pertama kali di pulau ini. Aku tanya saja kepada warga, "Disini masjid dimana ya Pak ?" dan Alhamdulillah dengan kesasar aku berhasil menemukan masjid. Katanya di Masjid di Gili Trawangan ini ada dua. Di Masjid Nurul Istiqomah itu aku menyempatkan shalat Isya berjamaah. Sayup-sayup di bagian sisi masjid aku mendengar ada anak-anak yang sedang membaca Al-Qur’an. Kenapa aku menuliskan hal ini, karena Gili Trawangan ini identik dengan kehidupan bersenang-senang ala bangsa barat. Jadi agak kontras aja melihat suasana keagamaan yang cukup kental di bagian lain pulau ini. Nggak hanya masjid, aku juga mencari fasilitas umum lain seperti sekolah, puskesmas, dan pasar. Aku kepingin tahu aja, bagaimana prasarana penunjang hidup bagi warga lokal yang (biasanya) terpinggirkan oleh prasarana penunjang pariwisata untuk turis asing. Sedikit ke utara aku menjumpai pemandangan kebun kelapa. Rupanya beberapa warga mengandalkan kelapa sebagai tumpuan ekonomi mereka. Disini aku merasakan kehidupan warga lokal Gili Trawangan yang sesungguhnya. Jauh berbeda dari hiruk-pikuk yang ada di sisi selatan.


Jangan Sampai Dikuasai Bule!
Kalau aku bilang, Gili Trawangan itu hidup, dalam arti mampu menunjang kehidupannya sendiri dengan potensi yang ada disana. Walau di beberapa tempat yang jauh dari pusat perekonomian, masih bisa ditemui kesenjangan ekonomi yang nyata. Perlu diperhatikan, bagi tempat pariwisata yang bercampur dengan pemukiman warga, bisa jadi ada pengaruh-pengaruh asing yang menyusup ke dalam sendi kehidupan warga. Kalau ini terjadi, wah bisa runyam, karena nilai-nilai sosial dan budaya warga akan menghilang dan tergantikan oleh nafsu mengeruk keuntungan semata. Semoga jangan sampai deh itu terjadi! Melihat banyaknya turis asing aku ngeri sendiri kalau kelak tempat ini dikuasai sepenuhnya oleh investor asing. Hiii....


Kapal-kapal yang terapung jadi pemandangan di laut pagi hari.

Aku hanya bisa singgah sebentar di Gili Trawangan. Menurutku cara paling nikmat untuk berwisata Ekologi Gili Trawangan sepertinya adalah dengan numpang hidup di rumah warga, seperti KKN lah, 2 bulan beraktivitas disana. Semoga kesempatan seperti itu datang padaku kelak.

Jatuh...
Sehabis motret foto di awal artikel ini, aku jatuh, mencium pasir, dan jadi tontonan turis bule...
  • mas, minta gambar2 pantainya ya, sekalian di burn di CD ya, makasih.
    weee? segampang itu kau meminta ke diriku? :p
    tiaSelasa, 25-Agustus-2009, 08:57
  • mas wijna mau mempersulit diriku yang sedang sulit ini? :p
    saya kan pengen punya gambarnya, yang paling atas itu kayak foto2 di visit indonesia year.
    eh, tapi hari ini aku seperti menemukan L, maksudku seseorang yang mirip sama L :D
    mau mempersulit diriku yang sedang sulit ini?...hmm...saya suka kata-katamu ituh :)

    Siapa orang yang mirip L ituh yah? hehehe
    tiaSelasa, 25-Agustus-2009, 13:53
  • Jalan2 teruuuus )
    btw emang lu sengaja jalan2 buat cari gebetan yg siap dijadikan pacar kan.. (hayo ngaku)

    Btw, tarif sepedanya jomplang bgt yah... 15rb/jam, 30rb/hari
    weleeeeh matematikanya dimana hehehe

    Anw... yang saya tahu, saat ini pemerintah kota Lombok, sedang mengoptimasikan pariwisatanya (Insya Allah tidak dikuasai bule).

    Oh ya.. ntar gue email ya.. udh ada ketertarikan untuk beli kamera SLR nih.. si Mpus kurang memadai kalo buat foto2 alam...
    Sebenernya saya cari kambing buat dijadikan istri mbak, hehehe. Justru itu mbak, mending kita sewa seharian toh, kalau mau usaha dilobi seminggu 30rb :)

    Mana emailnya???
    Eka SItumorang - SirSelasa, 25-Agustus-2009, 15:33
  • Mana yang lebih nyakitin, Na? Jatuh nyium pasirnya atau jatuh ditonton bulenya? :-P
    Jatuh nyium pasirnya mbak, karena bulenya pada kebingungan soalnya ada makhluk idup ga jelas yang guling-guling di pasir. :)
    Vicky LaurentinaSelasa, 25-Agustus-2009, 16:43
  • Subhanallah... Padahal biasanya aku lebih suka gunung, tapi ni kok pantainya menggoda sekali. jadi berpikir...uhm.. ga deh! Kqkqkq

    Hihihi, ada2 saja. tapi mblusuk a la dirimu memang seru banget ya Wis... (lagi2 kasih jempol) ^-^v
    Apa yang kauu pikirkaaan? hmmmm... :)
    nurSelasa, 25-Agustus-2009, 17:03
  • dulu waktu kesana hampir trauma
    pas cuaca buruk, perhaunya kemasukan air semua
    kita basah kuyup beserta barang2 bawaan :)
    wah mampir kemari juga mas Zulhaq :)

    untungnya kemarin kesana pas musim kemarau, jadi ombaknya ngga terlalu besar.
    zulhaqSelasa, 25-Agustus-2009, 22:52
  • namanya rahasia, tapi inisialnya juga memang L. sebagai anteknya, aku kan harus tetap merahasiakan identitasnya :P
    Hiiii...saya curiga niiy!
    tiaJum'at, 28-Agustus-2009, 12:36
  • ini dia tempat yang dari dulu pingin saya kunjungin tapi belom pernah kesampaian. biasa masalah ongkos hahaha...dan kesempatan tentunya.
    saya doakan mas semoga dapet kesempatan dan ongkos buat pergi kesana :)
    geRrilyawanSabtu, 29-Agustus-2009, 02:10
  • sip pantainya
    emang siip mbah, :)
    suwungSenin, 31-Agustus-2009, 15:58
  • waow! pengalaman yang luar biasa....!!!
    kpn2 klo ke lombok lg, mampir tempat ku ya maw...
    (itupun kalo aq mang lg di lombok...hehe..:p)
    Ada atau nggak ada kamu, kan kulkas rumah terbuka buat siapapun toh? hehehe. Kmaren tu emang smpet kepikiran mau ke rumahmu. Tapi di hutan mana itu yang aq nggak tau.
    titis_pSelasa, 01-September-2009, 17:18
  • huuuu...!!!!
    enak aja...
    liat aja besok kalo ke lombok lg, aq pura2 gak kenal aja....
    hehehe....
    diriku kan keliaran pas drimu ndak pulang ke rumah, jadi besok klo dirimu pulang siapkan aja duplikat kunci rumah biar swaktu-waktu aku ke Lombok lagi bisa masuk rumahmu, hohoho...
    titis_pSabtu, 05-September-2009, 14:31
  • keren mas artikelnya thumb bisa jadi referensi. Trus di sepanjang Gili Trawangan pantai memang bagus semua yah, trus kalo mau nyebrang ke Gili yang lain kena ongkos perahunya berapa? Rencananya tahun depan mau kesana, nanti boleh yah aku tanya-tanya, makasih :)
    Kalau nyebrang ke Gili Air Rp 8.000 dan kalau ke Gili Meno Rp 9.000. Murah toh? Silakan kalau mau nanya-nanya :D
    iksSabtu, 21-November-2009, 15:13
  • katanya dsono free ya..??
    no police..???
    thats true..???
    iya ndak ada polisi, tapi bukan berati bisa seenak hati lho.
    oyaRabu, 25-November-2009, 12:35
  • MANTAP ABISSS!!!!
    :)
    BagasSabtu, 12-Desember-2009, 08:40

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi