Pencari Batu vs Programmer: Goa Selarong
Tahun 1785, tepatnya tanggal 11 November, lahirlah seorang bayi laki-laki di kalangan Keraton Yogyakarta. Bayi laki-laki itu bernama
Bendoro Raden Mas Ontowiryo, putra dari
Sultan Hamengkubuwono III dan selirnya,
R.A. Mangkarawati. Di tahun 1825, ia mengangkat senjata bersama rakyat untuk melawan Belanda ketika Belanda menginvasi tanah dan tempat tinggal beliau di Tegalrejo, Magelang. Beliau yang kemudian dikenal sebagai
Pangeran Diponegoro, memberikan perlawanan cukup sengit selama 5 tahun dan hampir menguras ludes semua harta dan pasukan Belanda. Salah satu tempat yang dijadikan markas Pangeran Diponegoro adalah Goa Selarong yang letaknya di Kec. Pajangan, Kab. Bantul, Yogyakarta.
Kata Tia;
Ini Sendang Manik Moyo, buat tempat berwudhu.
Kata Tia;
Ini umpak masjid, bentuknya mirip ornamen candi.
Diriku bilang ini Yoni, disini ada candi kah?
Tahun 2009, sekitar 179 tahun setelah Perang Diponegoro, tepatnya di hari Minggu (28/06/2009) diriku
nggowes sejauh 14 km dari kota Jogja ke Goa Selarong. Aku
nggowes ke Goa Selarong nggak hanya karena pingin menapak-tilas sejarah perjuangan pahlawan nasional kita itu, tapi juga untuk
bertempur (dari judulnya kan vs = versus) dengan seorang programmer yang datang jauh-jauh dari Bandung. Programmer itu berwujud seorang gadis, bernama
Septia Rani, akrab disapa
Tia (
reminds me of Wul!), dikategorikan
blogger, dan tentu dirinya juga meramaikan komentar di blogku ini. Hehehe.
Kita janjian ketemu di perempatan Masjid Agung Bantul. Katanya sih dari sana ke arah barat, sekitar 800 meter. Namun, berhubung aku nggak tau utara-selatan-timur-barat, jadinya aku diem aja kayak orang blo'on di lampu merah. Setelah sekian lama, datanglah wanita yang dimaksud itu. Awalnya sih kaget, karena dirinya beda dengan penampakan yang ada di Facebook. Tapi diriku yakin, dirinya juga pasti lebih terkaget-kaget karena akhirnya dirinya
melihat dengan mata kepala sendiri, wujud dari seorang pencari batu doyan mblusuk itu. :)
Tia dateng pakai sepeda, jadi kita berdua sama-sama
nggowes ke Goa Selarong. Dari Kota Bantul sih jaraknya deket, cuma sekitar 4 kilometer aja. Retribusi masuk ke Kompleks Goa Selarong itu Rp 2.000 per orang dan Rp 500 untuk sepeda. Sebenernya dulu pas masih kecil aku pernah kemari, tapi suasananya udah lupa. Ternyata Kompleks Goa Selarong ini juga merangkap jadi bumi perkemahan. Cocoklah, karena disini konturnya bukit dan ada hutannya.
Spesial request dari Tia, katanya dirinya mau ngicipin sensasi mblusuk. Ya udah deh, kuajak aja dirinya outbond naik-turun bukit, keluar-masuk hutan. Eh nggak disangka, dirinya kuat juga jalan berat (
ngece!). Di sepanjang perjalanan itu kita menemukan berbagai macam benda cagar budaya, kayak Sendang, Umpak Masjid, dan Yoni.
Ibu ini rumahnya deket Goa Selarong, sehari-hari beliau menjajakan pisang rebus dan buah sawo kepada pengunjung.
(Dipermak pakai Adobe Photoshop)
Kata Tia;
Mas, aku capek! Istirahat dulu deket Goa Putri ini yah.
Oiya, kenapa dirinya kusebut programmer? Karena Tia ini masih mahasiswi semeter 4 jurusan Teknik Informatika. Berkat bidang ilmunya itu, kita bisa ngobrol dengan gonta-ganti bahasa. Dari bahasa manusia, jadi
bahasa mesin. Ngomongin IF, WHILE, END yang bikin pusing orang-orang normal pada umumnya. Sebenernya Tia ini di Jogja sedang menunggu kerja praktek, sekalian pulang kampung karena kampungnya gadis ini ada di Jogja. Ngobrol terus, nggak terasa kita udah sampe di
Goa Kakung dan
Goa Putri. Iya, Goa Selarong ini sebenernya terdiri dari dua gua. Goa Kakung, tempat Pangeran Diponegoro ngatur taktik, rapat, dan istirahat. Serta Goa Putri, tempat tinggal istri prajurit dan anak-anak. Di dekat sini juga ada air terjun yang sayangnya kering karena lagi musim kemarau. Nggak hanya bumi perkemahan, trek bukti dan hutan di Kompleks Goa Selarong ini juga difungsikan untuk olahraga motorcross. Woooo...
Pulang dari Goa Selarong, Tia menawarkan rute yang berbeda. Katanya penuh sensasi, karena dia tahu kalau diriku seneng mblusuk pakai sepeda. Ternyata emang iya,
rute pulang itu penuh tanjakan dan turunan ekstrim! Aku jadi merasa salah sama Tia. Wong dia bukan tukang-genjot, sepedanya bukan MTB, dan berwujud seorang perempuan. Maafkan akuuu, hiks! Di rute yang berakhir di Kasongan itu, kita berpisah. Terima kasih ya Tia udah mau diajak jalan-jalan. Mohon maaf kalau selama jalan-jalan itu kamu tersiksa, hehehe. Lain kali jalan-jalan lagi yuk.