Galabo ah Malam-Malam
Nggak pandang waktu, nggak pandang bulu, siapapun yang punya perut bisa keroncongan. Itu tanda perut minta diisi, kata lain harus cari santapan pengganjal lapar. Tapi jarum jam dinding udah bertengger di pukul 22.00. Habis nyewu di rumah Solo, keluarga besar kelaparan, tapi disana ndak ada makanan. Apa ada warung makan yang masih buka jam segini di kota Solo?
Jawabannya ada, dan terbukti sahih karena hampir setiap personil keluarga besar pas masih muda dulu pernah kesana. Namanya
Galabo, punya kepanjangan
Gladag Langen Bogan. Kalau dipecah-pecah per kata punya arti:
Gladag = Suatu perempatan di kota Solo dekat dengan Alun-Alun Utara
Langen = Kesukaan, Kenikmatan, Favorit
Bogan = Kuliner, Masakan
Silakan dirangkai sendiri untuk mendapatkan makna Galabo :)
Bubu Ayam Bu Dewi yang okeh punyah.
Ooo, apa ada yang berminat nyoba sate ular?
Galabo ini letaknya di
Jl. Mayor Sunarso, deket kok sama
Jl. Slamet Riyadi dan
patung beliau. Kalau siang hari Jl. Mayor Sunarso ini penuh dengan hiruk-pikuk kendaraan dari
PGS (Pusat Grosir Solo) dan
BTC (Beteng Trade Center). Selepas jam 18.00, hmmm...jalan itu disulap menjadi pusat jajanan andalan Pemkot Solo. Ada sekitar 60-an gerobag penjaja kuliner, sebagian besar merupakan perwakilan dari kuliner yang sudah terkenal di kota Solo. Bagusnya lagi, Pemkot Solo juga menggandeng Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) untuk menjaga kualitas dari kuliner yang ada. Selain itu di beberapa titik juga terdapat wastafel untuk mencuci tangan.
Sebelum berburu kuliner, pengunjung bisa melihat dulu daftar gerobag yang mangkal di Galabo. Dari namanya sih terdengar unik, ada
Wedang Dongo, Rawon Penjara, Kambing Oven dll. Pilihan malam itu jatuh ke
Bubur Ayam Bu Dewi. Satu mangkuk bubur dihiasi berbagai macam lauk seperti suwiran ayam, suwiran cakwee, remahan pangsit, dan irisan telur pindang. Harganya kalau ndak salah cuma Rp 6.500. Ini yang membuat diriku semakin cinta dengan kota-kota
njawani, karena disana masih ada makanan enak yang murah meriah kayak gini.
Mainan kreatif namanya Kitiran (kanan) dan pelontarnya (kiri).
Bisa nyala kelap-kelip, wooo...
Sambil lagi makan, aku nyambi menikmati cerahnya langit malam. Hooo, aku ngeliat sesuatu berwarna biru-merah kedap-kedip turun dari langit. Awalnya kupikir itu makhluk hidup spesies baru. Eh, ternyata itu cuma mainan spesies baru. Nama mainan itu
Kitiran. Mainan itu kalau dilontarkan ke udara bisa berputar-putar dan turun secara perlahan. Uniknya, di mainan ini ada rangkaian elektronik LED sederhana yang bisa kedap-kedip merah-biru. Mekanisme mengaktifkannya pun sederhana, hanya tinggal menarik katup sedotan plastik yang ada di ujung Kitiran ke arah atas. Gimana bisa kayak gitu, silakan tanyakan ke
anak-anak Elins UGM deh. Kreatif juga yang menemukan mainan ini, berpotensi buat jadi industri kreatif. Di Galabo, penjual kitiran ini hanya seorang dan satu kitiran dihargai Rp 5.000.
Galabo, memang asyik dijadikan tempat nongkrong di malam hari. Tapi, kalau lihat di gambar di awal artikel ini, hujan adalah satu-satunya musuh Galabo. Bubarlah pengunjung kalau hujan turun. Hehehe. Selain itu ruas Jl. Mayor Sunarso yang panjangnya hampir 1 km ini hanya dipadati pengunjung di sisi barat yang dekat Jl. Slamet Riyadi. Deretan grobag di sisi timur seakan sepi pengunjung. Apa itu karena kami datangnya terlalu malam ya?