Tentang Hidup...Sendirian
Hari Jum’at (01/08/2008) aku ijin pulang dari lokasi KKN untuk mengerjakan tugas membuat website. Aku memutuskan ijin satu hari karena listrik di kota Prambanan yang sering byar-pet dan jumlah komputer di pondokan yang tidak sebanding dengan banyaknya pengguna. Ketika aku tiba di halaman rumah, aku menyaksikan lampu-lampu luar rumah masih menyala walau hari sudah beranjak siang. Gerbang untuk masuk ke rumah juga terkunci. Selidik punya selidik, ternyata Mas Tapa, Mbak Novi, dan Mas Aji sedang pulang ke rumah orangtua mereka di Delanggu. Menurut penuturan Mak Ijah, Mbak Novi dan Mas Aji sudah berencana untuk tidak tinggal lagi di rumah Jogja. Hal tersebut dibenarkan dengan SMS dari Mbak Novi yang kuterima pada sore harinya:
Mas Wisna...aku pamit ya...makasih tumpangannya..kuncinya tak taruh tempat biasanya...
Akhirnya saat dimana aku akan tinggal sendirian di rumah yang besar ini terjadi juga. Pada mulanya di benakku kata “sendirian” hampir sama dengan kata “bebas”. Tapi lambat laun kata “sendirian” kini berubah wujud menjadi kata “tanggung-jawab”. Aku tahu, tinggal sendirian berarti harus mengurus segala sesuatunya sendiri. Menjadi kepala rumah tangga walau aku tidak bekeluarga. Tidak bisa lagi melemparkan permasalahan-permasalahan yang ada kepada orang lain. Ah, tetapi kalau dipikir-pikir aku tidak sendirian, masih ada Mak Ijah yang bisa membantu-bantu dan Meng yang bisa memecahkan keheningan rumah.
Situs Ipin
Iseng-iseng aku membuka situs milik kawanku Ipin. Sebetulnya pada kepulanganku ke Jogja sebelumnya, aku ingin sekali bercakap-cakap dengannya. Sekadar untuk mengetahui aktifitasnya dan meluruskan laporan-laporan yang kuterima tentang dirinya sepeninggal aku KKN. Tetapi karena waktu dan tempat memisahkan kami, akhirnya aku hanya bisa mengunjungi dirinya di jagat maya saja.
Aku tertarik dengan artikelnya yang berjudul “Tentang Hidup…”. Kalau diperhatikan, belakangan ini Ipin sering sekali menulis artikel yang menggambarkan kesedihan dirinya. Entah karena itu menghadapi tugas akhir ataupun cinta yang berkelit-kelit. Untuk itu aku juga mencoba membahas apa yang ia bahas, khususnya tentang hidup.
Selesai
Pertanyaan
“Kapan ya semua ini selesai ?” juga muncul di dalam diriku ketika proses pengerjaan tugas akhir berlangsung. Aku juga pernah suatu saat takut bahwa tugas akhir ini tidak akan selesai dan meracuni pikiran bahwa apa-apa yang kukerjakan selalu menemui jalan buntu. Alhasil aku pernah membolos bimbingan dengan berdalih bahwa ada satu topik yang sukar untuk dibahas. Tetapi kemudian aku sadar bahwa membolos bimbingan sama saja dengan melarikan diri dari permasalahan yang ada. Sama seperti dengan selalu menghindar dari wanita yang pernah menorehkan luka di hatiku. Aku juga tahu bahwa tidak setiap orang menguasai topik tugas yang kukerjakan. Aku juga memiliki pendirian bahwa sebisa mungkin tidak akan membebani orang lain yaitu kawan-kawanku yang kala itu juga disibukkan dengan tugas akhir mereka. Sehingga aku aku mencoba untuk berusaha sendiri, mereka tidak perlu tahu bahwa aku kesulitan, yang mereka boleh tahu adalah bahwa aku berusaha selalu sedia membantu mereka di kala mereka kesusahan. Intinya, sejauh apapun aku melangkah dan seberat apapun rintangannya, aku harus tetap berjalan maju. Tetapi ketika itu semua hampir selesai, aku merasa tidak ingin untuk menyelesaikannya. Ternyata aku menyenanginya.
Pikiran
Sebagai orang yang sering memikirkan yang tidak-tidak, kadang kala aku juga dibuat pusing oleh masalah sepele yang sebenarnya tidak perlu kupikirkan lebih jauh. Entah apakah itu masalah sosial, politik, ekonomi, atau agama yang kalau kupikirkan malah membuat pembawaan diriku berubah drastis. Kalau dibandingkan dengan teman-temanku, aku memang bukan orang yang ilmu agamanya sama dengan mereka. Aku mencap diriku hidup di zona abu-abu, dimana yang benar belum tentu benar dan yang salah belum tentu salah. Seperti contohnya, hatiku masih mengakui kejamnya syariat hukuman mati bagi para pembunuh dan pezina.
Dengan tidak memutih atau menghitamkan problem yang ada, aku mencoba untuk memandang sebuah permasalahan dari berbagai sudut pandang. Berusaha untuk mencari sudut terbaik agar masalah yang ada tampak menjadi lebih sederhana. Ibaratnya selembar kertas, maka aku mencari sudut penglihatan yang bisa menampilkan kertas setipis mungkin. Ah, dengan pendirianku yang seperti aku seakan-akan berkelana di belantara logika manusia untuk menjamah segala hal-hal yang muncul di sekelilingku. Ada yang khawatir bahwa suatu saat aku akan terbentur dengan hal-hal yang bersifat Illahi, yang sukar untuk dinalar oleh logika. Sampai kapan aku akan berputar-putar mencari sudut untuk hal tersebut?
Doa
Masalah doa adalah problema yang hingga saat ini masih bersarang di benakku. Entah kenapa, tetapi aku kurang senang dengan doa-doa panjang yang bagiku tidak berarti apa-apa jika kita tidak bekerja dan berusaha. Saat aku menemui kesulitan-kesulitan dalam hidup, banyak yang menyarankanku, terutama Ibuku, untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Tapi kadang-kala aku beranggapan kalau kesulitan itu muncul akibat ulahku sendiri, bukan muncul tiba-tiba karena kehendak-Nya. Namun kini anggapan itu lambat laun mulai sirna, seseorang pernah mengatakannya kepadaku
“Setidaknya berdoa bisa sedikit meringankan beban perasaanmu. Anggap saja berdoa sebagai keluhanmu kepada Yang Maha Kuasa.” Kuncup kamu mbah
Hahahahah
Padahal aku belum baca
Udah kelihatan kuncup.
Nanang Jlamprong
Nanang JlamprongSabtu, 02-Agustus-2008, 17:54
wah, ya udah kapan-kapan kita ngobrol banyak deh wisna. aku ga tahu kalau kamu begitu kangen sama aku.
Saya dititipi tanggung-jawab oleh orang-orang disekitarmu untuk tetap menemanimu ketika mereka sudah tidak bisa membersamaimu lagi.
Assalamu,alaikum
Salam kenal.Aku tertarik sekali ngbaca situs mu.Yang jelas aku menyimpulkan kamu orangnya cerdas. Aku hanya ingin tahu bagaimana sih kebiasaan dan cara belajar kamu hingga kamu jago matematika. Mungkin ntar aku juga jago matematika. Pasti ada trik trik khusus.
Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang diriku. Terlalu cepat mengambil kesimpulan bisa mencelakai perhitunganmu tentang hidup.
KurSelasa, 19-Agustus-2008, 11:27
Jen, kamu ga kangen po ma aq.......
Aku kangen banget nih ma kamu.......
Orang Ganteng TerakhirSabtu, 23-Agustus-2008, 10:08
jangan2 si kur naksir kamu wisna. padahal dia cowok kayaknya deh. hiiii...