Ruwatan Massal di Kulon Progo
Hari Sabtu (23/05/2009) kemarin aku dapat undangan untuk menghadiri acara Ruwatan Massal yang diselenggarakan di SMK Tamansiswa, Kec. Nanggulan, Kab. Kulon Progo, Yogyakarta. Untuk mencapai ke lokasi yang dimaksud, tentu saja aku sempat nyasar, he3. Tapi secara umum cukup gampang, dari kota Jogja tinggal ikuti saja Jl. Godean sampai tiba di perempatan Nanggulan (berarti sudah masuk di wilayah Kulon Progo). Terus tinggal cari saja Kantor Kecamatan Nanggulan, yang ini agak susah karena letak kantornya tidak di seberang jalan kabupaten tetapi harus "sedikit" masuk ke pemukiman warga. Letak SMK Tamansiswa nggak jauh dari Kantor Kecamatan Nanggulan itu.
Cerita
Kirab Ruwatan Massal.
(Klik Untuk Memperbesar)
Ruwatan masih merupakan bagian dari prosesi adat Jawa. Ruwatan itu adalah prosesi penyucian diri seorang manusia agar kelak dirinya terbebas dari malapetaka. Tapi hanya orang-orang tertentu yang menyandang predikat
Sukerta saja yang diwajibkan untuk diruwat. Asal-muasul prosesi ruwatan diceritakan dalam kisah pewayangan lakon
Murwakala, yaitu lahirnya
Batara Kala.
Perhatiaaan, paragraf di bawah ini hanya boleh dibaca buat pembaca yang berumur 17 tahun keatas!
Alkisah, suatu ketika
Batara Guru dan
Dewi Uma sedang melintas di atas lautan. Tiba-tiba saja Batara Guru ingin berhubungan badan dengan Dewi Uma. Permintaan Batara Guru itu ditolak Dewi Uma, namun karena Batara Guru sudah terangsang, air maninya menetes dan jatuh ke laut. Air mani yang jatuh ke laut itu kemudian berubah menjadi raksasa ganas yang bernama Batara Kala. Batara Kala kemudian naik ke
Suralaya (kahyangan), meminta pertanggung-jawaban dari Batara Guru karena telah melahirkan dirinya. Batara Guru kemudian memberinya "hadiah", yaitu Batara Kala
boleh memakan manusia yang menyandang predikat Sukerta, beberapa diantaranya yaitu:
- Anak tunggal pria (disebut ontang-anting).
- Anak tunggal wanita (disebut unting-unting).
- Anak dua bersaudara, kakaknya pria dan adiknya wanita (disebut kedono kedini).
- Anak dua bersaudara, kakaknya wanita dan adiknya pria (disebut kedini kedono).
- Anak dua bersaudara, pria semua (disebut uger-uger lawang).
- Anak dua bersaudara, wanita semua (disebut kembang sepasang).
- Anak lima bersaudara, pria semua (disebut pandawa).
- Anak lima bersaudara, wanita semua (disebut pancagati).
Pak Dalang memainkan wayang Batara Kala.
Ternyata, Batara Guru membuat kesalahan besar! Populasi manusia dengan predikat Sukerta itu ternyata ada banyak sekali. Batara Guru takut kalau nantinya manusia punah, jadi ia menugaskan
Batara Wisnu dan
Batara Narada untuk mencegah aksi Batara Kala memakan manusia itu. Batara Wisnu menyamar sebagai dalang bernama
Dalang Kandhabuana dan Batara Narada menyamar sebagai pengiringnya. Di suatu desa, Dalang Kandhabuana menggelar pagelaran wayang dan ditonton oleh Batara Kala. Singkat cerita Batara Kala bersedia untuk menghentikan aksinya memakan manusia dan kembali ke Suralaya. Sebelum pergi, Batara Kala dan pengikut-pengikutnya meminta bekal kepada Batara Wisnu. Tapi, Batara Kala mewanti-wanti bahwa
dirinya akan turun kembali ke bumi untuk memakan manusia apabila manusia itu termasuk predikat Sukerta yang belum diruwat.
Prosesi
Sebelum diruwat, sungkem dulu kepada kedua orangtua.
Air untuk meruwat berasal dari 7 mata air.
Ini bekal permintaan Batara Kala dan pengikutnya.
Itu cuplikan sejarahnya, kalau anda pernah mendengar versi yang berbeda harap maklum lah, namanya juga cerita rakyat. Prosesi ruwatan sendiri itu macam-macam. Yang umum, para peserta ruwatan akan diarak keliling desa kemudian dipotong sedikit rambutnya untuk kemudian dihanyutkan di sungai. Kemudian digelarlah pentas wayang dengan lakon Murwakala. Dalang pentas wayang ini tidak sebarangan, karena harus memiliki "kemampuan" untuk meruwat. Prosesi ruwatan ditutup dengan dimandikannya para peserta ruwatan menggunakan air suci.
Sepi
Berhubung aku telat datangnya (acara mulai jam 11.00, aku datang jam 12.00) aku cuma kebagian nonton pentas wayangnya saja. Tapi itu saja tidak sepenuhnya selesai karena pentas wayangnya diundur, dimulai jam 13.30 dan jam 17.00 belum selesai. Jadi, aku juga nggak dapet foto pas peserta ruwatannya dimandikan. Acara ini sebenernya adalah prakarsa dari Perguruan Tamansiswa yang ingin membangkitkan kembali ruh budaya Jawa yang tergerus modernisasi. Sebenernya acara ini termasuk besar lho, karena yang diundang termasuk Bupati Kulon Progo dan Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo. Tapi aneh bin ajaibnya, yang nenteng DLSR disana cuma aku doang! Alhasil, jadilah saya tukang potret dadakan yang dapet full-akses, bisa naik ke atas panggung wayang dan dapet makan gratis. Karena itu,
aku berniat "menjajah" Kulon Progo, karena disana yang pegang DSLR cuma saya seorang, ladang penghasilan ui, wekekekeke! Nggak hanya itu aja, penontonnya juga sedikit. Aku bingung, serius nggak sih acara ini dijadikan acara pariwisata?
Hati
Kalau dipikir-pikir, prosesi ruwatan ini penuh dengan budaya adat Jawa yang bagi sebagian orang terasa merepotkan, butuh biaya besar, dan mungkin ada beberapa yang beranggapan nggak "senapas" dengan ajaran agama Islam. Tapi menurutku, sebenernya yang diruwat itu bukan jasmani kita, melainkan
hati kita. Agar kelak kita tidak tertimpa petaka, karena geraknya hati tidak terasa tapi dampaknya begitu nyata (ngutip ocehannya
bos kuncup). Kalau menurut kata Pak Dalang, kita jadi mawas diri terhadap tiga hal yang bisa membawa kisruh di muka bumi yaitu
kekuasaan, harta, dan
wanita. Selain itu dalam menjalani kehidupan, kita mesti menjalankan empat hal berikut:
- Menghormati keyakinan orang lain, yaitu tidak kisruh hanya gara-gara perbedaan keyakinan.
- Ingat bahwa sesama manusia kita adalah saudara, jadi jangan saling memusuhi.
- Bantulah sesama manusia lain, tanamkan sikap gotong-royong dengan siapapun.
- Selalu bersikap jujur dalam kondisi apapun.
Karena itu, sudahkah anda meruwat hati anda?
Sepulang dari Nonton Wayang...
Aku sangat bersyukur kepada Gusti Allah SWT karena ada hikmah dibalik shalat Maghrib di mushalla tetangga, dibawah rintik-rintik hujan. Biarlah yang tahu hanya aku, dia, dan dia saja.
yuk.. buat aku, tradisi ya sebatas tradisi. Soal keyakinan, itu udah bukan urusan kita untuk mencampuri keyakinan tiap-tiap orang.. :D
great post about the story of ruwatan.. :)
Begitu pula juga dengan diriku mas Zam, tapi biasalah orang-orang jaman sekarang suka mengait-ngaitkan tradisi dengan klenik...
zamSabtu, 30-Mei-2009, 03:44
Ruwatan Hati ya?...
Sudah belum ya... Hmmm... Saya gak tau juga..
Siapa yg bisa nilai,kita udah ruwatan hati atau belum?
Ya, diri kita sendiri tho mas...piye toh...
Eh... kayaknya tadi udah komen disini deh..
Browser ane yg salah, komennya kena moderasi, atau Gw yang lupa nih?
Ahh susah jadi pelupa... ya udah deh komen lagi :D
Hmm.. eh.. hmm.. tadi mau komen apa ya? Lupa :d
Nggak ada moderasi di blog saya, hiiksss....itu browser Mozillanya aja yg aneh. Saran saya, coba pake Opera mas!
Tradisi yang perlu dilestarikan...
cuma kok sekarang yang jadi masalah adalah untuk melestarikan tradisi seperti ini butuh biaya yang mahal. Saya lihat contoh orang batak, toraja, banyak juga yang begitu.
salam kenal...
pernah di Cipete Utara ya...saya di saraswati sekarang udah dekat antasari tapi. belakang pom bensin.
Menjalankan tradisi yang "full-version" emang mahal mas, makanya ini digelar massal biar biayanya bisa ngirit.
Ooo...di Antasari toh, kapan-kapan saya lewatin kesana deh.
Wakakakakak ternyata Gw gak salah inget, beneran dah pernah komen disini :D
Saya Coba komen make seamonkey nih, Soale ra ono Operae..
Masa cuma buat komentar di blog mu, musti install opera dulu :p
Offical blog recomended by Opera je mas...(maunya!)
"
1. Menghormati keyakinan orang lain, yaitu tidak kisruh hanya gara-gara perbedaan keyakinan.
2. Ingat bahwa sesama manusia kita adalah saudara, jadi jangan saling memusuhi.
3. Bantulah sesama manusia lain, tanamkan sikap gotong-royong dengan siapapun.
4. Selalu bersikap jujur dalam kondisi apapun.
"
Apa negara Malaysia tahu hal2 di atas yah? beberapa hari ini aku sering berpikir, kok bisa negara yang mengaku saudara serumpun malah sering membuat masalah dengan Indonesia, dan berusaha mengklaim "harta" milik Indonesia menjadi miliknya.
maaf OOT ya, wis. :D
Gapapa Pin, itu mungkin karena Malaysia tau kalau bangsa kita ini nggak bisa ngopenin budayanya sendiri.
Lha dirimu ikutan diruwat aja mestinya, Na. Lumayan kan bisa dimandiin gratis..:p
Untung Batara Kalanya orang Jawa,jadi mintanya disajenin ayam goreng. Bayangin kalo Batara Kalanya orang bule, pasti mintanya pizza, wine.. Ya repot nyediainnya, jal!
Sebenernya saya juga mesti diruwat, tapi klo orangtua ga menyelenggarakan ya gapapa. Eh, mungkin aja Batara Kala itu orang bule yang hobinya makan ayam gorengnya Pak Kolonel.
VickyMinggu, 31-Mei-2009, 10:21
wah, ayamnya menggugah selera, apalgi baca postingannya sudah sore gini, laper-lapernya...
Saya juga sekarang lagi laper mas. Tapi saya lebih suka ayam goreng yg ada kremes-kremesnya dibandingkan ayam yang diungkep kayak gitu.
kayaknya ada yang namanya dilupakan deh.. hik2...
jangan lupa ekspedisi selanjutnya.
namamu lupa saya tulis ternyata kamu menyadarinya hahahahahaha
andreasJum'at, 05-Juni-2009, 15:36
mas wijna kamu mo jadi penjajah west-prog ya? hehe.
gak mampir ke rumah mbak emma mas? kalo gak salah mbak emma rumahnya juga daerah nanggulan kan..
Menjajah Kulon Progo karena orang-orang Kulon Progo bikin gemesss. Rumahnya mba Emma tu daerah Kalibawang.
tiaSabtu, 06-Juni-2009, 16:26
Oalah... Jadi ceritanya begitu ...
Tapi mang katanya orang tua dulu kalo bisa semua anak tu harus diruwat. Biar ndak kena apa gitu, biar slamet katanya. Biar uripe lancar ra ono opo-opo.
Bagus banget Mas artikelnya, informatif. Mang seharusnya namanya tradisi itu ya dilestarikan, mbok jangan ada lupa sama budayanya sendiri, hehe ...
Iya mas kira-kira ya gitu ceritanya. Kalau bicara masalah tradisi, itu udah mulai tergerus efek moderinisasi dan globalisasi. Walaupun dilakukan pun saya kira kesakralannya sudah mulai memudar.
AnggaMinggu, 28-Juni-2009, 08:18