Dua orang Dosen Menikah
Bulan Juli pada tahun ini sepertinya merupakan bulan yang baik untuk melangsungkan pernikahan. Dua dosenku, Mbak Ertin dan Mbak Prima menikah pada bulan Juli ini. Untuk Mbak Prima, perkara menikahnya beliau sudah sering diperbincangkan dari 1-2 tahun yang lalu. Tetapi untuk Mbak Ertin, undangan akad nikahnya diberitakan kepadaku saat aku menyelesaikan revisi tugas akhirku. Bagaimana pernikahan mereka? Berikut adalah kisahku hadir di pernikahan mereka.
Mbak Ertin’s
Akad Nikah Mbak Ertin pada hari Jum’at siang, 11-Juli-2008. Karena pada bulan Juli aku KKN, maka aku mengajak serta Gunawan sebagai Kormanit Unit KKN ku untuk hadir ke akad nikah beliau. Dari peta yang digambar Mbak Ertin, sepertinya lokasi rumahnya dekat dengan perempatan ke Cangkringan di Jl. Solo. Ternyata, lokasi rumah Mbak Ertin berada di daerah Cangkringan! Kami memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di kediaman Mbak Ertin...tanpa tersasar!
Satu yang terlupa di pikiranku ketika hadir di akad nikah Mbak Ertin adalah bertemu dengan dosen-dosen matematika. Saat aku dan Gunawan memasuki ruangan resepsi, kami bertemu dengan Pak Imam, selaku Dosen Pengawas Lapangan Unit KKN kami. Untung saja kami berdua tidak diberi kartu kuning karena meninggalkan lokasi KKN tanpa ijin. Lepas dari Pak Imam, giliran Gunawan dimangsa oleh Pak Supama selaku Dosen Pembimbing Tugas Akhirnya. Dengan tugas akhir yang ditelantarkan oleh Gunawan selama kurang lebih dua bulan, aku tidak tahu apakah dia bisa berkutik dari Pak Supama. Tentu saja aku juga melihat banyak dosen dan staff jurusan matematika disana. Akhir kata, kami diperintah untuk duduk di deretan bangku oleh Bu Rini selaku Dosen Wali kami dan Bu Indah selaku Dosen Pembimbing Tugas Akhirku.

Lepas dari mangsa para dosen, kami gantian terjebak dengan rangkaian acara pernikahan Mbak Ertin yang menggunakan adat Jawa. Aku tidak peduli dengan kuping Gunawan yang mulai panas mendengarkan lantunan lagu-lagu campursari. Yang aku pedulikan adalah makanan yang tidak segera tersaji untuk kami (karena kami sengaja tidak makan siang). Untung saja Bu Rini memberitahu rangkaian acara pernikahan adat Jawa sehingga kami bisa sedikit bersabar. Setelah hampir satu jam, akhirnya makanan tersaji juga di hadapan kami dengan porsi yang sangat sedikit. Kami juga bertemu dengan seorang mahasiswa matematika angkatan 2001 yang kami lupa namanya. Ketika makanan kami ludes, kami segera pergi dari rumah Mbak Ertin (tanpa pamit dan salaman) karena sudah ketahuan meninggalkan lokasi KKN tanpa ijin oleh Pak Imam.
Mbak Prima’s
Akad Nikah Mbak Prima dilangsungkan pada hari Minggu pagi, 6-Juli-2008. Karena pada bulan Juli aku KKN, maka aku tidak dapat hadir ke akad nikah beliau. Sebagai gantinya aku berencana hadir ke resepsi pernikahan yang diadakan pada hari Sabtu malam, 12-Juli-2008. Aku memang berencana meninggalkan lokasi KKN tanpa menggunakan surat ijin. Aku dijemput oleh serombongan manusia matematika 2004, Winky, Joko, dan Eka. Di jalan menuju stasiun Brambanan, motor yang aku tumpangi berpapasan dengan motor Pak Imam! Rupanya Pak Imam pada siang hari itu sengaja datang untuk bertemu dengan Kormanit, Kormasit, dan Kormabid unit kami. Kami tidak sempat berkata-kata, sehingga tidak terlihat kalau aku sebenarnya meninggalkan lokasi KKN.

Jam setengah tujuh malam, Eka dan Fitrah datang ke tempatku. Kami menanti kehadiran Winky yang terlambat satu jam dari janjinya semula. Lokasi resepsi sudah sangat familiar bagi kami, yaitu gedung Grha Sabha Pramana UGM. Disana kami janjian dengan Zenith di tangga timur. Alhasil ada lima mahasiswa matematika 2004 yang hadir di resepsi pernikahan Mbak Prima. Setelah mengantri untuk salaman dengan pengantin yang amat sangat lama dan melelahkan, akhirnya tiba juga kesempatan bagi kami untuk melampiaskan hasrat perut yang lama terpendam. Kami menetapkan sebuah meja tempat mengumpulkan piring dan gelas kotor sebagai basecamp kami. Setelahnya, kami berlima berpencar ke segala penjuru mata angin untuk bergerilya dengan tamu-tamu undangan lain mambabi-buta stan-stan makanan. Karena aku takut diare setelah kalah perang, maka aku hanya mengambil beberapa makanan saja. Diantaranya adalah mie bakso, sup Zupa-Zupa, Nasi plus lauk-pauk, dan tentunya Es Puter yang haram untuk dilewatkan. Aku juga mencicipi beberapa makanan yang diambil oleh teman-teman yang lain. Acara malam itu ditutup dengan kami berfoto bersama pengantin. Akhirnya aku difoto oleh fotografer juga. Oh ya, karena kecapaian bergerilya dan kekenyangan, Winky tidak kuat untuk pulang ke rumahnya dan memutuskan bermalam di tempatku.
Untuk Mbak Ertin dan Mbak Prima, selamat atas pernikahannya. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Senantiasa dilimpahi berkah dan nikmat oleh Allah SWT. Dengan ini, aku harus membiasakan diri memanggil kalian dengan sebutan “Bu” dan bukan “Mbak”. Kucoba deh...
Ketahuan cuma cari makanan aja ya P
Es podengnya ada ga ?!
ada dunk, es Puter nyammm!
PeinJum'at, 10-Juli-2009, 19:59