Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Kirab Budaya Imlek 2009
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

Ah, Ngalah ?


Kejadiannya sih di sebuah perempatan yang dijaga lampu bangjo di kecamatan Tempel. Situasinya iring-iringan kendaraan bermotor lagi nunggu lampu bangjo nyala ijo lagi. Ambang detiknya ya seperti gambar diatas itu. Bukan jadi terbengong-bengong, ketika ngeliat sepeda motor - sepeda motor itu berhamburan di jalan yang lenggang, walaupun lampu bangjo masih merah. Tapi jadi bengong ketika tau kalau di detik ke-150 lampu bangjo tiba-tiba nyala ijo. Tanda kalau rakyat kita nggak sabaran? Bersabar itu ada imbalannya? atau Pak Polisi lagi baik hati?

Siapa sih yang nggak be-te, dapet lampu bangjo yang ambang waktunya ratusan detik? Mesti nunggu lama, padahal ada urusan lain yang diburu waktu. Nunggu setia sampai nyala ijo lagi itu nggak hanya patuh dengan peraturan lalu-lintas, tapi juga ngalah sama ego dari nafsu yang nggak sabaran. Kasus diatas cuma contoh kecil, bagaimana kita kadang-kadang memang harus ngalah.

Ngalah itu kata nggak baku dari mengalah. Sedangkan mengalah sendiri artinya adalah, "membuat diri sendiri menjadi kalah". Karena ada yang kalah, pasti ada yang menang. Karena ada yang kalah dan menang, tentu obyeknya lebih dari satu. Karena obyeknya ada banyak, maka dari itu ini yang disebut dengan kompetisi.

Siapa sih yang nggak suka dengan kemenangan? Di lomba-lomba umum aja para pemenang diganjar hadiah jutaan rupiah. Ngalah berarti membiarkan orang lain menang. Kita yang ngalah, jadi kalah, dan dapet gelar pecundang. Ngalah? Nggak banget deeeh!

Jadi nggak heran pas ngeliat dua anak kecil lagi rebutan mainan, karena dua-duanya lagi berkompetisi, sama-sama nggak mau kalah. Ujung-ujungnya mereka nangis deh, bikin ribut aja. Kalau yang itu orangtuanya bakal marah, kalau diantara dua nggak ada yang mau ngalah. Nah, kalau ujian masuk perguruan tinggi beda. Ratus ribuan calon mahasiswa harus rebutan kursi yang jumlahnya cuma ratusan. Kalau nggak ngalah, nggak bakal menang, nggak bakal dapet kursi, dan nggak bakal jadi mahasiswa. Kalau yang itu orangtua bakal marah, kalau kita ngalah.

Terus ada yang tanya, "Kalau ngalah terus, kapan menangnya? Gimana kita hidupnya?". Iya sih, hidup itu kompetisi, ada yang menang dan ada yang kalah, ada yang memangsa dan dimangsa. Meong sama curut aja ngajarin hal itu. Ujung-ujung pilihannya hidup atau mati. Karena itu sebisa mungkin jangan kalah! Jangan mau ngalah!

Jadi, jangan iba sama si miskin, yang nggak bisa beli buku buat sekolah.
Jadi, jangan iba sama si cacat, yang nggak selincah orang sehat.
Jadi, jangan iba sama si jomblo, yang nggak dapet-dapet cowok/cewek idaman.
Kan, katanya nggak mau kalah? Nggak mau ngalah? Kalau iba, berarti mereka harus menang, kita yang kalah.

Bukan maksudku ingin bikin bingung, tapi bikin sadar kalau ego kadang kelewat batas jadinya nggak mau ngalah. Ngalah bukan berarti pecundang, itu cuma kata orang, atau paling cuma bisikan hati yang minder aja. Rejeki yang dikategorikan uang, ilmu, cinta, dan lain sebagainya itu, mbok ya jangan dibuat rebutan hanya untuk memenuhi ego diri sendiri aja. Inget juga mereka yang kalah, setidaknya itu bakal meredakan ego kita, dan semoga membuat kita hidup dengan tujuan agar orang lain bisa mengalah. Tentunya kita semua tahu bahwa, kadang kita harus mundur satu langkah untuk maju seribu langkah.
  • After all, aku suka bagian ini :
    kadang kita harus mundur satu langkah untuk maju seribu langkah

    Menurutku, terkadang ga apa2 kok kalau "sedikit" mengalah untuk membuat orang lain "merasa" menang.
    Kamu membuat orang lain merasa menang? Tapi sebetulnya dia kalah kan? Apa kamu bermaksud membahagiakan orang lain itu? Apakah menurutmu dengan cara itu ia bahagia, eh?
    Samsul ArifinSelasa, 12-Mei-2009, 09:37
  • menang ojo umuk, kalah ojo ngamuk
    umuk itu artinya apa Win? Menyombongkan diri gitu?
    winkySelasa, 12-Mei-2009, 10:31
  • @Ipin:
    -Menurutku, terkadang ga apa2 kok kalau "sedikit" mengalah untuk membuat orang lain "merasa" menang.-
    Hm, kok berasa ini masih terkait kejadian "kemaren" ya?! Kesannya sinis banget, pin..:P

    Aku ga ngerti kecamatan Tempel itu situasinya kaya apa. Tapi mungkin para pengendara itu "menduga" kalo pengukur waktu lagi rusak (ratusan detik gitu), dan mengingat jalanan lumayan lengang, jadi maen trobos aja. (bukan berarti aku membenarkan juga lho)

    Masalah ngalah2an, emang ada saatnya musti galah. Karena iba saja tidak cukup.(kebetulan kemaren abis mbahas beginian juga ma temen seruangan):)
    Wah, antara kamu sama Ipin ada "masalah" ya? hehehe. Kalau aku sih menduganya, para pengendara motor itu udah hopeless duluan, ngeliat angka 152 yang lamaaa banget itu (awalnya 180 lho).
    nurSelasa, 12-Mei-2009, 12:22
  • kata orang jawa Wani ngalah luhur wekasane... tapi diplesetke jadi wani ngalah gede rekasane he...
    Mbak E...tolong diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau Jawa Ngoko...
    emeritaSelasa, 12-Mei-2009, 20:41
  • jadi inget lagunya seventeen deh mas, mengapa ku yang harus selalu mengalah?? hiks.. hehe.
    Kok kamu jadi mellow gitu sih Tia? Kamu lagi-lagi harus ngalah yah? hehehe
    tiaSelasa, 12-Mei-2009, 22:14
  • Eh, sekedar meluruskan... aku ma ipin baru ketemu satu kali kok, jadi mana mungkin ada masalah. Ya ga, pin?! hehehe ^-^v
    di dunia nyata emang baru satu kali, tapi klo di dunia maya (blog n chat) udah berkali-kali-kali kan? hehehe
    nurRabu, 13-Mei-2009, 11:56
  • Selama dengan kita tidak mengalah tidak merugikan orang lain, ya gpp toh :)
    tapi kadang saya mikir klo sifat yg kayak gitu tu egois mbak...
    Eka Situmorang-SirRabu, 13-Mei-2009, 13:36
  • satu hal yang pasti mas, mengalah bukan berarti menang. hehe
    kalo yang sampeyan bahas di atas menurut saya termasuk kategori nglegakno wong, ngasih kesempatan orang untuk bernafas. ndak usah mikir macem-macem, gusti Allah ndak turu kata orang jawa, nanti akan ada gilirannya nafas kita dilegakan dengan kapan, dimana, dan bagaimana-nya yang mungkin di luar dugaan kita.
    itu juga mas Stein yang saya harapkan, kapan napas saya bisa dilegakan, walau saya tidak mengharap demikian. Gusti Allah memang ndak turu mas...
    mas steinRabu, 13-Mei-2009, 16:21
  • mengalah, menurutku, membiarkan orang lain menang.. :D
    dan menerima kekalahan diri kita dengan berbesar hati :D
    zamRabu, 13-Mei-2009, 19:05
  • Wah, aku ga trimo! Jangan2 dirimu termasuk beberapa orang yang salah mengira kalo aku ni xxxx, ya? nama blog kami memang mirip, tapi aku ga ada sangkut pautnya dengan ke-inkonsistensi-an ipin di Bali. Chatting ma ipin kalo ga salah inget juga baru sekali. Berkunjung di blog-nya juga kadang-kadang aja komennya...:P
    Ya gak lah! Klo itu sih aku bisa membedakan mana yang r*** atau kamu, antara f*********** atau fauziah85, wlo kalian sama-sama pake Wordpress. Anyway, blogger kadang kan lebih banyak terhubung satu-dengan-yang lain di jagat maya, lewat komen terus berlanjut ke chat. Tul ga?
    nurKamis, 14-Mei-2009, 07:07
  • Si Wisna sama Nur ini apa-apan sih!
    Tolong jangan bawa2 namaku yah kalau bertengkar.
    Udah, sini kalian berdua!
    Cepet baikan!!
    Kok kamu ikut-ikutan Pin?
    Emang aku bertengkar sama Nur?
    Lagian ngapain aku ke blogmu?
    Udahlah, sesuai judul artikel ini kamu ngalah saja ya Pin?
    Samsul ArifinKamis, 14-Mei-2009, 17:31
  • (tadinya dah cemberut aja, jadi ketawa ngikik sendiri)

    @ipin: iya, deh, maaf, udah menyangkut-pautkanmu. Tapi dipikir2, bahkan namamu aja dah bisa "menciptakan masalah" ya, pin... kqkqkq

    @yang punya blog: hiks, maaf, aku kadang suka emosi ga jelas. Aku suka kemari karena menemukan banyak hal baru di luar duniaku yang biasa. Eh, niatnya maen, malah bikin rusuh begini. :(
    Gwahahaha, saya suka dengan pernyataanmu klo "namanya Ipin aja dah bisa menciptakan masalah". Anyway, silakan aja maen-rusuh-kesana-kemari di dunia blogging dengan tetap menjunjung tinggi etika per-blogosphere-an. Sebagai yg punya blog, saya ngalah aja deh sama pengunjung...;p
    nurJum'at, 15-Mei-2009, 07:01
  • Menurutku mengalah menjadi fase dimana kita menjadi dewasa. Ada hal atau keinginan yang kita korbankan untuk orang lain. Dan orang lain itu biasanya orang yang cukup berharga bagi kita.
    Betul Bud, klo yang ini aku setuju sama dirimu.
    hanifJum'at, 15-Mei-2009, 14:58
  • wah..blogmu rame wis...hehehe...sorry OOT :P
    Salah satu penyebab blogku jadi rame ya kamu juga Win.
    winkyJum'at, 15-Mei-2009, 17:45
  • Janji, ini komen terakhir di posting ini deh...

    Selama dua hari aku mikir2, "etika perbloggeran" apa yang sudah kulanggar?! Baru nyadar, aku sudah masang link blogmu tanpa ijin. Terus terang aku baru tadi pagi tahu kalo hal itu ga boleh dilakukan. Gomen ne. Kalo kamu ga berkenan, ntar kuhapus deh.

    Atau kalo masalah "hina-menghina blogger lain" (dalam kasus ini ipin), maka aku cuma berani mbecandain orang2 yang beneran udah kukenal kok.

    Sekali lagi, aku mohon maaf...
    Aku ga keberatan masang link sesama blogger. Emang kamu pasang link ku dimana? Klo di artikel ya dicantumin sumbernya. Kalau menghina Ipin sih...itu saya anggap biasa aja, huehehehe.
    nurSenin, 18-Mei-2009, 07:34
  • Di blogroll-ku.

    Udah ah, kamu nanya terus, aku tambah banyak nyampahnya ntar! (sedih karena ngelanggar janji sendiri T-T)
    Pasang aja terus di blogroll-mu. Ya udah deeh, aku nggak tanya-tanya lagi...hehehehe. Aku ngalah deh.
    hikariSenin, 18-Mei-2009, 16:42

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi