Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Pantai Cemplon Dulu dan Kini
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

After 355 Days


Kamis malam (12/06/2008) rumah Jogja jadi ramai lagi. Bukan hanya karena Bapak, Ibu, dan adikku datang berkumpul kemari, akan tetapi Pakde-Pakde juga datang. Mereka semua datang karena di rumah Jogja digelar acara yasinan memperingati satu tahun meninggalnya Eyangku.

Rumah jadi ramai lagi, suasana seperti ini di tahun-tahun lalu hanya terjadi saat Lebaran saja. Saat ini aku hanya bisa menikmati suasana seperti ini sekejap saja. Setelah acara yasinan dan pembagian sembako kepada tetangga selesai, berarti perjumpaanku dengan para Pakde hampir berakhir. Dan kalau ingin berjumpa lagi, mungkin harus menunggu satu tahun lagi, atau pada saat ada acara tertentu saja.


Di hari-hari awal meninggalnya Eyangku, sempat terpikir olehku bahwa kondisi rumah bakal berbalik 180 derajat, menjadi hancur tidak karuan. Setelah 355 hari, ternyata apa yang kubayangkan tidak seluruhnya terjadi. Beberapa hal yang berputar 30,60,90,120,150 derajat adalah sebagai berikut:

Aku tidak lagi bertugas menyiapkan obat untuk Eyang. Karenanya aku bisa santai di pagi hari. Tetapi kadang kala itu juga membuatku lalai untuk membuka jendela di pagi hari. Karena saat Eyang masih ada, aku harus balapan dengan beliau untuk bangun pagi seawal mungkin membuka jendela. Belakangan ini, hidupku baru dimulai pukul setengah delapan pagi.

Tidak ada masakan yang terhidang di meja makan. Saat Eyang masih ada, beliau selalu menyiapkan masakan bagi cucu-cucunya yang tinggal bersamanya. Walau apa yang dimasak Eyang hanya sebatas goreng-menggoreng, tetapi cukuplah untuk mengganjal perut.

Bahan makanan juga tidak siap sedia di kulkas. Karena Eyang gemar memasak, yang namanya cabai, daun seledri, daun kol, daun bawang, tomat, dll selalu ada di kulkas. Jadi, kalau aku ingin bereksperimen tinggal mencomot apa yang ada di kulkas saja. Karena sekarang kulkas kosong melompong, aku tidak bisa setiap saat melampiaskan hasratku untuk memasak sesuatu.

Eyang adalah kepala rumah tangga. Beliau adalah koordinator para penghuni rumah, Mak Ijah, Mas Tapa, Mbak Novi, Mas Aji, dan aku. Setelah Eyang tidak ada, peran kepala rumah tangga kosong. Aku mengakui bahwa hubunganku dengan ketiga sepupuku masih belum terlalu akrab. Jadinya, hubungan aku dengan mereka terasa masih berjarak, demikian juga sebaliknya. Walau Mas Tapa sudah menikah, tetapi ia juga tidak menunjukkan sikap sebagai kepala rumah tangga. Setidaknya bagi keluarga yang baru ia bentuk. Sebagai yang termuda, aku hanya bisa termangu menonton satu per satu sepupuku keluar dari rumah Jogja ini.

Satu yang pasti, panggilan rumah Jogja semakin lama semakin menghilang. Sayup-sayup terdengar, tetapi aku seperti merasa kehilangan alasan untuk kembali ke rumah Jogja. Apakah kelak aku akan kembali kemari hanya karena alasan kenangan? Ataukah ada alasan lain? Tetapi, untuk sekarang biarlah aku disini, mendengarkan sayupnya panggilan rumah menjadi salah satu orang yang akan kembali kemari. Apakah 355 hari dari sekarang, aku masih bisa mendengar panggilan itu?

    Nama
    E-Mail  
    (tidak wajib)
    Blog  
    (tidak wajib)
    Pesan  
    (tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
    Kode Verifikasi