Disini (Pernah) Ada Candi
Menjelajah candi-candi kecil yang tidak terkenal, terasa seperti petualangan. Menurut pepatah lama, petualangan itu penuh dengan peluang. Mudah atau sukar. Lurus atau berliku. Ada atau tidak ada. Selama ini dalam setiap penjelajahan candi, kami mengandalkan Peta Potensi Benda Cagar Budaya Yogyakarta yang bisa diunduh secara cuma-cuma di alamat ini
plasa-diy.net/integrasi/data/metadata/135/207/Peta_Potensi_Benda_Cagar_ Budaya.pdf. Di peta tersebut, tercantum banyak lokasi candi dan situs yang terdengar asing di telinga kami dan diantaranya menggugah kami untuk berkelana menjelajahinya. Dari beberapa situs atau candi, kami terpaksa kembali dengan tangan kosong. Apa yang kami dapatkan, tidak sesuai dengan apa yang kami harapkan. Selain ucapan warga,
“disini pernah ada Candi”.
Candi Singo, di Kel. Madurejo, Kec. Prambanan, Kab. Sleman, Yogyakarta.
Candi Singo merupakan nama sebuah dusun yang terletak dekat dengan Jl. Jogja-Piyungan. Sesuai namanya, dusun ini mengambil nama dari sebuah candi yang dahulu kala pernah ada di dusun tersebut. Akan tetapi candi ini kini sudah tidak tersisa lagi. Menurut penuturan seorang warga, candi tersebut diberi nama Candi Singo karena dahulu kala di lokasi candi tersebut terdapat patung singa.
Candi Keblak, di Kel. Bokoharjo, Kec. Prambanan, Kab. Sleman, Yogyakarta.
Apa yang tersisa dari Candi Keblak.
Candi Keblak juga merupakan nama sebuah dusun yang terletak tidak jauh dari akses jalan utama menuju
Candi Ijo. Penuturan warga setempat mengantarkan kami ke sebuah rumah milik seorang warga yang ia yakini sebagai lokasi candi ini berada. Menurut empunya rumah, dahulu kala di lokasi rumahnya ini memang banyak terdapat batu-batu candi namun sudah diamankan oleh pihak pemerintah, istilah mereka
“dibawa ke Prambanan”. Apakah memang benar-benar dibawa ke Candi Prambanan, kami tidak tahu dan apa yang kami temukan disana hanya dua batu candi berukuran besar yang terpendam setengahnya.
Candi Wadas, di Kel. Tridadi, Kec. Mlati, Kab. Sleman, Yogyakarta.
Di dusun Candi Wadas kami bertemu dengan
Pak Marlan yang di halaman rumahnya dahulu pernah terdapat batu candi. Menurut beliau, batu-batu itu ditemukan oleh anaknya ketika hendak membuat sumur. Penemuan pada tahun 1992 sempat menghebohkan warga dusun, sekaligus mengundang perhatian RCTI untuk meliputnya. Banyak warga yang meyakini bahwa di bawah candi tersebut terdapat emas, karena itu beberapa warga dibayar untuk menggali candi itu. Tapi hasilnya nihil, warga tidak puas. Saat ini batu-batu candi yang pernah digali diambil alih oleh pihak BP3. Sebagian batu lain menjadi pondasi rumah warga dan dipendam kembali ke dalam tanah.
Situs Jetis, di Kel. Argomulyo, Kec. Cangkringan, Kab. Sleman, Yogyakarta.
Sebuah Yoni teronggok dekat jalan.
Apa yang dimaksud sebagai situs Jetis, tidak lebih adalah pagar rumah warga yang semuanya bagiannya menggunakan batu candi. Batu-batu candi itu tidak hanya batu candi dalam, batu berelief, melainkan juga yoni-yoni kecil. Menurut penuturan warga setempat, di rumah warga tersebut diyakini pernah ada candi. Karena beliau kerap menemukan emas terpendam di kebun salak, istilahnya
“Emas Kebon”.
Candi Kalongan, di Kel. Kebon Dalem Kidul, Kec. Prambanan, Kab. Klaten, Jawa Tengah.
Batu-batu Candi Kalongan tersebar menjadi pagar.
Dusun Kalongan merupakan salah satu tempat jajahan kami selama
kegiatan KKN berlangsung. Di dusun ini kami menemukan sebuah rumah yang seluruh pagarnya tersusun dari batu-batu candi. Menurut pengakuan warga setempat, sebelum Gempa Jogja-Jateng, pagar batu candi tersebut lebih tinggi dari yang ada saat ini. Di dusun ini memang pernah terdapat candi yang dulu berdekatan dengan
Candi Sojiwan. Akan tetapi karena candi tersebut rusak berat, maka penguasa setempat menggunakan batu candi sebagai pagar rumahnya. Itu terjadi di era kolonial Belanda.