Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Candi Asu Sengi
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!

Serangan Sepeda 1 Maret


Dalam berbagai literatur sejarah nasional, tersebutlah suatu peristiwa bersejarah bernama Serangan Umum 1 Maret 1949. Secara garis besar, peristiwa tersebut merupakan serangan rakyat Yogyakarta kepada Tentara Belanda terkait dengan pendudukan kota Yogyakarta. Peristiwa tersebut sangat memiliki arti dalam perjuangan Republik Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan, karena peristiwa tersebut membuktikan kepada dunia internasional bahwa Kemerdekaan Indonesia adalah pasti dan tentunya bahwa rakyat Yogyakarta are still alive and kickin’. Hehehe.


Nol Kilometer, penuh sesak!

Apa yang terjadi di kota Yogyakarta pada hari Minggu (01/03/2009), seakan-akan merefleksikan kembali apa yang pernah terjadi di kota ini 60 tahun silam. Bedanya, kini kota Yogyakarta diserbu oleh pasukan sepeda dari empat penjuru mata angin. Akibat dari penyerbuan besar-besaran itu, Minggu pagi di kota Yogyakarta dipenuhi oleh ributnya dering bel sepeda-sepeda. Dari mulai sepeda onthel klasik sampai sepeda federal generasi terkini tumpah ruah di kota Yogyakarta dan berpusat di Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 di Jl. Ahmad Yani di titik nol kilometer. Ternyata bikin macet kota Yogyakarta bisa juga dengan sepeda, hahaha.

Pak Ngadiran

Pak Ngadiran yang nyentrik.


Sepeda Umum 1 Maret.
Klik Untuk Memperbesar.


Di Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949, para pengunjung dihibur oleh deklamasi puisi dan renungan perjuangan kemerdekaan di panggung yang telah disiapkan oleh panitia. Di kesempatan ini pula aku bertemu dengan salah seorang pengendara sepeda yang unik. Sebetulnya aku sudah sering menyasikan beliau di berbagai event kebudayaan di kota Yogyakarta, tapi baru kali ini aku menyempatkan diri untuk ngobrol dengan beliau. Nama beliau adalah Pak Ngadiran dan bertempat tinggal di utara Monumen Jogja Kembali. Beliau ini sudah hobi bersepeda sejak kecil. Yang unik dari sepeda onthel tua milik beliau adalah sepeda ini dihias sedemikian rupa dengan berbagai ornamen, seperti bendera Sangsaka Merah Putih, kliping koran, boneka, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, kostum yang dipakai beliau, terutama helm motornya juga penuh dengan ornamen-ornamen. Alasan beliau mendekorasi sepedanya sedemikian rupa karena sepeda onthel beliau sudah tua, sehingga harus didandani agar tampak lebih menarik. Wah, kalau ini namanya sih menarik perhatian Pak, hahaha. Dari beliau aku ngobrol ngalor-ngidul tentang sepeda-sepeda jaman dulu hingga pemilu legislatif April mendatang. Satu yang beliau inginkan adalah kembali menyaksikan sepeda berjaya di kota Yogyakarta seperti di masa lampau.





Warga Jogja
Sikap yang nyentrik bukan menandakan orang itu harus dijauhi. Dari Pak Ngadiran misalnya, aku mendapatkan pelajaran berharga tentang hidup. Hal-hal semacam ini yang selalu kucari untuk menambah wawasanku mengenai hidup. Dan salah satu alasan mengapa aku selalu cerewet, ingin ngobrol dengan orang.


Ziarah ke Taman Makam Pahlawan

Anggota Podjok berkostum tempoe doloe.
(Pssst...ini dosen dan mahasiswi FEB UGM lho)



Makam Jenderal Soedirman


At last, the reunion
Me and Nutfahadi Bagas Indyatmono.


Setelah acara di Monumen Serangan Umum 1 Maret selesai, acara dilanjutkan denan ziarah ke Taman Makam Pahlawan. Tentu saja para peserta bersepeda ke Taman Makam Pahlawan, termasuk diantaranya adalah Walikota Yogyakarta Pak Herry Zudianto. Di Taman Makam Pahlawan, sebelum ziarah aku mengikuti dulu upacara singkat yang dipimpin oleh Pak Walikota. Wah, rasanya sudah lama banget aku tidak ikut upacara formal seperti ini. Di Taman Makam Pahlawan ini aku juga bertemu dengan Podjok, yaitu komunitas onthel kota Yogyakarta. Untuk memeriahkan acara ini, para anggota Podjok berdandan layaknya orang-orang tempoe doeloe. Jika berziarah ke Taman Makam Pahlawan, jangan lupa untuk mengunjungi makam Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Oh ya, selama mengikuti acara ini aku tidak sendirian karena ditemani oleh teman SMA-ku bernama Bagas, mahasiswa FEB UGM. Rasanya seperti reuni, karena baru sekali ini aku ketemu teman SMA-ku di kota Yogyakarta. Bagas juga hobi naik sepeda, dan mungkin beberapa petualanganku naik sepeda akan bersama dengannya. Jadi, nantikan terus artikel petualanganku ya, karena dengan sepeda aku jadi bisa blusukan kemana-mana. Mari kita budayakan bersepeda, untuk menyehatkan tubuh dan mencegah pemanasan global. Setidaknya, ini langkah konkrit yang bisa kulakukan untuk negeri dan bumi ini.

  • mantab gan...terus menggenjot ya... :D
    capeeeek...
    winkySenin, 02-Maret-2009, 13:48
  • Km tu :
    1. Jiwa Petualang
    2. Jago Fotografi
    3. G takut panas & capeek
    4. Ad bakat nulis juga
    5. Punya sepeda balap..He
    cocok tuch jadi wartawan.. Iseng2 berhadiah..
    Bisa jd sumber penghasilan & mengembangkan diri jg..
    Tertarik?? :)
    ya dipikirkan deh
    lyaSenin, 02-Maret-2009, 18:06
  • siapppp,bos.
    kalau busak blusuk pakai sepeda,jangan lupa calling saya .sudah lama aku cari komunitas petualanga sperti ini.
    mas Wijna,aku tunggu di 0812 1000 9341.matur nuwun.
    kgeiatan sepeda bisa diikuti di wallnya SPSS Kang, ada linknya di bagian bawah artikel ini :)
    udi basukiRabu, 10-Maret-2010, 18:18

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi