Tour de Bali: Harga Sebuah Inkonsistensi
Inkonsistensi adalah kata yang kerap kami ucapkan sehari-hari selama Tour de Bali berlangsung. Kata ini memiliki arti harfiah tidak konsisten, dalam arti pendirian seseorang yang mudah berubah-ubah. Kata ini melekat kepada salah seorang peserta Tour de Bali, yaitu Ipin.
Sebelum keberangkatan kami, pada saat rapat ke-2 digagas, Joko dan Winky sudah mewanti-wantiku bahwa keikutsertaan Ipin dalam acara Tour de Bali pantas diragukan. Tidak lain karena menurut mereka Ipin memiliki sifat yang mudah berubah-ubah, hari ini bilang ya dan besok bisa jadi bilang tidak. Karena itu mereka menyuruhku untuk membuat surat pernyataan, yang menyatakan keikutsertaan Ipin dalam acara Tour de Bali yang ditandatangi oleh Ipin. Sebenarnya dalam hatiku aku bertanya-tanya, kenapa sih sampai mesti dibuat surat pernyataan segala? Apa Ipin separah yang mereka katakan? Memang aku dan mereka juga Ipin sudah berteman selama kurang lebih 4,5 tahun. Tapi mungkin ada sisi dari Ipin yang tidak aku ketahui, belum aku ketahui, sampai Tour de Bali berlangsung.
Rapat rutin paling sering membahas
sikap inkonsistensi Ipin.
- Inkonsistensi pertama datang dari Ipin pada hari ketiga Tour de Bali. Ia menyatakan akan pulang pada hari Rabu (04/02/2009) dengan alasan bahwa rangkaian acara Tour de Bali melebihi dari jadwal yang sudah ditentukan, yaitu hanya selama lima hari. Ipin sepertinya tidak paham dengan konsep lima hari yang itu tidak termasuk 2 hari perjalanan. Karena aku, Joko, dan Winky merencanakan untuk kembali ke Jogja pada hari Sabtu (07/02/2009) menggunakan kereta. Namun karena Ipin terus mendesak kami, ditambah dengan alasan lain bahwa kondisi keuangannya terbatas, maka sesuai saran Ervan kami mempersingkat waktu kunjungan kami sehingga kami pulang pada hari Kamis sore (05/02/2009) menggunakan bus malam dengan biaya yang hampir tiga kali lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan kereta.
-
Inkonsistensi kedua adalah menyangkut makanan. Saat kami berada di obyek wisata Pura Tirta Empul, kami mengunjungi rumah makan Padang di area obyek wisata tersebut untuk makan siang sembari shalat Dzuhur. Pada saat itu, Ipinlah yang ditugaskan oleh Joko untuk membayar terlebih dahulu makanan yang kami santap. Ia sangat terkejut ketika harus mengeluarkan uang Rp 80.000 dari dompetnya dan mengecap buruk rumah makan Padang tersebut. Ipin sepertinya kurang cermat, karena uang Rp 80.000 itu sebetulnya merupakan gabungan dari biaya makan kami berlima. Sehingga kalau dihitung-hitung, satu orang hanya menghabiskan sekitar Rp 15.000 dan kelak di akhir hari kami akan membayar pengeluaran kami kepada Ipin. Juga, Ipin sepertinya makan dengan porsi yang berlebih sehingga pada hari itu Ipinlah yang biaya makannya paling besar.
-
Tragedi KFC, buah dari ketergesa-gesaan.
Inkonsistensi ketiga juga masih menyangkut makanan. Selepas dari Pura Tirta Empul, Ipin menjadi trauma dengan rumah makan Padang yang dia identikkan dengan harga makanan yang mahal. Selepas kami berkunjung dari Puja Mandala, kami kesulitan untuk menemukan rumah makan yang menyajikan makanan halal. Disamping karena genderang perut yang keroncongan, memutuskan kami untuk sesegera mungkin mencari rumah makan halal. Tiba-tiba terbesit ide untuk makan di KFC, karena sudah pasti halal. Tapi di sepanjang perjalanan kami ke KFC, kami menjumpai beberapa rumah makan halal namun Ipin bersikukuh untuk makan di KFC. Apa boleh buat, akhirnya di KFC aku sempat ngomong ke Ipin kalau dia ingin makan hemat di KFC, maka dia harus makan dengan biaya yang jauh lebih rendah dari yang ia makan di rumah makan Padang. Tapi sayang, Ipin tidak aktif dalam menentukan menu makanan, sibuk dengan hapenya, dan alhasil biaya makan Ipin di KFC lebih mahal dari di rumah makan Padang.
-
Inkonsistensi keempat terjadi sewaktu mencari tiket bus malam dengan harga yang terjangkau. Di Terminal Bus Ubung ada banyak yang menawari tiket bus ke Jogja dengan harga Rp 190.000 dari harga rata-rata Rp 215.000. Ipin bersikukuh untuk mencari tiket dengan harga termurah. Akan tetapi Joko malah menyodori Ipin dengan hapenya yang berisi blog Ipin dengan artikel ”Walau Mahal, Namun Belilah” yang menyindir pendirian Ipin yang plin-plan dengan apa yang pernah ia tulis dan yang saat ini ia lakukan.
-
Inilah sikap Ipin di Tour de Bali.
Inkonsistensi kelima sebenarnya tidak ada sangkut-pautnya dengan Tour de Bali, melainkan masalah pribadi Ipin sendiri. Ipin pada saat Tour de Bali tidak bisa dilepaskan dari hapenya. Apa yang ia lakukan adalah chatting dengan temannya, yang salah satunya cukup dekat dengannya. Dari apa yang Ipin perbincangkan ke kami, dapat kami simpulkan bahwa Ipin tertarik dengan wanita tersebut dan berniat menjadikan wanita itu sebagai opsi barunya disamping opsi lamanya. Kami memang tidak ambil pusing dengan pendirian Ipin tersebut, karena toh kami hanya menjadikannya sebagai bahan ejekan baru. Tapi yang kami sayangkan adalah sifat Ipin yang menjadi tidak bersemangat, tatkala opsi barunya tersebut tidak mengirim sms atau online. Hal tersebut membuat kinerja tim terpuruk, khususnya dalam menentukan keputusan yang harus didiskusikan secara seksama dengan seluruh anggota. Bagi anda, wanita, yang merasa sebagai seseorang yang aku singgung di alinea ini, aku meminta kesediaan anda untuk memantapkan kembali konsistensi Ipin.
Memang benar kata Ipin, fantasi itu hidup dan pikiran mudah berubah-ubah. Akan tetapi konsistensi itu diperlukan untuk menjamin adanya stabilitas apa yang kita rencanakan dengan apa yang kita lakukan. Menilik perkataan Joko yang selalu berujar,
”Makan itu konsistensi!” tatkala menghadapi kelakuan Ipin yang inkonsisten, aku pernah berujar kepadanya bahwa kita juga sebenarnya yang memakan getah dari inkonsistensi Ipin, toh pengeluaran kami bertiga juga ikut membengkak gara-gara pendirian Ipin. Namun Joko membalas dengan ucapan bahwa apa yang menjadi beban seorang anggota tim juga merupakan beban bagi anggota tim yang lain. Jadi, aku berharap Ipin sadar dengan inkonsistensinya, karena harganya sangat mahal, karena menyangkut kepentingan orang banyak.
Whahahaha...kok ada link-nya di postingan ini..vulgar sekali dikau nak...
kayake bakal seru ni kalo tidak segera di sensor..hwahahahaha
mas Win emang sengaja saya kasih link biar yg di-link dan si Ipin juga merasa "diperhatikan"...
winkySelasa, 10-Februari-2009, 10:47
weleh2, postingannya seru2.tapi kok postingan yg ini terlalu mendeskriditkan ipin??kasian dia.yang sabar ya pin!hee...
oya,ralat wis!poin 3 bukan dari puja mandala,tapi Garuda Wisnu Kencana
Postingan ini memang khusus buat Ipin kok. Semoga dia sadar, hehehehe.
ervanSelasa, 10-Februari-2009, 14:18
wah2 ribet juga yak...
ipin di bali namun hatinya di opsi baru..actuarial value-nya berapa tu?he3x...
berapa ya acturial valuenya? yg jelas kayaknya dia kepingin banget memiliki seseorang...
Wah, ga salah nge-link tuh, Mas?
wah, kemarin itu yang juga masih diperdebatkan oleh kami berempat Ren...
fairuzdarinRabu, 11-Februari-2009, 20:59
Wah..yg di link akhirnya nyampe juga..sabar2 ren..wisna emang suka gitu..biarin aja..entar kan kalo dah capek diem sendiri :P, hwahahahaha...
kamu sama ipin yg akur aja..hehehehehe....( ini g ada maksud apa-apa lo :P )
lho? tapi yg saya tulis memang sesuai kenyataan apa yg terjadi di lapangan pas Tour de Bali kan?
winkyKamis, 12-Februari-2009, 09:33
kalau aku tahu akan muncul tulisan ini sebelumnya dan bisa mengulang waktu, aku tidak akan menandatangani surat itu.
sungguh!
Terlambat Pin semuanya udah terjadi dan kamu pas waktu itu sangat yakin untuk menandantangani surat itu. Bukan tanpa paksaan kan? Kamu juga tau klo kami memang dari awal mengkhawatirkan keikutsertaanmu.
Pada hari ini kok tulisan ini jadi ada di depan?
apa maksudmu wis?
ngajak ribut ini anak!!
:D
Artikel yg muncul di halaman utama itu acak Pin dari sekian artikel Tour de Bali di blog ini.
Bagaimanapun Bali tetap menjadi tujuan utama wisatawan asing yang datang ke Indonesia ya :)
Jelas dunk!
ACIMinggu, 20-September-2009, 01:12