Antara Caleg dan Golput
Dari dulu, sebenarnya aku malas ngomongin politik. Alesannya sih karena politik itu ujung-ujungnya memperebutkan kekuasaan. Sepertinya egois dan tamak sekali ya? Sikap seperti itu yang membuat aku menarik diri dari setiap pembicaraan mengenai politik. Akhir-akhir ini kalau aku lagi jalan kaki di kota Yogyakarta, pasti suasananya hampir serupa, penuh dengan promosi partai politik atau calon legislatif (caleg). Dan itu nggak hanya di kota Yogyakarta aja lho, bahkan di daerah seperti kaki Gunung Ungaran, atau bahkan di sepanjang jalan trans Jawa Tengah-Jawa Barat semuanya menampilkan suasana yang serupa. Jadi, meskipun nggak ngomongin politik, tapi tetap aja suasana sehari-hari kental dengan nuansa politik, meracuni pikiran, beh!
Pas perjalananku ke Candi Sukuh tempo hari menggunakan bus umum, ada seorang pengamen yang berpuisi tentang ketidakadilan di negeri ini. Pengamen itu mem-plesetkan kelima sila pancasila, disebut pancasetan, yang dianut oleh para elite politik negeri ini menjadi:
- Kesetanan yang maha esa.
- Kemanusiaan yang serakah dan biadab.
- Perpecahan Indonesia.
- Kekuasaan yang dipimpin oleh kenikmatan dalam kekeluargaan.
- Ketidakadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Yah, intinya si pengamen itu tidak senang dengan para elite politik yang sama sekali tidak memperjuangkan hidupnya, memberinya lapangan pekerjaan. Elite politik itu hanya muncul ke permukaan ketika menjelang hajat besar, Pemilu yang memperebutkan kursi legislatif.
Dan memang dari sekian banyak calon legislatif yang posternya terpampang di jalan-jalan kota Yogyakarta, tidak satupun dari mereka yang aku kenal, selain tentunya para artis penghias layar kaca yang mulai merambah dunia politik. Aku kuliah di kota Yogyakarta selama 4,5 tahun, tentu aku kenal dengan Pak Sultan Hamengkubuwono X dan Pak Herry Zudianto, yang sering turun ke tengah-tengah masyarakat. Kalau para caleg itu? Boro-boro. Di koran atau berita televisi saja aku tidak pernah mendengar berita tentang kader-kader partai politik yang berprestasi, apalagi caleg? Yang ada malah tayangan petinggi-petinggi partai politik yang saling menjatuhkan dan menghujat partai lain. Miris bukan?
Pisowanan Agung Oktober 2008 silam, apa karena rakyat merasa tidak punya pilihan lain?
Terus, kalau kita nggak kenal dengan para calon legislatif itu, bagaimana nanti kita mau memilih mereka saat Pemilu nanti? Nggak mungkin kan asal colok nama orang dan lambang partai saja? Karena negara ini kelak akan berada di bawah tanggung-jawab mereka. Maka dari itu aku paham kenapa golongan putih mulai menjadi populer, yaitu mereka yang tidak memilih pada saat Pemilu. Tapi jangan malah lantas golongan putih disalahkan, atau bahkan dikatakan haram, berdosa, seperti apa yang difatwakan MUI belakangan ini. Yang disebut terakhir ini, aku kurang setuju karena pada dasarnya, menjadi golongan putih bukan kesalahan yang dapat didasarkan pada hal-hal agama, melainkan karena pengaruh sosial-lingkungan yang menyebabkan calon pemilih tidak paham dengan apa yang harus dipilihnya. Karena itu permasalahan utama yang ada adalah bagaimana agar calon legislatif dan partai politik dapat meraih simpati rakyat dengan cara baik-baik dan tidak murahan.
Jujur, hingga detik ini aku belum tahu akan memilih apa pada saat Pemilu nanti. Tapi yang jelas aku akan menggunakan hak pilihku. Karena itu aku meminta maaf kepada bangsa ini, apabila kelak pilihanku pada saat Pemilu nanti mengakibatkan kemunduran bagi bangsa kita, karena aku tidak yakin kepada apa yang aku pilih, walau bagaimanapun aku harus memilih, dan walau pilihan itu salah.
Aku berharap ada kader dari partai politik yang benar-benar turun ke lapangan membantu rakyat, tanpa pamrih, berkontribusi kepada negara, tanpa perlu mengkampanyekan dirinya dengan dana beratus-ratus juta rupiah, karena rakyat memilih akibat dari prestasinya, bukan wajahnya di leaflet-leaflet dan baliho-baliho. Tapi hal tersebut sepertinya masih jauh dari kenyataan, atau bahkan tidak mungkin terjadi, selama politik bangsa ini masih memperebutkan kekuasaan dan kekayaan semata. Karena kejujuran tidak bisa hidup dalam politik semacam itu.