Selamat datang pembaca
di blog saya ini!

Pembaca hendak

Mblusuk


apa, kemana, dan dimana ya

Kirab Pusaka Dunia OWHC
RSS 2.0 Flickr Facebook Twitter Yahoo!
Diterbitkan:
Minggu, 28-Desember-2008, 08:57

Dilihat:
838 kali

Ada 5 komentar:


[kotak komentar]

Candi Ngawen


Bagaimana rasanya menjelajah candi ditemani 3 wanita (yang ngakunya cantik)? Hmm...Pada hari Sabtu (20/12/2008), kembali aku bersama Andreas melakukan aktivitas menjelajah candi. Kali ini candi yang kami tuju masih berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tepatnya di desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sesuai yang disebutkan di awal paragraf, selain Andreas aku ditemani oleh tiga orang wanita asal kota Pontianak, Mbak Mega, Mbak Vita, dan Mbak Ina. Mbak Mega adalah ehmm...pacar-nya Andreas sedangkan dua lainnya adalah temannya Mbak Mega.

Rute Perjalanan

Candi Ngawen.
(Klik untuk memperbesar).
Rute untuk mencapai Candi Ngawen cukup mudah. Berikut panduannya:

  1. Karena tujuannya ke Magelang, ya ikuti saja Jl. Jogja-Magelang sampai tiba di tugu perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah.

  2. Anda kini berada di propinsi Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Magelang dan di kecamatan Salam. Ikuti terus jalan tersebut hingga anda sampai di kecamatan Muntilan, tepatnya di jalan satu arah dimana dimulai dekat toko-toko panganan wajik.

  3. Kemudikan perlahan kendaraan anda. Perhatikan di sisi kiri jalan. Ada sebuah pertigaan yang berada di dekat sebuah bengkel motor bernama “Tossa Motor”. Belok kiri di pertigaan tersebut.

  4. Nah, selanjutnya anda tinggal mengikuti jalan tersebut saja. Jangan berbelok ketika menemui perempatan, lurus saja. Tidak sampai 10 menit, anda akan sampai di Candi Ngawen.


Ki-Ka: Mbak Ina, Mbak Mega, dan Mbak Vita.


Bangunan candi yang tidak lagi utuh.


Kali Kebo di sisi barat kompleks candi.


Arca Buddha di candi induk yang berdiri kokoh.


Patung singa jantan di sudut kaki candi.


Dinding candi dari campuran semen dan batu kali.

Candi Transisi
Dari perbincangan Andreas dan juga literatur-literatur yang kutemukan di internet, aku memperoleh cukup banyak informasi mengenai Candi Ngawen. Bangunan ini diperkirakan merupakan candi Buddha, tepatnya aliran Buddha Vajrayana dan diperuntukkan bagi kelima Dyani Buddha. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi. Keberadaan candi ini diperkirakan tercantum di dalam prasasti Karang Tengah yang bertahun 824 Masehi. Beberapa pakar arkeologi mengatakan bahwa candi ini dibangun pada masa transisi Hindu-Buddha di pulau Jawa.

Berbeda dari candi-candi lain yang pernah kusinggahi, kompleks Candi Ngawen memiliki lima candi induk yang terbentang dari utara ke selatan. Kelima candi induk tersebut diperuntukkan bagi kelima Dyani Buddha dan memiliki pintu masuk menghadap arah timur. Uniknya, sisi timur dan barat candi-candi induk tersebut diapit oleh dua sungai kecil yang bernama Kali Kebo (barat) dan Sungai Blongkeng (timur). Air pada Sungai Blongkeng jika diperhatikan dengan seksama agak sedikit keruh, dan menurut literatur di internet ada kandungan belerang di air sungai tersebut.

Bangunan candi-candi induk tidak lagi sempurna seperti sedia kala. Hanya bangunan candi di sisi utara saja yang masih berdiri kokoh, itupun tanpa adanya atap, sehingga air hujan akan leluasa masuk ke dalam bilik utama candi. Di dalam candi induk yang kokoh tersebut, terdapat arca Buddha yang tidak lagi utuh. Suasana candi yang dibangun dalam masa peralihan Hindu-Buddha tampak kental disini, di salah satu candi induk ada arca yoni dan di depan pos jurukunci terdapat arca Nandi yang dahulu ditemukan di sekitar candi ini.

Ornamen Singa
Kelima candi induk ini berhiaskan ornamen singa yang terletak di sudut-sudut kaki candi, satu hal yang tidak pernah kutemukan di candi-candi Buddha yang pernah kukunjungi. Pada candi induk yang masih berdiri kokoh, terdapat patung singa dalam posisi sedang berdiri yang terletak di sudut-sudut kaki candi. Bila diperhatikan patung singa tersebut memiliki mulut yang sedang menganga. Di mulut tersebut terdapat semacam pipa yang merupakan saluran pembuangan air, entah air hujan atau air sesembahan. Bila lebih jeli lagi, singa-singa itu berjenis kelamin jantan. Tahu darimana? Lihat saja (maaf) organ kemaluan singa-singa itu yang dipahat dengan sangat jelas oleh nenek-moyang kita. Selain itu di candi-candi induk juga terpahat relief gajah dan relief manusia. Hmm...apakah relief-relief tersebut mengandung cerita sebagaimana di Candi Sojiwan dan Candi Mendut?

Sejarah Penemuan
Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1864 oleh seorang Belanda bernama Hoepermans. Ia menemukan arca Buddha yang telah rusak dan menduga bahwa masih terdapat “sesuatu yang lain” tersembunyi dibawah sebuah bukit setinggi 2-3 meter. Penggalian secara intensif mulai dilaksanakan pada tahun 1899, dan sejumlah ahli arkeologi Belanda seperti Brandes, Van Erp, dan Vink turut turun tangan membantu penggalian. Van Erp menemukan sebuah struktur bangunan yang memiliki desain unik dan diduga sebagai sebuah candi. Pada tahun 1920, sawah-sawah yang mengelilingi area penggalian dikeringkan dan proses ekskavasi dimulai. Restorasi dimulai dari candi induk di bagian utara dan berhasil mengkonstruksi kembali satu candi induk, walau tanpa atap dan banyak bebatuan candi yang harus dibentuk ulang kembali. Mungkin ini alasannya mengapa dinding candi tersebut terlihat sebagai campuran semen dan batu kali, bukan susunan batu andesit. Proses restorasi dinyatakan selesai oleh Perquin pada tahun 1927.

Taman yang Asri
Kompleks candi ini cukup menarik untuk dikunjungi. Salah satunya karena kompleks candi ini telah tertata dengan apik. Ada taman-taman, bangku-bangku, dan sebuah kolam lengkap dengan teratainya. Adanya dua sungai yang mengapit dua candi tersebut juga menambah kesan alami di kompleks candi ini. Di sore hari anak-anak desa Ngawen kerap bermain di kompleks candi. Sungguh menyenangkan dapat rehat sejenak dari kebisingan kota besar dan menikmati kekayaan sejarah serta harmoni alam di kompleks candi ini.

Mendung...
Cuaca di hari itu mendung, akan tetapi aku pantang untuk mundur. Candi Ngawen memang candi kecil yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Dengan cuaca seperti ini, mungkin saja aku bisa kembali esok hari saat cuaca cerah kembali untuk memotret. Tapi kesempatan, yah...kesempatan ini jarang sekali aku dapatkan. Apakah nantinya disana aku akan memotret atau melakukan hal-hal lain, aku tidak tahu. Yang terpenting hari ini aku akan berkunjung ke Candi Ngawen. Itu saja.
  • wah,, bagus juga ya candinya, sekarang udah jarang bgt maen ke tempat kayak candi gitu. Salam kenal..
    Salam kenal juga Mas Gojeg. Dari candi kita bisa belajar banyak hal mengenai sejarah bangsa kita lho.
    gojegSabtu, 03-Januari-2009, 14:52
  • wah,,,foto2nya bagus2... indah...
    makasi uda ke blogku yah...hehehehe...
    kapan2 aku ke candi2 ah...sepertinya bagus
    terima kasih juga udah mau mampir. kemarin pas liat-liat blog di direktori Kompas MuDA nggak sengaja mampir ke blogmu deh. Keep blogging ya!
    hannaSelasa, 06-Januari-2009, 23:13
  • saya cm mau kkoreksi soal nama x yang anda tulis di atas
    sebab sebelah timur itu x blongkeng bukan x pabelan
    terima kasih
    OOoo...terima kasih buat koreksinya ya mas
    ismulatoSabtu, 30-Mei-2009, 21:13
  • Wah, sayang wis, kalo cerah, foto candi ngawen akan berlatar gunung merapi :p.
    Belum dapet-dapet pas cerah je Maa, piye jal?
    eemSelasa, 28-Juli-2009, 01:27
  • aku lagi nyari info ttg candi Ngawen untuk melengkapi sebuah laporan perjalanan, en mampir blogmu. thanks infonya. Info baru, sandi utamanya itu kurang terjaga kebersihannya, yang berkunjung buang sampah sembarangan. Ayo kita sebarluaskan budaya bersih7 mencintai peninggalan nenek moyang. Salam
    Wah iya ya? pas dulu kesana Candi Utamanya bersih tuh. Ya mari kita sama-sama jaga peninggalan sejarah bangsa kita.
    YulMinggu, 20-Desember-2009, 16:56

Nama
E-Mail  
(tidak wajib)
Blog  
(tidak wajib)
Pesan  
(tag HTML yang diijinkan <b>, <i>, <u>)
Kode Verifikasi