Kebun Salak
Ibu siap berburu salak!Sebagai seorang anak (yang katanya mesti nurut perintah orangtua ;p) baik hati, pada hari Sabtu (15/11/2008) aku mengantar Ibu (yang waktu itu sedang datang ke Jogja) untuk pergi ke kebun Salak. Bagaimana keluargaku bisa sampai punya kebun salak panjang ceritanya, akan tetapi semuanya bersumber dari kegemaran Ibu yang suka salak (maksudnya makan buah salak, bukan suka dengan salak). Seandainya Ibu suka petai atau durian, aku yakin ceritanya bakal berbeda. Ibu juga suka makan mangga, tapi Ibu tidak punya kebun mangga karena Ibu hobi menumpang menanam pohon mangga, di rumah Bandung pun Ibu menanam pohon mangga. Jadi jangan berharap ada artikelku yang judulnya Kebun Mangga (apaan sih?).
Ayo Kita Kemon!
Anyway, lokasi kebun salak itu sebenarnya tidak asing bagiku, tetapi kali ini menjadi sangat asing karena aku kini bertugas mengantar Ibu kesana. Biasanya, yang mengemudikan mobil menuju ke kebun salak adalah Bapak. Akan tetapi karena pada hari itu Bapak tidak ikut serta ke Jogja, alhasil aku yang bertugas mengantar Ibu. Kalian kan tau sendiri kalau aku di mobil menjadi penumpang, maka aku bisa lepas tanggung-jawab menghapal rute perjalanan.
Kebun salak dilihat dari luar.Ibu yang juga hobi
blusukan, sudah menyiapkan bekal dari Bandung, yaitu peta yang dibuat Bapak. Sebenarnya rutenya mudah saja sih, hanya tinggal mengikuti Jl. Palagan Tentara Pelajar sampai hampir di ujungnya. Kalian tau nggak Jl. Palagan Tentara Pelajar? Itu lho, jalan yang sejajar (apa iya?) dengan Jl. Kaliurang yang letaknya berada di sebelah baratnya. Itu jalan yang bermula di dekat Monumen Jogja Kembali dan di sepanjang jalannya banyak berdiri restoran-restoran mewah dan juga hotel Hyatt (ada kenangan tersendiri kalau menyebut nama hotel ini). Cukup penjelasannya, nah yang sulit adalah menemukan jalan kecil yang berbelok ke kiri menuju kebun salak di jalan tersebut. Karena tidak lucu kalau harus tersesat di tengah hutan belantara, aku sudah mengecek kondisi bensin. Persiapan sudah beres, tunggu apa lagi? Ayo kita kemon!
Ayo Kita Sikat!
Singkat cerita, perjalanan naik mobil menelusuri Jl. Palagan Tentara Pelajar berakhir dengan kondisi ”tersasar”. Tapi tidak lama, karena Ibu segera bertanya kepada warga yang kemudian menunjukkan arah ke Girikerto. Dengan memahami kembali peta yang dibuat Bapak, akhirnya (akhirnya) kami sampai ke kebun salak. Kebun salak itu terletak di Desa Girikerto, Dusun Sukorejo, Kab. Sleman, Yogyakarta. Dari jalan aspal menjadi jalan tanah. Dari deretan tembok menjadi deretan duri salak. Tetap saja tidak menyurutkan niat kami berdua untuk blusukan di kebun salak.
Mari memetik salak!Niat untuk membabi-buta salak-salak sirna ketika melihat bahwa pohon-pohon salak disana masih berbuah muda, mungkin baru bisa dipanen pada bulan Desember. Kami menelusuri kebun salak dari ujung ke ujung, mencermati setiap pohon salak satu per satu (hanya di bagian buah dan bukan seluruh pohonnya), dan sampai akhirnya menemukan satu (hanya satu) pohon salak yang berbuah besar, siap untuk dipanen. Pucuk dicinta ulam pun tiba, tapi manusia hanya bisa berencana karena Tuhan yang menentukan, Ibu lupa membawa karung (di rumah hanya ada karung, tidak ada keranjang) yang tertinggal di mobil. Tiada rotan akar pun jadi, salak-salak yang kami petik lantas dimasukkan ke dalam tas punggung yang kubawa (DSLRnya sudah dikeluarkan donk).
Dari satu pohon itu kira-kira kami berhasil membawa pulang sekitar dua puluhan salak besar dan manis rasanya. Aku suka salak, tapi kalau kebanyakan makan aku bisa diare, jadinya aku tidak terlalu berminat dengan hasil rampasan kami di pagi hari itu. Tapi berhubung ada yang menitip salak (siapa ya?), mau-tidak-mau rampasan perang itu harus kami bagi dua. Cukup adillah karena aku mendapat porsi 7 salak. Aku tidak bisa membayangkan kalau saat kami kesana buah-buah salaknya sudah siap panen, bisa-bisa Ibu malah memetik semua buah salak disana. Duh!
Ayo Makan Salak!
Salak pondoh saat masih utuh.Salak yang ada di kebun salak itu adalah salak pondoh. Salak pondoh yang memiliki nama latin
Salacca zalacca, adalah buah khas dari Yogyakarta. Salak berbuah seperti halnya pepaya, yaitu tidak mengenal musim, berbeda dengan buah-buahan lain seperti mangga atau rambutan. Akan tetapi ada suatu masa dimana seluruh salak siap panen secara bersamaan. Harga salak bisa turun drastis ketika sedang musimnya buah-buahan lain seperti pada musim mangga, dan mendadak naik kembali ketika tidak sedang musimnya buah-buahan lain. Sekiranya harga salak panen dari kebun bisa mencapai Rp. 3000 sekilo. Ada dua jenis salak pondoh disana, yaitu salak yang masir dan yang tidak masir. Salak masir adalah salak yang daging buahnya lunak sehingga menempel di bijinya. Salak bisa menjadi masir jika menunggu terlalu lama untuk dipanen.
SALAK PONDOH UENAK RASANYA....OLEH2 KELUAR KOTA YANG SERING KUBAWA SAAT PULANG KE KOTAKU PATI.
SAMPAI SEKARANGPUN SALAK MERUPAKAN SALAH SATU BUAH FAVORITKU.
Guh, udah pernah nyobain salak rebus? Itu resepnya Ibunya Ervan di Bali, uenak lho! Apalagi kalau pake Salak Pondoh, nyam!
teguhSelasa, 31-Maret-2009, 12:11
Sukaaa bgt sama salak pondoh :)
enak manis, sayang di JKT byk dijual palsunya
aseem
jadi kapan saya dikirimi slak ? :)
Kapan ya? Kalau panen, atao mau datang kemari buat metik sendiri dan tertusuk-tusuk duri pohon salak? hehehe.
Ga bayar ??????
kalau dirimu bayar lha...
PeinSabtu, 28-November-2009, 18:46