Street Hunt: Sekilas Solo
Selain
Magelang, ada satu lagi kota yang cukup banyak menyimpan kenangan tentang diriku. Kota tersebut adalah
Solo atau
Surakarta, sebuah kota yang terletak kurang lebih 60 km di timur Yogyakarta. Biasanya aku mendatangi kota tersebut dengan menggunakan kendaraan mobil dengan posisiku sebagai penumpang, bukan pengemudi. Kali ini karena niatku memang untuk blusukan sekaligus mengunjungi
SIEM Expo 2008, maka aku memilih kereta api sebagai alat transportasi dari Yogyakarta menuju Solo. Pada hari Rabu (29/10/2008) pada pukul 11.30, dimulailah petualanganku tersebut.
Tampak depan Museum Radya Pustaka.
Museum yang akhir-akhir ini menjadi terkenal karena kasus
pencurian arca.
Baliho Peta Wisata Kota Solo.
Andaikan baliho seperti ini ditempatkan di sudut-sudut
strategis kota Solo jelas akan memudahkan pelancong.
Rumah Makan Pecel Solo memiliki sebuah meja besar
yang diatasnya tertata apik berbagai macam lauk pelengkap
nasi pecel dengan rasa (dan harga) yang fantastis.
Kalau sudah melihat plang rumah makan ini,
berarti oase untuk perut sudah dekat. PrameksAku berangkat seorang diri dari Stasiun Tugu, Yogyakarta menggunakan kereta api
Prambanan Ekspress (Prameks) yang berangkat pukul 11.15. Akan tetapi karena faktor teknis, kereta tersebut baru diberangkatkan pada pukul 11.30. Prameks merupakan kereta bisnis, dengan harga tiket Rp.7000 dan berhenti di
Stasiun Tugu, Lempuyangan, Maguwo, Klaten, Purwosari, Balapan, Jebres, serta Palur. Cukup menyenangkan naik kereta Prameks, di tengah perjalanan sempat juga kereta melewati Stasiun Brambanan, ah...jadi teringat kenangan
KKN di desa Kebondalem Kidul tercinta.
Aku tiba di
Stasiun Balapan pada pukul 12.30. Dengan berbekal kompas sederhana yang menjadi gantungan kunci dan tentunya modal nekat (hehehe), aku langsung bergerak ke arah selatan untuk menuju
Pura Mangkunegaran. Tapi ternyata jalan ke selatan dari stasiun tidak semulus yang kubayangkan, aku harus berjalan ke arah barat, kemudian ke timur dan menuju ke selatan. Sampai pada akhirnya aku tiba...di
Jl. Slamet Riyadi!
Jl. Slamet Riyadi
Jl. Slamet Riyadi adalah jalan besar dan lebar yang membentang di tengah kota Solo. Aku tidak asing dengan jalan ini, karena aku sering melalui jalan ini dan beberapa waktu lalu aku memotret Kirab Pusaka Dunia di Balaikota yang terletak di ujung jalan ini. Sepertinya Gusti Allah masih sayang kepadaku, aku “tersasar” tidak jauh dari Baliho Peta Turis Kota Solo! (Ternyata aku terlalu jauh berjalan ke arah selatan). Karena sudah mendapatkan panduan jalan yang pasti, aku bisa sedikit santai dan melewatkan waktu dengan memotret suasana di Jl. Slamet Riyadi.
Jalan ini lumayan besar untuk jalan kota dan beberapa ruas diantaranya adalah satu arah. Di sisi selatan jalan terdapat bekas rel yang dahulu kala dipergunakan oleh kendaraan trem pada jaman pemerintahan Belanda. Sisi selatan jalan terdapat trotoar yang luas sekali, mengingatkanku pada trotoar di
Orchard Road, Singapura (kayaknya dulu pernah kesana). Trotoarnya bersih, dicat menarik, tetapi sayangnya tidak banyak orang yang melintas disana. Di sepanjang Jl. Slamet Riyadi juga terdapat bangunan-bangunan yang menarik minatku seperti Museum Radya Pustaka (baru tahu tempatnya disitu) dan bangunan tua semisal toko buku Gramedia. Sayang aku tidak sempat untuk berkunjung ke tempat-tempat itu karena sudah harus melanjutkan perjalanan ke Pura Mangkunegaran.
Pecel Solo
Ada sebuah rumah makan di Jl. Dr. Soepomo yang menarik perhatianku. Rumah makan tersebut bernama Pecel Solo, tepatnya berada di Jl. Dr. Soepomo no. 55, Pasar Beling, Mangkubumen, Solo. Rumah makan tersebut menyajikan menu Pecel Solo dengan rasa yang wah (dan juga harga yang wah juga). Seporsi Pecel Solo dihargai Rp.6000, teh manis panas seharga Rp. 2500, dan gorengan martabak mini seharga Rp.2500. Bukan harga mahasiswa memang, tetapi rasa pecel solonya serta suasana di rumah makan tersebut yang sangat Solo tempoe doeloe sekali pasti membuat anda ketagihan ingin kembali kesana. Ah, aku pertama kali berkunjung ke rumah makan tersebut pada tahun 2005 bersama
Bu Amiek beserta kakak-kakak iparnya. Pada waktu itu Solo sedang diguyur hujan yang rintik-rintik, sehingga mood klasik rumah makan itu menjadi terasa. Untungnya saat aku berpetualang di Solo, cuaca cerah serta langit biru. Hanya pada saat aku hendak pulang saja, baru terlihat mendung perlahan menutupi celah-celah langit kota Solo. Pada pukul 16.09 aku kembali ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta Prameks.
Belum Selesai...
Sebagai kota warisan dunia, sepertinya Solo masih menyimpan banyak keunikan budaya yang pantas untuk kuabadikan ke dalam gambar. Entah kapan lagi aku bisa blusukan ke Solo tetapi yang jelas...petualangan di Solo belum usai...
harganya standar bandung..hehehe
eh ke galabo g??banyak wisata kuliner di sana...
Belum sempet Win...kapan2 ya...eh, kok cuma kamu doang yg rajin ngisi komen???
winkyMinggu, 02-November-2008, 19:33
Bahkan mungkin cuman aku saja yang baca blogmu..hahahaha
sebenernya nggak juga...ada yg tercatat berkunjung dari berbagai host. Kalo mao tau buka ini aja http://wijna.web.id/visitor.txt
winkySenin, 03-November-2008, 09:09
Kalo diteliti (dengan cermat) log IP nya, cuman ada 3 IP yang sering bolak-balik ke webmu:
1. IP ku..
2. IP UGM (kemungkinan ini kamu juga ato paling banter si ipin)
3. Kemungkinan besar IP rumahmu..
hahahaha..peace wis :P
tenang, aku kan setia mengunjungi blogmu dan terus berkomen supaya kamu tetep semangat nulis2, hehehe (g ngefek ya??hahahaha)
oh iya cek juga http://wijna.web.id/tracer.txt, karena ada juga yg langsung lihat artikel tanpa masuk ke halaman index.
winkySelasa, 04-November-2008, 12:42
jadi kangen omah!
Solo memang kota kecil yang menarik sebagai tempat menghabiskan masa tua, yah...kapan2 saya tak kesana lagi, hunting lagi...
zamSenin, 19-Januari-2009, 14:15
Hmmmm................. kayaknya asyik tuh maen2 ke sana, sayang, aq cuma numpang lewat kota itu tuk ke Yogya, wakakkakak..................
weleh2...cuma lewat doang, sekali-kali mampir laah...
PeinMinggu, 17-Mei-2009, 22:57